Ditulis oleh 1:33 pm COVID-19

Perjuangan Menghadapi Covid-19

Kita tidak tahu kapan Covid-19 ini akan benar-benar berakhir. Sambil menunggu, tentu ada banyak hal yang musti kita persiapkan.

Oleh: Sri Lestari Linawati

Detik-detik Titik Balik

Selasa, 17 Maret 2020 saya masuk kampus. Kebetulan kelasnya elearning. Saya melangsungkannya dari ruang kerja saya di lantai 2 sayap selatan gedung A UNISA Yogyakarta. Tidak saya sangka. Itulah hari terakhir kami bekerja dari kampus. Keesokan harinya, 18 Maret 2020, dengan SK Rektor No. 296/UNISA/Au/III/2020 diberlakukan dosen dan karyawan bekerja dari rumah. Work From Home.

Sebagai pegawai, kami mengikuti arahan kampus. Awalnya biasa saja. Mengajar dengan online sebagaimana dilakukan selama ini. Koordinasi dengan mahasiswa di kelas-kelas yang diampu. Kampus pun melakukan screening terhadap pegawai dan mahasiswa, sebagai upaya preventif pencegahan Covid-19. Hal inilah yang coba kami jadikan pegangan dalam masa adaptasi ini. 

Di antara menyiapkan pengajaran Al-Islam Kemuhammadiyahan, saya mencoba merenungi detik-detik terakhir hingga kami tiba di titik Work From Home (WFH) ini. Sabtu, 14 Maret 2020, UNISA Yogyakarta menyelenggarakan wisuda periode Maret 2020. Dengan semangat itu pula, saya berangkat ke Kaliurang untuk mengikuti Pelatihan Baitul Arqam yang diselenggarakan Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Banyuraden. Sekitar 70 peserta dari anggota dan pengurus PRM dan PRA mengikutinya.

Terasa ada sesuatu yang berbeda dengan pelatihan-pelatihan perkaderan Muhammadiyah ‘Aisyiyah sebelumnya. Kami mengikuti materi demi materi dengan tetap menjaga kewaspadaan akan bahaya Merapi yang mulai batuk-batuk, juga kabar wabah corona. Memaksa kami untuk senantiasa melafadzkan dzikrullah. Mungkin juga karena ini diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting.

Saya terharu melihat antusiasme para ibu dan para bapak yang sudah sepuh namun masih semangat mengikuti, semangat dalam belajar. Materinya terangkai dengan apik. Dikelola oleh Majelia Pendidikan Kader Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman. Disebutkan pula bahwa pelatihan ini wajib diikuti oleh segenap anggota di Ranting, meskipun telah mengikuti perkaderan di level atas maupun di tempat kerja. Mengharukan. Saya merasa bahwa seandainya pelatihan semacam ini diikuti oleh segenap pegawai PTMA dan AUM/A, saya yakin bahwa jalannya proses pendidikan dan pengajaran maupun proses usaha akan berjalan lancar dan sukses. Mengapa? Karena ranting adalah ujung tombak gerak persyarikatan.

Tentu saja, pelatihan ini menanamkan rasa persaudaraan pada kami. Hal inilah yang patut kami syukuri pertama ketika kami harus bekerja dari rumah. Ada sebuah refleksi ideology keyakinan pada Muhammadiyah yang menjadi semangat bagi kami untuk menatap dunia yang terus berubah.

Mudahkah Menghadapi Covid-19?

Tentu saja membutuhkan perjuangan. Bukan semudah membalik telapak tangan. Ia adalah proses renungan panjang. Update info Covid-19 menjadi menu harian yang tak boleh ditinggalkan, hingga batas kemanusiaan kita mampu menampungnya. Selebihnya adalah bahwa kita perlu menjaga system imun kita. Jangan sampai update info justru membuat kita lemah tak berdaya.

Satu hal yang sangat menghunjam kesadaran saya adalah Ibu. Ya, Ibu saya telah berusia 74 tahun dan tinggal seorang diri di rumah. Betapapun itu pilihan Ibu dan Ibu merasa nyaman tinggal di rumah sendiri, rumah yang diperjuangkannya sejak awal, tetap rasanya saya kepikiran. Anak kos yang kuliah di Akbid yang terletak di belakang rumah kami, menjadi teman sehari-hari Ibu. Namun karena mahasiswa dan anak sekolah juga diberlakukan belajar dari rumah, jadilah Ibu seorang diri.

