Ditulis oleh 1:35 pm PENDIDIKAN

Perlakuan Yang Tepat Terhadap Anak Dalam Pendidikan Keluarga

Pola asuh dalam keluarga harus didasari oleh kasih sayang dan kemesraan serta penerimaan anak sesuai dengan kemampuannya.

Dalam pandangan Islam, anak adalah amanah yang dibebankan Allah SWT kepada orangtua. Dalam kaitannya dengan amanah pendidikan anak, orangtua berperan dalam : (a) memelihara kesehatan fisik dan mental anak, (b) meletakkan dasar kepribadian anak, (c) membimbing dan memotivasi anak, (d) memberikan fasilitas yang memadai, dan (e) menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan kondusif bagi pengembangan diri anak.[1] Perilaku anak biasanya merupakan cermin bagaimana anak tersebut diperlakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Pengalaman orangtua mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku anak akan sangat membantu dalam mengkondisikan anak dalam pembentukan perilakunya. Dengan kata lain, apa yang dilakukan orangtua akan diikuti pula oleh anak-anaknya.[2] Oleh sebab itu, penting bagi orangtua untuk mengenal dan memahami pola asuh yang diterapkan pada anak-anaknya, sehingga tidak merugikan anak untuk masa-masa yang akan datang.

Pola asuh dalam keluarga harus didasari oleh kasih sayang dan kemesraan serta penerimaan anak sesuai dengan kemampuannya.  Ada beberapa perlakuan yang kurang menguntungkan perkembangan anak-anak dan remaja; yaitu :

a. Orangtua yang terlalu melindungi (over protective)

Karena satu dan lain hal, ada orangtua yang dalam mendidik anak terlalu melindungi yang mengakibatkan anak-anak kurang mandiri. Orangtua yang over protective, penyebabnya bisa bermacam-macam; mungkin karena ia anak satu-satunya yang laki-laki atau yang perempuan, karena anak tunggal, anak bungsu atau sulung, dan sebagainya. Akhirnya anak merasa selalu mendapatkan perlindungan dan kurang memiliki keyakinan dan senantiasa tergantung kepada orang lain.

b. Orangtua yang menolak kehadiran anak (rejective)

Dalam kehidupan modern ini sering dijumpai pasangan pengantin yang belum menginginkan kelahiran anak, tetapi Allah Yang Maha Pemurah telah berkenan memberikan amanah berupa anak yang mungil. Apalagi sering terjadi adanya pasangan muda mudi yang nikah karena “kecelakaan” akibat pergaulan bebas. Dalam kasus yang seperti ini, baik salah satu atau mungkin juga keduanya (suami dan istri) secara sadar ataukah tidak menunjukkan ekspresi penolakan terhadap kelahiran anak. Perlakuan yang seperti ini akan menyadarkan anak bahwa kelahirannya tidak diharapkan dan mengganggu kebahagiaan orangtua.

Kesadaran yang seperti ini akan membuat anak merasa rendah diri dan merasa kurang berarti kehidupannya. Bagi anak yang berpotensi agresif, maka akan menunjukkan sikap perlawanan yang tidak jarang akan membahayakan dirinya dan atau orang lain. Mereka inilah yang sering disebut sebagai anak-anak dan remaja nakal yang selalu membuat keributan yang meresahkan lingkungan sekitarnya.

c. Orangtua yang bersifat serba boleh (permissiveness)

Sebagai kelanjutan orangtua yang selalu melindungi anak, berkembang sifat manja kepada orangtua. Sebagai contoh orangtua yang selalu memanjakan anak dengan bersikap serba boleh dengan apa yang diinginkan anak, terlepas apakah hal itu melanggar norma-norma sosial ataukah tidak. Berbuat apa saja diperbolehkan asalkan anak senang dan terpuaskan atas apa yang diinginkannya. Dalam kejadian yang seperti ini, sering terjadi perbedaan sikap antara ayah dan ibu. Yang paling banyak memberikan kebebasan adalah ibu, sedangkan ayah kadang lebih rasional dalam menyikapi anak. Memanjakan anak (indulgence) yang tak mengenal batas pada akhirnya akan merugikan perkembangan anak sendiri, di samping juga orangtua.

d. Orangtua yang menjadi anak buah (submissive)

Karena orangtua tidak mampu mengendalikan keinginan anak, akhirnya anak dominant dalam kehidupan keluarga. Apa saja yang diminta harus tersedia, tanpa mengenal tidak dalam kehidupannya. Dalam kondisi yang seperti ini, orangtua telah menjadi “anak buah” dari anak-anaknya. Orangtua telah dijadikan “budak” oleh anak-anaknya sendiri agar selalu menuruti kehendaknya. Ingat, salah satu ciri dunia telah mendekati kiamat menurut Nabi Muhammad SAW adalah ketika anak sudah berani memperbudak orangtuanya.

e. Orangtua yang selalu menguasai anak (dominant)

Dalam masyarakat banyak juga orangtua yang merasa lebih banyak tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya, sehingga cenderung “menguasai” anak. Sikap yang seperti ini biasanya tanpa disadari. Sebagai contoh, ketika anak menginjak usia remaja ada temannya yang mengajak belajar bersama. Orangtuanya langsung menjawab bahwa anak-anak sedang bercengkerama dengan keluarganya. Di sini nampak orangtua cenderung menguasai anak. Akan lebih bijaksana jika orangtua mempertemukan anak dengan temannya untuk memberikan argumentasi atas penolakan itu. Dominasi orangtua sangat mempengaruhi kejiwaan anak-anak. Dalam pergaulan mereka akan cenderung menguasai atau mendominasi orang lain.

f. Orangtua yang ambisius

Ambisi orangtua atas perkembangan anaknya sangat nampak dalam dunia pendidikan. Betapa banyak orangtua yang memaksakan pilihan sekolah anaknya atau pilihan jurusan yang akan dipilihnya. Anak dalam belajarnya terlalu banyak didikte orangtua. Akhirnya anak kurang bergairah dalam belajar. Oleh karena itu orangtua harusnya memberikan kesempatan dan pilihan kepada anak untuk menentukan sendiri arah dan tujuan hidpnya.

g. Orangtua yang menganakemaskan (favoritism)

Secara sadar ataukah tidak, orangtua sering membeda-bedakan perlakuan antara anak yang satu dengan yang lainnya. Ada anak yang selalu dituruti segala keinginannya, sementara ada anak yang dikekang atau kurang diperhatikan. Perlakuan yang seperti ini akan merugikan kedua anaknya baik yang terlalu dimanjakan maupun yang kurang mendapatkan perhatian. Bagi anak yang terlalu dimanjakan akan kurang mandiri, sedangkan bagi anak yang kurang mendapatkan perhatian akan merasa rendah diri. Efek negatif yang muncul adalah anak akan menjadi pemberontak baik yang selalu dimanjakan maupun yang kurang mendapatkan perhatian.

Selanjutnya, dijelaskan bahwa perlakuan yang paling baik adalah menerima anak (acceptance) sebagaiamana adanya. Terimalah anak dengan segenap eksistensi diri mereka sendiri. Orangtua harus menyadari bahwa anak tidak sama, demikian juga penerapan perlakuan terhadap mereka. Untuk belajar menerima anak apa adanya tidaklah mudah, terutama pada anak yang berkonotasi “kurang”; baik kurang pandai, kurang lengkap atau difabel, lamban, dan kekurangan-kekurangan yang lain. Biasanya orangtua sulit menerima keadaan anak yang berkonotasi kurang sebagaimana di atas.

Orangtua akan berusaha menutup-nutupi kekurangan yang ada, sehingga anak yang menjadi korban dalam perkembangannya. Mereka kurang dapat berkembang secara maksimal, sehingga potensi yang memang sedikit di bawah rerata akan semakin tertutup pengembangannya. Memperlakukan anak sebagaiamana mestinya menuntut orangtua untuk tidak membanding-bandingkan keberhasilan anak yang satu di depan anak-anak yang lain. Barangkali sikap ini maksudnya baik —- yang kurang baik belajarnya dapat mencontoh saudaranya yang berhasil—– namun dalam praktik kehidupan keluarga senyatanya perlakuan yang seperti ini justru merugikan anak.  

