Pesan Tersembunyi Wabah Covid-19

icon catatan redaksi
Gelombang perubahan tengah terjadi, mungkin di luar jangkauan yang dapat kita pikirkan. Sebagai suatu peristiwa dunia, mustahil apa yang kini terjadi tidak memuat pesan-pesan penting.

Catatan Redaksi

Awal Maret lalu, tepatnya pada 2 Maret, pemerintah secara resmi mengumumkan ada dua orang warga Indonesia yang dinyatakan positif Covid-19. Pengumuman tersebut, seperti petir yang menyambar di siang bolong, mengejutkan, meskipun mungkin telah banyak yang menduga. Mengejutkan karena sebelumnya ada pernyataan optimis bahwa Covid-19 tidak akan masuk Indonesia. Enam puluh dua hari setelahnya, dari 2 menjadi 10.551 dan pada hari yang sama ditingkat dunia tercatat angka 3.400.829. Yang berubah bukan hanya angka, tetapi hidup dan kehidupan. Belum tersedianya obat, membuat upaya yang harus dilakukan, tidak saja memperkuat layanan medis, tetapi justru melakukan pengendalian pergerakan orang, dalam rangka pengendalian penyebaran wabah. Inti sari pengendalian sosial adalah mengendalikan jumlah korban yang harus pergi ke rumah sakit. Sebab, jika jumlah korban yang masuk rumah sakit membludak, maka dapat dipastikan rumah sakit akan kolaps, alias tidak mungkin mampu memberikan layanan optimal.

Persoalan mulai ikut meluas, tidak hanya perkara medis, tetapi telah mulai menggoyang tata kehidupan bersama. Kegiatan ekonomi praktis mengalami stagnasi. Hal ini berakibat langsung pada mereka yang punya penghasilan harian. Bagi pemerintah, hal ini juga langsung berimbas pada pemasukan. Sementara ada kebutuhan baru yang belum ada dalam rencana, yakni bantuan sosial mengatasi dampak dari wabah. Kegiatan sosial juga mengalami perubahan, sebagai akibat dari perubahan pola interaksi. Bahkan kegiatan keagamaan, mengalami perubahan, akibatnya suasana bulan suci Ramadhan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Akibatnya semua rencana yang disusun di awal tahun 2020, seperti ombak yang terhempas di pantai. Dunia yang tampak gemerlap dan kokoh, tiba-tiba lemas, dan belum lagi tahu apa yang akan terjadi di depan. Para pemimpin dunia, yang fasih berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, dengan segala turunannya, seperti kehabisan kata dan gagap menyusun kalimat, karena keadaan berubah demikian cepat. Sementara itu, mereka yang berlimpah kebaikan, seperti bertemu dengan lahan subur sehingga dapat dengan leluasa menyebarkan benih budi, melalui aksi solidaritas yang melampaui semua batas, membantu sesama dan terutama ikut memikirkan penguatan layanan kesehatan.

Bagi mereka yang berlimpah kebaikan, seperti bertemu dengan lahan subur sehingga dapat dengan leluasa menyebarkan benih budi.

Gelombang perubahan tengah terjadi, mungkin di luar jangkauan yang dapat kita pikirkan. Namun apa yang terjadi setiap hari, adalah hal yang dapat dilihat, dipelajari dan ditarik pelajaran-pelajaran penting. Sebagai suatu peristiwa dunia, mustahil apa yang kini terjadi tidak memuat pesan-pesan penting. Adalah baik jika ada upaya menemukan pesan tersembunyi dari peristiwa yang dapat dikatakan sebagai peristiwa sejarah. Beberapa titik dapat dijadikan petunjuk untuk mencari pesan tersembunyi tersebut:

