Ditulis oleh 9:31 am KABAR

Pluralitas, Multikulturalisme, Belajar Dari Yogyakarta (Bagian Keempat – Terakhir)

Yogyakarta menjadi ajang persentuhan antara sistem tradisional dan kolonial di semua bidang kehidupan, mengalami diferensiasi dan pluralisasi yang mewarnai gerakan sosial, kultural dan politik yang ada.

Mas Wahidin Sudirohusodo sendiri sebagai tokoh paling terkenal Budi Utomo lahir di Mlati 1857 dari keluarga yang sangat dihormati dan disayangi oleh penduduk desanya. Konon ia merupakan keturunan prajurit Makasar, Daeng Kraeng Nobo yang oleh Sunan Amangkurat Tegalarum diangkat sebagai hulubalang Bugis untuk melawan Trunojoyo. Wahidin membentangkan cita citanya di depan para pelajar STOVIA, memberikan inspirasi bagi Soetomo dan Soradji sebagai wakil pelajar STOVIA. Kemudian mereka menjadi pendorong utama berdirinya Budi Ufomo 20 Mei 1908 pada rapat yang diselenggarakan Ruang Anatomi STOVIA di Batavia.

Kemudian tanggal 3-5 Oktober 1908 diadakan konggres pertama di Yogyakarta, yang tempat ini dipilih dengan alasan: Pertama, sebuah konggres yang pertama memerlukan payung pelindung dalam hal ini Pakualam. Kedua, Yogyakarta sebagai pemerintahan swapraja merupakan jantungnya pulau Jawa. Ketiga, mudah dicapai dengan KA maupun angkutan darat yang lain.

Konggres berlangsung di Kwekschool Jetis dan memilih Raden Tumenggung Ario Tirtokusumo, bupati Karanganyar sebagai ketua Budi Utomo yang pertama dan Doker Tji[to Mangunkusumo mewakili Budi Utomo Batavia.

Budi Utomo tetap dalam cita cita memberikan pengajaran dan kesempatan belajar kepada rakyat yang kurang mampu. Pada masa dipimpin Pangeran Notodirojo berdiri lembaga beasiswa Darmo Woro.

1914 Budi Utomo dipimpin oleh dokter dari Surakarta yang bernama Radjiman Wediodiningrat dan seterusnya Budi Utomo dipimpin oleh RM Ario Surjo Suparto yang kemudian bergelar dan dilantik menjadi Mangkunegoro VII, yang kemudian digantikan oleh RMA Woerjaningrat juga dari Surakarta.

Gerakan Budi Utomo seperti gayung bersambut dengan berdirinya Muhammadiyah 18 November 1912 oleh KHA Dahlan. Syarikat Islam cabang Yogyakarta sebagai kelanjutan SI yang dilahirkan di Surakarta 14 Maret 1913 dengan pengurus pertama diketuai oleh RM Soerjo Koesoemo. Konggres pertama SI 1914 di Yogyakarta memunculkan nama HOS Tjokroaminoto sebagai Ketua Komite dan H Samanhudi sebagai Ketua Kehormatan.

Kedudukan Yogyakarta dalam politik bertambah penting setelah di Semarang muncul ISDV (Indische Social Demokratische Vereeniging) 1914 di bawah Semaun dan Darsonoi yang menjadi embriyo lahirnya Partai Komunis Indonesia tahun 1920. Yang kebanyakan rapat rapatnya diselenggarakan di Yogyakarta. Bahkan ada catatan Semaun pernah propaganda akan lahirnya PKI di salah satu pendapa Kotagede milik anggota Muhammadiyah, yang orang sekarang akan bilang HOPO TUMON, tapi pada masa itu wajar sebab banyak anggota Muhammadiyah, seperti H Fahruddin, Ki Bagus Hadikusumo yang juga anggota SI dan Semaunpun pada masa itu masih tercatat sebagai anggota SI.

