Pilihan Acak Bayi Menjadi Preferensi Mereka

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Temuan terbaru dari Johns Hopkins University menunjukkan bahkan bayi juga melakukan hal ini dan menunjukkan bahwa cara membenarkan pilihan ini adalah intuitif dan nampaknya fundamental untuk pengalaman manusia.

Ketika bayi hendak mengambil satu mainan di dalam ruangan yang dipenuhi oleh mainan yang serupa dengan yang hendak diambil, pilihan acak ini memberi petunjuk bahwa bayi tersebut tidak menyukai apa yang tidak ia pilih.

Meskipun para peneliti telah lama tahu bahwa orang dewasa membangun bisa secara tak sadar terhadap berbagai pilihan sepanjang hidup mereka antara sesuatu yang pada dasarnya sama. Temuan terbaru dari Johns Hopkins University menunjukkan bahkan bayi juga melakukan hal ini dan menunjukkan bahwa cara membenarkan pilihan ini adalah intuitif dan nampaknya fundamental untuk pengalaman manusia.

Alex Silver, mantan sarjana Johns Hopkins yang sekarang menjadi mahasiswa psikologi kognitif di University of Pittsburgh, yang merupakan rekan penulis mengatakan bahwa kegiatan pengambilan keputusan mengubah perasaan kita mengenai pilihan kita, dan bahkan bayi, yang baru mulai dalam membuat keputusan untuk diri mereka juga memiliki bias ini. Temuan studi ini telah dipublikasikan di jurnal Psychological Science.

Orang-orang cenderung mengasumsikan bahwa mereka memilih sesuatu yang mereka suka. Namun studi mengatakan bahwa terkadang justru sebaliknya, kita menyukai sesuatu karena kita memilihnya. Dan kita tidak menyukai sesuatu yang tidak kita pilih.

Rekan penulis, Lisa Feigenson, seorang ilmuwan kognitif di Johns Hopkins spesialis dalam perkembangan anak mengatakan bahwa ketika kita memilih satu hal, pastilah kita menyukainya. Ketika kita tidak memilih hal lain, maka hal lain tersebut tidak terlalu bagus. Orang dewasa sering membuat kesimpulan tersebut secara tak sadar dan membenarkan pilihan yang dibuat berdasarkan fakta tersebut.

Hal ini masuk akal untuk mereka yang ada dalam budaya konsumsi, dimana mereka harus membuat pilihan arbitari setiap harinya, seperti memilih merek pasta gigi, hingga memilih jenis celana. Pertanyaannya untuk Feigenson dan Silver, adalah kapan sebenarnya orang-orang mulai melakukan hal ini. Oleh karenanya, mereka meneliti bayi, yang masih belum memiliki banyak pilihan sebagai “jendela” yang cocok untuk mencari asal kebiasaan ini.

Para peneliti meneliti bayi berumur 10-20 bulan dengan memberikan bayi-bayi tersebut pilihan mainan, yakni dua balok yang keduanya terang dan berwarna. Balok-balok tersebut jauh dipisakan, sehingga bayi-bayi tersebut harus merangkak untuk memilih salah satunya, pilihan yang merupakan pilihan acak.

Setelah bayi memilih satu mainan, para peneliti mangambilnya lalu membawa mainan baru. Bayi-bayi tersebut kemudian dapat memilih lagi antara mainan baru atau mainan yang tidak dipilih sebelumnya.

Feigenson mengatakan bayi-bayi tersebut memilih untuk bermain dengan mainan baru daripada dengan yang sebelumnya tidak mereka pilih, yang menurutnya seakan mengatakan bahwa karena mereka tidak memilih mainan tersebut sebelumnya, artinya mereka tidak terlalu suka dengan mainan tersebut.

Dalam percobaan lanjutan, ketika para peneliti yang memilihkan mainan mana yang akan dimainkan bayi, fenomena tersebut menghilang. Feigenson mengatakan bahwa jika elemen pilih dihilangkan, fenomena tersebut juga akan hilang.

Silver mengatakan bahwa bayi-bayi tersebut benar-benar tidak memilih berdasarkan kebaruan atau preferensi intrinsik. Hal ini sangat mengejutkan baginya dan mengatakan bahwa mereka tidak berpikiran bahwa bayi membuat pilihan metodis tersebut.

Untuk terus mempelajari evolusi dari pilihan pada bayi, para peneliti selanjutnya akan melihat suatu ide dari “kelebihan pilihan”. Untuk orang dewasa, pilihan adalah hal yang baik, akan tetapi bila terlalu banyak pilihan dapat memberikan masalah, sehingga para peneliti akan mencoba menentukan apakah hal tersebut juga berlaku untuk bayi.

Sumber:
Disadur dari situs sciencedaily. Materi berasal dari Johns Hopkins University. Naskah pertama kali ditulis oleh Jill Rosen. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti