17 C
Yogyakarta
15 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Perubahan Iklim Mempengaruhi Keanekaragaman Hayati, Benarkah Itu?

Suatu studi mengatakan bahwa perubahan iklim dapat mempengaruhi keadaan keanekaragaman hayati. Apa buktinya? Menurut mereka jawabannya ada di masa lalu. Digambarkan bahwa dengan melihat kepunahan terbesar di masa lalu, kita dapat memahami bagaimana perubahan iklim dapat berdampak pada masa kini dan juga pada masa depan nanti.

Perubahan Iklim Paling Ekstrim

Sekitar 252 juta tahun yang lalu, peristiwa kepunahan masal hampir membunuh seluruh kehidupan di muka Bumi ini. Pada rentang waktu Permian-Trias ini, sekitar 70% spesies darat dan 96% spesies laut punah. Hutan-hutan juga mengalami nasib serupa dan butuh waktu sekitar 10 juta tahun untuk kembali pulih seperti sediakala. Tidak hanya makhluk besar yang mengalami kepunahan massal, bahkan serangga pun juga banyak yang punah.

Apa penyebab kepunahan masal ini? Ilmuwan memiliki beberapa pandangan, diantaranya dampak asteroid, aktifitas vulkanik yang ekstrem, hilangnya oksigen di dalam lautan, dan bahkan ada beberapa yang mengemukakan pendapat bahwa matahari mungkin redup ketika tata surya kita melewati lengan spiral Bimasakti. Namun terdapat satu yang dianggap paling mungkin menyebabkan kepunahan pada masa Permian ini, yaitu perubahan iklim.

Dikatakan bahwa suhu Bumi memanas secara cepat dan signifikan. Hal ini mungkin disebabkan oleh aktivitas vulkanisme kendati Perangkap Siberia (Siberian Traps) meletus pada rentang waktu itu, dan dapat menutupi area seluas Amerika Serikat di bawah satu kilometer di bawah material letusannya. Letusan ini juga melepaskan sejumlah besar karbon yang setara dengan jumlah karbon yang akan dilepaskan jika semua bahan bakar fosil di planet ini dibakar 2,5 kali lipat.

Dengan adanya peristiwa semacam ini, suhu dari planet ini akan naik secara dramatis, dan dalam waktu tersebut, air di permukaan lautan bisa mencapai suhu 40 derajat Celcius, atau 104 Fahrenheit, yang dapat merebus apa saja yang ada didalamnya.

Keanekaragaman Hayati dan Masa Depan

Kini, sebagian besar daerah yang dipenuhi oleh keanekaragaman hayati berada di dekat khatulistiwa. Negara-negara seperti Brasil, Ekuador, Filipina, Republik Demokratik Kongo, dan Papua Nugini, memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang sangat menakjubkan. Dalam studi yang dilakukan, ilmuan mengemukakan bahwa daerah ini dahulu yang kehilangan kehidupan dalam skala yang besar.

Studi tersebut meneliti keanekaragaman hayati planet ini sebelum dan sesudah kepunahan Permian-Triassic, dan menemukan bahwa area di dekat garis khatulistiwa menjadi terlalu panas, dan tingkat kehidupannya turun secara signifikan. Bahkan didalam laut juga kosong akan kehidupan, tidak seperti saat ini.

suatu perubahan iklim dapat merusak keanekaragaman makhluk di wilayah itu

Penelitian baru ini mengatakan bahwa dengan berkaca pada zaman dimana iklim sangat ekstrem, suatu perubahan iklim dapat merusak keanekaragaman makhluk di wilayah itu. Pun di jaman modern ini. Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia menyebabkan planet lebih hangat, walau tidak separah yang terjadi di masa Permian, tetapi sangatlah penting untuk memahami apa yang akan terjadi nantinya.

Dengan melihat planet yang memanas dengan cepat, kita dapat “menerawang” ke masa depan wilayah-wilayah yang dahulu mengalami kepunahan itu dan resiko yang sangat nyata bagi spesies yang hidup di sana jika pemanasan terus terjadi.

Tidak hanya pada makhluk-makhluk lain, manusiapun juga tentunya akan terpengaruh oleh perbuatannya sendiri. Contoh paling dekat adalah pandemi COVID-19 ini yang dikatakan oleh beberapa ilmuan datang dari kelelawar, yang lingkungannya banyak diambil dan dirusak oleh manusia.

Apakah pada akhirnya manusia yang menjadi “pengakhir” dari keanekaragaman hayati dunia dan manusia sendiri? (Sumber situs forbes)

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA