Ditulis oleh 8:06 am KALAM

Pesan Agama dan Keterbatasan Bahasa Manusia

Manusia sebagai mutakallam tidak pernah menggapai hakikat makna kalam paling esensial sebab eksistensi manusia dibatasi oleh dunianya sendiri, yaitu dunia bahasanya.

Peradaban Islam muncul sebagai fakta sejarah bahwa manusia disapa Tuhan (lewat al-Qur`an) melalui bahasa-Nya. Persoalan Tuhan menurunkan Kitab Suci ini bukanlah persoalan sederhana.  Inilah pada hakikatnya yang dimaksud dengan wahy sebagai firman Tuhan. Al-Qur`an sebagai wacana Ilahiah, dipahami dan disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. kepada umatnya, dan wahy tersebut merupakan konsep tentang persoalan bahasa. Bagaimana bentuk perwujudan agama ini bisa dipahami, disampaikan, dan bagaimana bentuk performancenya bisa didekai lewat bahasa. Persoalan mengenai bahasa itu sendiri sejak penciptaan Adam menjadi ajang perdebatan yang tidak pernah ada putusnya, baik di kalangan teolog, filsof maupun ahli bahasa.

Tidak ada pengetahuan tanpa bahasa dikarenakan bahasa memproduksi makna, termasuk  makna agama. Hanya, makna adalah hasil signifikasi terhadap tanda, meskipun makna kadang hadir berdasar dugaan yang tidak jarang bersifat kabur dan krusial.  Ada kalanya makna dipahami bukan sebagai elemen agama, ada kalanya dikenal sebagai bagian dari ilmu pengetahuan. Bisa jadi dipungkiri, bahwa makna bisa dicari tanpa menggunakan agama. Namun, menurut Holmes Roston, jika dillihat dari kacamata historis sampai abad keduapuluh, kebudayaan sebagai sebuah sistem makna, akan senantiasa berjalin dengan agama. Bagaimanapun, agama itu tentang makna, bukan tentang sebab, dan makna itu hanya dicari oleh manusia.

Semenjak Al-Qur`an ditransformasikan dan ‘dibumikan’ melalui bahasa Arab (bi lisan ‘Arabiy mubin), maka dalam menggapai pemaknaan yang signfikan atas ayat ‘tanda-tanda’ senantiasa dipertanyakan mengenai apa dan bagaimana cara memahaminya dengan benar. Berbagai jalan dan metode memahaminya terus dikembangan mulai  dari cara-cara bi al-ma’sur (self reference) yang dilakukan ulama salaf sampai kepada metode hermeneutika oleh pemikir modern. Wacana dalam Al-Qur`an terus dipertanyakan. Betulkah demikian. Tentu saja, karena selain memuat fakta-fakta diakronis, setiap saat tentunya Al-Qur`an juga mampu menyuguhkan muatan yang sinkronis sejalan dengan kepentingan petunjuk bagi perbaikan umat saat ini. Jika kitab suci (Al-Qur`an) selalu bisa dipertanyakan, sertamerta ilmu pengetahuan pun, termasuk bahasa lebih memungkinkan untuk diperdebatkan dan didiskusikan. Bahasa sebagai ilmu belum menjadi postulat final sebagaimana Albert Einstein yang akhirnya sampai kepada teori kenisbian dan bahwa semua yang ada adalah relatif. Ia sampai kepada kesimpulan perlunya ilmu pengetahuan dan agama harus saling mengisi dan bersinergi.      

Agama dalam bentuk luarnya tercermin dalam dunia tuturan kitab suci (baca, teks) dan dunia perilaku. Dua hal inilah yang secara fenomenal biasa dibaca dan dimaknai oleh bahasa manusia. Selain sebagai medium untuk mengekspresikan keberadaan Tuhan, bahasa berada pada setiap perilaku hamba dalam menjalin komunikasi denganNya dalam berbagai bentuk symbol dan isyarat. Ada bahasa lisan dan ada pula bahasa tubuh, dalam pengejawantahan pesan dari langit. Adapun wahy beserta bentuk konjugasinya telah menjadi istilah teknis dalam terminologi Islam, khususnya jika  merujuk komunikasi pesan Ilahi kepada para nabi.

Di dalam Al-Qur`an sendiri, penggunaan kata wahy dan  konjugasi verbanya tidak hanya dibatasi pada para nabi, tetapi juga digunakan secara umum untuk melukiskan bentuk hubungan komunikasi  yang dijalin antara Tuhan dengan makhluk-Nya, antara nabi dan kaumnya, dan antara sesama manusia. Dalam sejarah pemikiran Islam, persoalan mengenai hakikat wahy, apakah dalam bentuk verbal atau sekadar ide, merupakan masalah yang telah menimbulkan perdebatan panjang. Sebagai sebuah misteri teologis, ia sulit  dipahami oleh pikiran manusia, sesuatu yang misterius dan karena pembicaranya Tuhan dan pendengarnya manusia.