Saya mulai gelisah. Pulang pun tidak memungkinkan untuk kondisi saat ini. Menyedihkan bukan? Bukan saja karena kita berpeluang terpapar Covid-19, namun yang juga musti diwaspadai adalah kemungkinan kita menjadi carier Covid-19. Pada saat demikian, bisa jadi kita baik-baik saja, namun virusnya akan mengenai orang-orang yang rentan, yaitu orang tua dan orang yang memiliki riwayat sakit tertentu. Nah, tidak mudah bukan?

Satu hal yang saya inginkan. Saya bisa telpon Ibu, memohon maaf atas segala salah dan khilaf selama ini dan mohon keikhlasannya menghadapi keadaan pandemic covid-19. Lama saya menunggu kesempatan itu. Maklumlah, Ibu hanya bisa menerima telpon apabila ponakan kami mendampinginya. Ancaman serius Covid-19 adalah kematian. Andaipun saat itu datang, saya ingin mendapat ridha Ibu, maaf Ibu. Saya khawatir tidak sempat meminta maaf. Saya terus memohon kepada Allah untuk diberi kesempatan meminta maaf pada Ibu.

Sebulan lalu setelah mengikuti kopdar penulis “Sahabat Pena Kita” di Malang, rencananya saya langsung menuju Jember, sowan Ibu. Namun senin pagi saya harus menunaikan tugas sebagai panitia Baitul Arqam Dosen UNISA Yogyakarta, maka saya urungkan rencana tersebut. “Tunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Besok bila ada kesempatan yang lebih memungkinkan, saya bisa ke Jember sowan Ibu,” pesan Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag., penasehat SPK.

Dan pada kondisi sekarang yang tidak memungkinkan untuk pergi ke mana-mana, tentu saja membuat saya sedikit banyak shock. Akankah masih ada kesempatan bagi saya untuk sowan Ibu? Kapan? Ataukah ini akhir dari segalanya?

Nah, kesempatan telpon akhirnya datang. Ponakan yang seusia dengan anak ketiga kami inilah yang wira-wiri menjenguk Ibu. Dia anak ketiga kakak saya. Rumahnya berjarak sekitar satu kilometer dari rumah Ibu. Rumah Ibu belakang rumah sakit dr. Soebandi Patrang Jember. Rumah kakak di depan rumah sakit. Kesempatan bahagia ini tidak saya sia-siakan. Saya menyampaikan permohonan maaf, sebagaimana yang telah saya rencanakan. “Ya, Ibu juga mengikuti berita. Ibu faham. Ibu memaafkan. Insyaallah Ibu baik-baik saja,” kata Ibu. Lega hati ini. Sejak saat itu, saya menjalankan tugas-tugas yang ada.

Ibu bisa saja jauh di mata, namun tetaplah dekat di hati. Jember-Yogyakarta tidak memungkinkan untuk kami tempuh dalam kondisi seperti ini. Karena itulah, saya tetap menghadirkan Ibu dalam hidup sehari-hari. Apa yang Ibu ingin kami melakukannya saat di rumah, hal itulah yang coba saya lakukan. Menyapu halaman. Mencuci baju. Memasak. Makan bersama suami dan anak-anak. Menyetrika. Ya, maklumlah Ibu saya adalah ibu rumah tangga. Saya bisa memahami bila Ibu menginginkan kami untuk juga melakukan hal demikian. Meskipun tidak mudah, saya tetap mencoba mengamalkannya. Inilah cara saya untuk menghadirkan sosok Ibu dalam kehidupan saya. Saya berharap Ibu bangga pada putri bungsunya.

Menulis Untuk Keabadian

Kuliah online memaksa kita untuk lebih interaktif dalam menjalin komunikasi. Menulis merupakan jawaban atas persoalan itu. Yang saya syukuri dari keberlangsungan kelas online ini adalah bahwa sebelum pemberlakuan WFH, kami telah menyelenggarakan diskusi intensif di kelas teori dan merampungkan hafalan surat pendek Juz ‘Amma di kelas teori. Dengan demikian, setidaknya saya telah mengenal kondisi kelas dan keadaan satu per satu mahasiswa. Ini tentu sangat bermanfaat untuk mengukur ketercapaian target perkuliahan.

