Ditulis oleh 7:18 pm COVID-19

Pesan Rasulullah Saat Menghadapi Wabah

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu,” (HR. Bukhari)

Umat manusia di seluruh dunia saat ini dihadapkan pada sebuah pandemi global yang berasal dari virus Corona atau Covid-19. Virus ini sudah menyerang hampir semua negara di dunia, dengan jumlah kasus positif sedikitnya 486 ribu orang dan membuat 22 ribu lebih meninggal dunia.

Berbagai langkah diambil oleh negara-negara dalam memerangi virus ini. Ada yang melakukan karantina atau lockdown, seperti China, Inggris, Italia, Spanyol dan negara-negara lainnya. Indonesia sendiri memilih melakukan rapid test kepada sebanyak-banyaknya warga yang memiliki potensi terjangkit Covid-19. Selain itu pemerintah juga menghimbau dilakukannya social distancing dan physical distancing, dengan meminta warga untuk tidak keluar rumah.

Dunia Islam sebenarnya pernah memiliki pengalaman dalam penghadapi wabah yang bisa kita jadikan rujukan. Dikutip dari Okezone.com, al kisah pada saat masa kepemimpinan Umar Bin Khattab RA, terjadi wabah Tha’un yang menyerang daerah Amwas, kota di sebelah barat Yerusalem, Palestina – dan sudah menjalar sampai Syam (Suriah).

Suatu hari, Sayyidina Umar bin Khattab ingin melakukan perjalanan menuju Syam. Lalu kemudian ia mendengar adanya wabah Tha’un di Amwas. Ia dan rombongan memikirkan kembali langkahnya untuk terus lanjut ataukah kembali ke ibu kota.

Singkat cerita, setelah melakukan perundingan dengan para sahabat yang lain, ia akhirnya memutuskan kembali ke ibu kota Madinah Al Munawwaroh. Sang Khalifah menjalankan pesan Nabi Muhammad yang berbunyi: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu,” (HR. Bukhari).

Sebetulnya ia juga mengajak Abu Ubaidah Bin Jarrah yang saat itu menjadi gubernur Syam untuk pergi meninggalkan daerah terdampak wabah Tha’un. Akan tetapi Abu Ubaidah menolak karena ia tak mungkin meninggakan rakyatnya yang kesusahan. Hingga akhirnya beberapa waktu kemudian Abu Ubaidah meninggal karena wabah Tha’un tersebut.

Setelah sepeninggal Abu Ubaidah, Muadz Bin Jabbal menggantikannya sebagai gubernur. Namun, tak berselang lama setelah masa peralihan itu, ia dan keluarganya harus meninggal juga karena wabah tersebut.

Akhirnya, Umar Bin Khattab menetapkan Amr Bin Ash sebagai gubernur baru. Tak butuh bagi Amr Bin Ash untuk menyelesaikan wabah ini. Ia menyerukan kepada seluruh penduduk untuk melakukan isolasi diri masing-masing. Amr berkhotbah di depan rakyatnya dan memerintahkan agar pergi jauh hingga memencar ke berbagai penjuru. Ada di antara mereka yang pergi ke gunung, bukit, dan ke daerah-daerah terpencil.

Menurut Amr, jika semua orang terpisah dan terpencar maka wabah tidak akan dapat menyerang manusia lebih luas lagi. Akhirnya wabah Tha’un itu langsung terselesaikan.

Mungkin langkah yang diambil Amr saat ini kita kenal dengan social distancing. Setiap orang melakukan isolasi secara mandiri, menjaga jarak fisik dengan orang lain, sehingga penularan virus tidak semakin meluas.


Sumber: Diolah dari berbagai sumber

(Visited 998 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 29 Maret 2020
Close