Wahy secara semantik sama dengan firman (kalâm) Allah, dan kalau bukan, Al-Qur`an tentu tidak akan menggunakan kata kalâm dalam proses wahy. Al-Qur`an sendiri menegaskan bahwa ia diwahyukan secara verbal meskipun di sisi lain ia juga menekankan kaitan intimnya dengan pribadi, hati, dan pikiran Nabi Muhammad saw (al-kalâm bi al-quwwah). Menyebut istilah  lain, kalâm Allah itu lahir dalam hati dan pikiran Nabi Muhammad saw sehingga perwujudannya dapat dikembalikan kepadanya (al-kalâm bi al-fi’l). Fazlur Rahmân sendiri juga berkesimpulan bahwa al-Qur`an itu adalah kalâm ‘firman’ Allah, dalam arti, perkataan biasa dan juga disebut perkataan Muhammad. Dan tiadalah yang diucapkannya itu memperturuti hawa nafsunya (an-Najm 3)

Oleh sebab itu, sulit menolak kesimpulan bahwa sekalipun kalâm Allah tersebut merupakan sesuatu yang misterius dan tidak memiliki kesamaan dengan bahasa dan perilaku manusia, tetapi karena secara bahasa adalah perkataan, tentunya itu juga memiliki semua sifat-sifat penting perkataan manusia. Oleh karena kesempurnaan berpikir manusia dicapai melalui bahasa, maka ada dua konsekuensi. Pertama, wahy tersebut dimanifestasikan  dengan bahasa manusia. Kedua, wahy tersebut harus memiliki  karakter khusus, yaitu muatannya bersifat absolut dan pemahamannya bersifat relatif. Karakter inilah yang disebut Shahrur sebagai kemutlakan bentuk linguistik (śabât an-naşş), yaitu berupa teks, sedang pemahamannya bersifat relatif.

Di antara faktor kegagalan dalam menghayati pesan agama, selain oleh kelemahan bahasa itu sendiri yang tidak mampu menangkap makna esensial dari pesan agama, juga oleh pengalaman eksternal yang sulit dituturkan. Seandainya bahasa bisa mengekspresikan semua pengalaman manusia, dan semua peristiwa Nabi Muhammad saw di Sidratul Muntaha dapat diekspresilkan lewat bahasa, sebagian rahasia langit akan terkuak oleh manusia. Kenyataannya, sorga dan neraka hanya bisa digeneralisir lewat ungkapan-ungkapan sederet kata yang semua serba terbatas. Sampai kini, orang mengalami kesulitan dalam  menerjemahkan atau mengalihkan kata   taqwa atau kata nikah sebagai salah satu terma agama ke dalam bahasa lain.  Kadang pula, makna ketuhanan mungkin akan lebih mudah terungkap dalam perilaku keagamaan  dari pada lewat bahasa verbal.

Untuk itu, layak kiranya dipertimbangakan kembali tatkala membicarakan bahasa dan korelasinya dengan agama, sebab begitu eratnya hubungan agama dengan bahasa, bahkan semua kitab suci yang diturunkan Tuhan di  muka bumi memiliki fitur yang nyaris sama, yaitu pesan-pesan yang tersembunyi di balik bahasa. Bahasa Suryani, Ibrani dan bahasa Arab merupakan bahasa-bahasa yang kental dengan nuansa agama.  Bahasa juga difungsikan sebagai media bagi wacana keagamaan yang tentunya bisa menyangkut bahasa komunitas manapun sepanjang untuk membicarakan dan mendiskusikan persolan agama (language and religion).

Dalam sejarah pemikiran Islam, gagasan tentang hakikat wahy yang diterima Nabi, apakah dalam bentuk verbal atau sekadar ide, merupakan salah satu masalah yang telah menimbulkan kontroversi yang berkepanjangan. Disebut oleh al-Jurjani, bahwa pemilik tuturlah yang paling mengetahui, mengerti,  dan memahami tuturnya sendiri. Apa yang disampaikan Jurjani tidak lain  bagian dari analogi kalam nafsy yang memandang hanya Tuhan yang mengetahui makna kalam-Nya. Sebab, Tuhan adalah sumber kalam dan Ia berperan sebagai Mutakallim. Manusia sebagai mutakallam tidak pernah menggapai hakikat makna kalam paling esensial sebab eksistensi manusia dibatasi oleh dunianya sendiri, yaitu dunia bahasanya.

(Visited 331 times, 8 visits today)
Tag: , Last modified: 11 Mei 2020
Close