Di kelas teori, kami bisa mengasah lebih jauh ketrampilan mahasiswa dalam menulis. Dari jawaban-jawaban yang diberikan mahasiswa, membuat saya semakin yakin akan kemampuan mahasiswa dalam menulis. Mereka hanya memerlukan sedikit sentuhan motivasi dan arahan. Hingga pertemuan ketujuh, pertemuan terakhir sebelum UTS, dialog kami terlihat dan terasa menjadi sangat bermakna. Hidup. Saya justru terharu ketika mereka menyampaikan via whatsapp grup, “Terima kasih, Bu Lina, sudah mengapresiasi jawaban kami dengan membaca dan membalas satu per satu. Sehat selalu, Ibu.” “Terima kasih banyak sudah membaca jawaban kami, jadi terasa tidak sia-sia kita jawabnya. Sehat selalu, Bu.” 

Di kelas praktikum Al-Islam Kemuhammadiyahan, kebetulan materinya tinggal penulisan. Membuat kami, baik saya maupun mahasiswa, sangat terbantu. Setidaknya kami punya rentang waktu yang cukup untuk melakukan proses menulis satu tahap demi satu tahap. Arahan tentang bagaimana sebuah tema harus dituliskan, bisa disampaikan dalam panduan tertulis. Tiap kelas memiliki karakteristik berbeda dengan kelas lainnya, namun sekali lagi, saya bersyukur karena sudah melewati materi hafalan surat pendek.

Saya merasa ini hadiah dari Allah. Mengapa? Karena ketika mengajukan materi hafalan surat pendek di pertemuan satu dan dua, saya tidak berfikir sejauh ini. Saya hanya berfikir bahwa penting memberikan support kepada mahasiswa untuk mempelajari Al-Qur’an lebih dalam. Tanpa adanya kesadaran dan inisiatif dari mahasiswa sendiri, mustahil mahasiswa mau menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai hiasan harian. Kesadaran itu harus dibangun. Inilah saya kira peran penting dosen, yaitu membangun kesadaran mahasiswa untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai basis ilmu pengetahuan.

Belajar Menulis Dengan Menulis

Ujian kedua datang. Saya mendengar kabar bahwa Ibu jatuh. Ya Allah Ya Rabb.. Saya bisa mengerti ketika kakak saya kaget dan menangis. Kakak saya sedang merawat suami dan anaknya yang sedang sakit. Konsentrasi pun terbagi. Apa yang bisa saya lakukan dalam kondisi begini?

Segera saya hubungi ponakan. Saya berharap bisa telpon video call dengan Ibu. “Ibu hanya mau menyiram bunga. Kemarin bunga-bunga itu lupaa belum Ibu siram..” kata Ibu datar. Sambil menghela nafas panjang, saya sampaikan pada Ibu, “Ibu… Ibu banyak istirahat saja. Biarlah urusan menyiram tanaman kan ada Yusron..” Pelan-pelan saya coba sampaikan itu pada Ibu. Saya tahu ibu tidak akan mau tinggal diam. Selalu ada yang ingin dilakukannya. Kata kakak, sekarang ada tetangga yang bantu-bantu di rumah Ibu. Meski begitu, Ibu tetap saja ingin selalu bergerak. Menyiram bunga lah. Menyapu. Mengepel. Alhamdulillah pagi itu lobi sedikit berhasil, ketika saya mengatakan, “Ibu, bila Ibu sampai sakit, kita semua bisa bingung.. Bubar semua acara..” Ibu pun tampak bangkit, “Ya, Ibu sehat. Yakin Ibu akan baik-baik saja. Ibu mendoakan kalian semua, semoga bisa bekerja dengan baik, belajar dengan baik.” Adem hati dibuatnya.

Setalah itu saya merasa bahwa saya ada kemudahan-kemudahan dalam mengkondisikan kelas. Mungkin yang utama adalah karena doa Ibu. Saya yakin kita pernah menemui di kelas ada mahasiswa yang susah dalam menangkap pelajaran, dijelaskan berkali-kali masih saja tidak memperhatikan, bahkan menyalahkan kita. Karena itulah, saya berbahagia ketika kelas-kelas yang saya temui relative mudah dikondisikan, mudah diarahkan. Selain doa Ibu, saya yakin itu juga merupakan kekuatan Al-Qur’an sendiri yang hadir di hati para mahasiswa.