Kemudian juga lahir gerakan Taman Siswa 1922 oleh Ki Hajar Dewantara. Konggres pertama PNI tahun 1927, Konggres Pemuda 28 Oktober 1928 yang melahirkan Soempah Pemoeda yang menggetarkan dan legendaris dan juga Konggres Perempuan Indonesia 22 Desember 1928.

Demikian pula yang terjadi pada dunia pendidikan, Menurut data 31 Desember 1924 di Yogyakarta sudah terdapat 70 sekolah setingkat dasar sampai lanjutan atas yang terdiri 30 milik Pemerintah, 7 milik Katolik, 9 sekolah netral, 9 sekolah Protestan, 6 sekolah Muhammadiyah, 2 sekolah Budi Utomo, 1 Taman Siswa, 2 sekolah Adhi Darmo, 2 sekolah Tionghoa, 1 sekolah Takwimuddin, 1 sekolah Sumarah Allah, 1 sekolah Ikhwanul Muslimin.

Dalam perkembangan dunia pendidikan ada catatan khusus untuk Muhammadiyah dan Taman Siswa. Selain sebagai reaksi terhadap pengajaran ala barat, sekolah sekolah Muhammadiyah juga dapat dipandang sebagai reaksi terhadap semakin majunya sekolah kristen di Yogyakarta. Politik pemerintah kolonial yang memeberikan subsidi bagi sekolah sekolah kristen yang kebanyakan dikelola orang Eropa digugat oleh Muhammadiyah dan dituntut agar diberika juga kepada kalangan bumiputera. 10 tahun setelah Muhammadiyah berdiri pula organisasi pendidikan di Yogyakarta yakni Taman Siswa. Berbeda dengan Muhammadiyah yang lahir dari abdi dalem Kraton Kasultanan yang santri. Taman Siswa lahir dari kalangan bangsawan Pakualaman.

Keduanya merupakan reaksi atas penyelenggaraan sistem pengajaran barat oleh pemerintah kolonial. Muhammadiyah mengkombinasikan dengan Islam yang sesuai dengan Quran dan Sunnah, progresif yang modern sedangkan Taman Siswa berasas kebudayaan sendiri maupun asing yang sesuai. ”Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani” sangat terkenal sebagai filosofi pendidikan Taman Siswa.

Yogyakarta menjadi ajang persentuhan antara sistem tradisional dan kolonial di semua bidang kehidupan, mengalami diferensiasi dan pluralisasi yang mewarnai gerakan sosial, kultural dan politik yang ada. Dengan demikian tatanan sosial keraton Jawa yang disebut feodalistik dengan segala gaya hidup, tata krama, etiket yang tertata rapih tidak dapat begitu saja dilihat sebagai landasan konservatisme dan kemandegan. Apalagi ditambah dengan sentuhan keterpelajaran dan kecendekiaan tokoh maupun masyarakatnya. Kasus Yogyakarta memperlihatkan tatanan masyarakat seperti itu dapat menjadi wadah bagi semangat kemajuan yang tidak anarkhis, namun mencari landasan baru yang mandiri

Justru perjalanan sejarah sebagaimana yang diebutkan di atas, menjadikan pengalaman masyarakat, didukung dengan tingkat kecerdasan masyarakatnya untuk menjadikan Yogyakarta relatif lebih dewasa memahami perbedaan dan multikulturalitas. Bukan berarti kemudian tanpa riak-riak kecil dan kendala. Yogyakartapun beberapa kali nyaris terjadi konflik kekerasan antar etnis. Di tahun 70an pernah terjadi konflik antara mahasiswa luar Jawa dengan masyarakat tukang becak. Belum lama inipun mahasiswa asal Papua hampir tersulut konflik dengan masyarakat kampung tertentu di Yogyakarta, beberapa kasus konflik kekerasan antar etnik, antar partai, bahkan antar agama pernah terjadi juga di Yogyakarta. Namun dapat dicegah dan tidak mengarah pada konflik yang lebih besar.

(Visited 68 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 4 Juni 2020

Selanjutnya »

Close