Pertama, bidang kesehatan masyarakat. Tentu ada pertanyaan besar. Mengapa wabah datang demikian cepat dan terkesan seperti operasi dadakan? Tidak bisa disembunyikan, bahwa keterkejutan menjadi bagian dari cara merespon wabah. Apakah ilmu pengetahuan yang ada tidak cukup mampu untuk mendeteksi atau semacam deteksi dini, terhadap kemungkinan serangan wabah? Apakah tidak cukup terselenggara riset-riset garis depan dalam bidang kesehatan masyarakat? Hal yang juga mengejutkan adalah bahwa dunia ilmu, yang dapat dikatakan sebagai pihak yang paling mengerti tentang hal ihwal wabah, dalam kenyataan tidak berdiri di garis depan didalam memandu masyarakat tentang apa yang seharusnya dilakukan. Apakah hal ini menunjukkan sempitnya ruang kesempatan bagi otoritas keilmuan untuk menjadi bagian terdepan dalam urusan terkait dengan pengelolaan keselamatan masyarakat tatkala kesehatan masyarakat mengalami gangguan yang serius dan mematikan?

Apakah ilmu pengetahuan yang ada tidak cukup mampu untuk mendeteksi atau semacam deteksi dini, terhadap kemungkinan serangan wabah?

Kedua, bidang pendidikan secara khusus, atau dunia keilmuan pada umumnya. Dalam keadaan dimana masyarakat telah diserang suatu wabah, dan diketahui secara pasti bahwa wabah belum sepenuhnya dikenali dan belum ditemukan obat yang dapat mengatasi, maka hal pokok yang harus terjadi adalah suatu edukasi massal dan cepat. Kita tentu yakin bahwa ilmu pengetahuan tentang pengadaan edukasi cepat, massal dan luas, telah tersedia. Soalnya, mengapa tidak terdengar kegairahan untuk melakukan edukasi dimaksud. Suara yang paling nyaring dan sering terdengar adalah tes cepat, yakni tes yang diarahkan untuk segera mengetahui siapa yang sakit dan siapa yang tidak, dan dengan itu akan mudah dilakukan pemetaan dan tindakan turunannya. Tentu sangat baik, langkah tes cepat tersebut dan memang harus segera. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa edukasi cepat tidak terdengar nyaring dan tidak terdengar sebagai gerakan yang paling pagi?

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa salah satu persoalan yang muncul dalam proses penanganan wabah adalah membangun kedisiplinan warga, terutama untuk “patuh” pada protokol kesehatan. Hal yang sesungguhnya sangat memprihatinkan adalah bahwa kedisiplinan tersebut harus diupayakan melalui law enforcement. Sesuatu yang sebenarnya dapat dihindari jika pengetahuan masyarakat memadai terkait dengan wabah, dan dengan pengetahuan yang memadai tersebut, justru masyarakat yang bergerak cepat, untuk melakukan pemetaan, termasuk menyelenggarakan isolasi mandiri dan berbagai tindakan yang dibutuhkan untuk mengendalikan penyebaran wabah. Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap watak dari wabah yang mematikan ini, dapat dikatakan ikut menyumbang tingkat kecepatan pengendalian penyebaran wabah.

Di luar soal terkait dengan upaya percepatan pemutusan mata rantai penyebaran wabah, dunia pendidikan tengah melakukan penyesuaian yang cenderung suatu perubahan, yakni bekerjanya proses belajar mengajar melalui sistem online. Kegiatan-kegiatan akademik, perkuliahan terbatas, bimbingan dalam menyusun tugas akhir, ujian dan kegiatan lain, seperti seminar, diskusi dan berbagai forum lain, mulai akrab dengan penggunaan media online. Hal ini tentu akan membawa perubahan besar, karena akses terhadap ilmu pengetahuan akan semakin luas, dan kegiatan persekolahan yang mengandalkan gedung dan ruang-ruang kelas, akan mendapatkan tantangan yang sangat serius. Sangat mungkin sekolah di masa depan, akan tidak lagi mengandalkan tatap muka konvensional, melainkan melalui sistem online. Belajar mengajar bisa dimana pun. Namun tentu hal ini mengandalkan kesiapan infrastruktur yang dibutuhkan. Tidak berlebihan jika Prof. Dr. Bambang Cipto, MA mengatakan bahwa suatu awal dari revolusi pendidikan tengah berlangsung.

(Bersambung)


Mengapa edukasi cepat tidak terdengar nyaring dan tidak terdengar sebagai gerakan yang paling pagi?


Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close