“Bu, bagaimana kami bisa menulis?” tanya mereka. “Tulislah apa yang Anda fikirkan. Jangan Anda fikirkan apa yang akan Anda tulis,” pesan pertama saya. “Tapi kami tidak bisa merangkai kata-kata, Bu..” rajuk mereka. Saya seringkali mengirimkan pada mereka tulisan-tulisan ringan saya. Saya katakana pada mereka, “Kita belajar berjalan dengan berjalan. Kita belajar berbicara dengan berbicara. Kita belajar menyanyi dengan menyanyi. Nah, begitu pula dengan menulis. Kita belajar menulis dengan menulis.”

Kadang pula saya mengajak mereka diskusi, “Siapa Bu Lina yang Anda kenal? Bagaimana tulisan Bu Lina?” Ternyata dari diskusi sederhana semacam ini, mahasiswa termotivasi melakukan hal yang sama. “Ya, Bu, kajiannya ringan, bahasanya sederhana, mengalir saja,” kata mereka. Bila mereka sudah sampai di tahap ini, saya yakin mereka bisa mengikutinya, menulis. Sebagaimana saya dulu juga takut untuk menulis pertama kalinya. Namun ketika sudah menulis, ada sebuah kebahagiaan dan kepuasan. Ternyata menulis hanya butuh latihan dan latihan. Dan lagi, kita jadi ketagihan untuk membaca dan membaca. Membaca dan menulis adalah satu paket kegiatan seorang ilmuwan.

Motivasi Menulis Saat Covid-19

Ancaman kematian seakan musti kita siapkan setiap waktu. Bukan berarti pasrah pada keadaan. Kita wajib ikhtiar, namun kita juga harus tetap waspada, menyiapkan mental menghadapi segala kemungkinan. Kita tidak pernah tahu virus itu menghampirinya dari arah mana.

Bahwa setiap jiwa pasti akan mati, itu jelas tertulis dalam Al-Qur’an. Pertanyaan pertama, apakah bekal kita hidup di akhirat sudah cukup? Inilah pentingnya mengisi hari-hari yang ada dengan banyak-banyak melakukan amal shalih. Kita seakan berjalan mundur, hingga hari yang kita tidak pernah tahu sampai kapan.

Pertanyaan kedua adalah apakah kita rela ilmu, pengalaman dan ketrampilan kita ikut terkubur bersama jasad kita? Sesungguhnya kemajuan pengetahuan itu bertahap. Dilakukan penelitian demi penelitian. Sepanjang waktu dan sepanjang masa. Kita perlu membangun Indonesia. Negri gemah ripah loh jinawi ini perlu dikelola dengan baik dan benar, agar tecipta sebuah masyarakat yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Sistem pemerintahan harus berjalan dengan baik. Sektor pendidikan, ekonomi, hukum, politik, social kebudayaan perlu kita kembangkan sedemikian rupa. Inilah PR kita bersama.

Kita tidak tahu kapan Covid-19 ini akan benar-benar berakhir. Sambil menunggu, tentu ada banyak hal yang musti kita persiapkan. Menjaga diri tetap sehat. Memastikan suami dan anak-anak di rumah baik, bisa makan, bisa belajar, menegakkan shalat lima waktu, mengaji juga merupakan pekerjaan yang tidak boleh kita abaikan. Tak semudah membalik telapak tangan memang, namun yakin BISA. Wallahul musta’an.


Penulis adalah Dosen UNISA Yogyakarta, Pembina UKM Hizbul Wathan Kafilah UNISA Yogya, Pengelola Asrama UNISA, dan Pengurus ALAIK PTMA (Asosiasi Lembaga Al-Islam kemuhammadiyahan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah). Buku solo perdananya, Januari 1997, “Menggerakkan Irmawati”. Buku solo keduanya, Mei 2018, “Bahasa Arab di Mata Santri ABG: Studi Persepsi Pembelajaran Bahasa Arab Siswa SMP Ponpes Modern MBS Yogyakarta”. Buku antologinya antara lain “Resolusi Menulis” (Mei 2017), “Mendidik Anak di Era Digital” (Oktober 2017), “Virus Emcho” (Desember 2017), “Perempuan Dalam Pusaran Kehidupan” (Maret 2018), “Sahabatku Inspirasiku” (Maret 2018), “Belajar Kehidupan” (Januari 2019), “Literasi di Era Disrupsi” (Juli 2019), “Moderasi Beragama”, “Sejuta Alasan Mencintai Indonesia”, “Guru Pembelajar Bukan Guru Biasa” (Januari 2020), “Virus Emcho Melintas Batas Ruang Waktu” (Maret 2020), “Mengenang Sang Guru” (April 2020).

(Visited 143 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 21 April 2020
Close