Selanjutnya, perlakuan yang tepat kepada anak dalam keluarga dapat mengambil  ibrah dari pendidikan yang dilakukan Lukman el-Hakim kepada putranya. Ada empat aspek pribadi anak yang harus dikembangkan dalam pendidikan keluarga; yaitu pendidikan aqidah, pendidikan ibadah, pendidikan akhlak, dan pendidikan dakwah.[3] Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Pendidikan Aqidah

Lukman el-Hakim menyadari bahwa pendidikan aqidah perlu ditanamkan kepada anak-anak sedini mungkin. Anak diajak untuk mengenal Allah SWT dengan memperkenalkan bermacam-macam ciptaan Allah Yang Maha Rahman. Pendidikan tauhid sangat penting sebagai modal dasar bagi anak dalam menjalani roda kehidupan nanti, sebagaimana firman-Nya : ”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar”.[4]

Lukman menanamkan keyakinan kepada anaknya bahwa apa saja yang dikerjakan manusia, betapa pun halus dan kecilnya, tidak luput dari pandangan Allah. Buruk dan baik semua akan dicatat dan diberi balasan yang adil. Dilanjutkan dalam firman-Nya: ”(Luqman berkata) : ”Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.[5]

b. Pendidikan Ibadah

Setelah rasa aqidah ditanamkan kepada anak, Lukman mengajaknya membiasakan dirinya melakukan ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sesuatu, betapapun ringannya kalau tidak dibiasakan akan terasa berat. Sebaliknya sesuatu yang berat kalau dibiasakan akan terasa ringan. Pertama Luqman menyuruh anaknya mendirikan shalat karena shalat adalah tiang agama sekaligus sebagai barometer ketaqwaan seseorang kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya :

”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesunguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.[6]

Sudah barang tentu disiplin ibadah baru bisa didirikan di tengah keluarga apabila kedua orangtuanya terlebih dahulu melaksanakannya. Disiplin yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua akan meninggalkan bekas yang dalam dan lama, hingga nantinya anak tidak mudah tergoda untuk meninggalkan perintah-perintah Allah SWT.

c. Pendidikan Akhlak

Suatu tugas betapa pun kecil dan sederhananya, pasti memiliki konsekuensi dan resiko. Resiko seorang penggerak dakwah (da’i) adalah mendapatkan tantangan dari masyarakat atau pribadi yang tidak senang terhadap dakwah Islamiyah itu. Untuk itu seorang da’i harus siap mental menerima segala macam cobaan; tidak mundur dan patah semangat, harus memperlihatkan akhlak seorang yang teguh iman dan sabar. Luqman mengingatkan anaknya untuk bersabar menerima segala macam cobaan, dalam komunikasinya dalam hidup bermasyarakat : ”…. dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” .[7]

Manusia menurut pandangan Allah SWT memiliki nilai dan kedudukan yang sama. Tidak ada perbedaan antara bangsa kulit putih dengan kulit berwarna. Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang ’Ajam. Allah SWT tidak menilai seseorang dari tampan rupa atau gagahnya penampilan fisik, tetapi Allah hanya melihat hati dan amalan. Oleh karena itu, sangat tidak beralasan bagi seseorang untuk berbuat sombong kepada orang lain. Seseorang harus menghormati orang lain. Yang tua dihormati, yang muda disayangi. Sesama besar saling menghargai. Kata Luqman: ”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)…”.[8]

Cara berjalan pun harus diperhatikan. Berjalanlah secara sederhana. Jangan terlalu menengadah seperti orang angkuh, dan jangan pula terlalu menunduk seperti orang patah hati, tetapi sederhana, pertengahan antara keduanya. Begitu juga cara berbicara, sekadar didengar orang yang diajak berbicara saja, jangan keterlaluan, terlalu keras atau terlalu lambat. Sejelek-jelek suara adalah suara keledai, demikianlah kata Luqman memberikan contoh kepada anaknya. ”Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.[9]

d. Pendidikan Dakwah

Lukman menanamkan kepada anaknya sifat keberanian menyatakan kebenaran, dan mengajak orang untuk melaksanakannya, serta keberanian menunjukkan mana yang salah dan melarang orang untuk mendekatinya. Inilah sikap penggerak dakwah yang tidak mementingkan dirinya sendiri, melainkan juga memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Apabila setiap orang berusaha amar ma’ruf dan nahi munkar tentu dunia ini akan penuh dengan kedamaian, silang sengketa akan dapat diatasi. Perhatikan kata Luqman berikutnya kepada anaknya : ”…. Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar….”.[10] 


[1] Hibana S. Rahman, Pendidikan Anak Usia Dini, hlm.100-101.
[2]Azam Syukur Rahmatullah, Psikologi Kemalasan, hlm.49.
[3] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, hlm.179-183.
[4] QS Luqman, 31;130
[5] QS Luqman, 31:16
[6] QS Luqman,31:17
[7] QS Luqman, 31:17
[8] QS Luqman,31:18
[9] QS Luqman, 31:19
[10] QS Luqman, 31:17

(Visited 175 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 31 Mei 2020
Close