Ditulis oleh 9:09 pm KALAM

Politik dan Ekonomi sebagai Panglima: Ambyarrrrr

Panglima yang sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 yakni sebuah arah baru pembangunan Indonesia berdasar pada keinginan (nilai) luhur dan kesadaran penuh sebagai insan religious.

Catatan Kecil Hari Kebangkitan Nasional

Setiap tanggal 20 Mei, ingatan insan manusia Indonesia apalagi mereka yang saat ini masih aktif dalam dunia Pergerakan dan Organisasi Masyarakat. Ingatannya segera akan terlempar pada nama-nama para aktivis pergerakan pada waktu itu, seperti Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, Radjiman Widiodiningkrat, Haji Samanhoedi dan juga HOS Cokroaminoto dan masih banyak lagi.

Para tokoh tersebut mengharu biru jagad pergerakan dengan berbagai latar belakang, motif dan pemikiran. Dialektika pun terjadi diantara mereka yang bermuara pada Indonesia Merdeka. Caranya juga ada kemiripan meskipun terdiri banyak organisasi yaitu, membangun kesadaran politik dan kesadaran berorganisasi untuk mencapai Indonesia Merdeka. Perjuangan diplomatik dan perjuangan bersenjata, keduanya tetap dilakukan secara bersamaan. Arah perjuangan kental akan nuansa politik, tahun 1900an hingga menjelang kemerdekaan tahun 1945 banyak sekali ormas pergerakan yang lahir seperti Sarekat dagang Islam, Boedi Oetomo, Masyumi, PKI, Moerba, Muhammadiyah dan NU. Dua yang terakhir ini masih hidup sampai saat ini. Kekentalan nuasa politik ini memang memberi arah baru bagi Indonesia Merdeka yakni, Politik sebagai Panglima.

Bahkan pasca kemerdekaan oleh Presiden Soekarno jargon politik sebagai panglima masih relevan untuk menjadi garda depan dalam mengisi kemerdekaan. Kabinet silih berganti dan jatuh bangun bias disebut sebagai tanda bahwa dinamika politik Indonesia pada waktu itu sangat dinamis dan dewasa. Dinamis karena banyak pendapat dibangun dengan argumen rasional. Dewasa karena ada rasa saling menghormati antar mereka baik saat di dalam sidang konstituante, dalam kabinet dan di luar sidang. Banyak sekali singa podium pada masa itu. Politik menjadi panglima, sebagai penentu arah dan memberi kebijakan pada bidang-bidang lain sangat dominan. Ini pada tahun 1950 hingga tahun 1960an. Presiden Soekarno sangat menikmati arah Kemerdekaan yang telah dicapai. Diakui dan dihormati akan martabatnya oleh dunia. Namun apa lacur ketika terjadi perseturuan yang memanas antar anak bangsa, buru-buru Presiden Soekarno mengangkat dirinya sebagai Panglima Revolusi. Tujuannya bagus agar tidak terjadi perpecahan antar anak bangsa. Dan sejarah mencatat Politik sebagai Panglima pun ambyarr dengan ditandai lengsernya Presiden Soekarno.

Dan di era Presiden Soeharto, pembicaraan dan dialektika politik sedemikian rupa diminimalisir, arah pembangunan bergeser bahwa Pembangunan Ekonomi sebagai Panglima untuk menjadi bangsa yang bermartabat. GBHN, Repelita dan kebijakan industrialisasi dicanangkan. Parpol disederhanakan dan membuka luas kerjasama dengan dunia internasional. Kemitraan dengan beberapa negara industri dijalani, bahkan seorang Dahlan Iskan dalam catatannya mengatakan, bahwa di jaman Soeharto Indonesia nyaris sukses menjadi negara industri. Namun yang didapati justru krisis dan ditandai dengan lengsernya Presiden Soeharto juga. Sampai beberapa kali terjadi pergantian Presiden, ekonomi masih menjadi panglima namun tetap gagal untuk meneruskan kebijakan industrialisasi. Sudah terlanjur tekor, merugi dan tak kompetitif dengan negara-negara lain. Dan di era Joko Widodo maunya ada kebangkitan harkat martabat dengan Nawacita namun kini berujung pada menurunnya daya saing perdagangan Indonesia, ditambah dengan wabah Covid-19. Indonesia justru makin terpuruk. Bahkan dengan lebel baru sebagai negara maju, tak ubahnya hanya ejekan dan sindiran.

Ke mana hendak berlabuh kebangkitan itu??

Politik sebagai panglima telah gagal. Ekonomi sebagai panglima juga hanya menyuburkan kesenjangan sosial, radikalnya para koruptor dan kuatnya cengkeraman kartel ekonomi (politik). Praktis keduanya tak akan membawa pada marwah dan martabat bangsa yang tinggi, berdaulat dan ikut serta menjaga ketertiban dunia. Keduanya sudah terbukti ambyaarrr.

Lantas? Tentu menghendaki adanya panglima baru. Panglima yang sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 yakni sebuah arah baru pembangunan Indonesia berdasar pada keinginan (nilai) luhur dan kesadaran penuh sebagai insan religious. Keduanya sesungguhnya sudah berkelindan lama sebelum masa pra kemerdekaan namun itu kemudian diabaikan oleh para politisi dan pemimpin negeri. Pembukaan UUD 1945 yang sarat akan nilai-nilai luhur berbangsa dan bernegara serta kental dengan budaya yang hidup di Nusantara hingga ikut serta menjaga ketertiban dunia bukanlah hanya pajangan. Namun sebenarnya adalah arah sekaligus panglima dalam membangun Republik Indonesia. Petanya juga sudah jelas, untuk memajukan kesejahteraan umum diperlukan kecerdasan dalam merespon jaman. Artinya manusia harus didudukkan sebagai subjek, pelaku perubahan dan bukan bagian dari proses produksi. Salah memahami atau pembelokan maksud Preambul menjadikan pendidikan dalam sektor apapun, tidak hanya institusi pendidikan berakhir pada manusia sebagai tenaga kerja. Bagian dari kegiatan ekonomi. Tidak lebih tidak kurang. Maka wajar jika inovasi dan gagasan baru tidak ada selama periode politik dan ekonomi sebagai Panglima. Jika ada justru malah tidak dipakai.

Indonesia menjadi tidak fokus pada kekayaan dan budaya yang dimiliki bahkan cenderung mengabaikan nilai-nilai luhur dan religious. Kegotongroyongan, tepo seliro, andhap ashor dan keimanan pada Tuhan Yang Esa hilang dalam setiap episode pembangunan yang muncul dan bersifat dominan justru pada untung rugi dan angka-angka. Pada sisi lain kecerdasan dalam mendayagunakan alam semesta juga tidak fair dan menyalahi sunatullah. Jika cerdas agar Indonesia bangkit tentu akan mengambil arah berlabuh sebagai bangsa Agraris dan maritime –sayang pilihanya adalah negara industri, dan terbukti ambyarrrr.

Maka abai terhadap budaya yang dimiliki bangsa sudah saatnya diakhiri. Cita-cita luhur para pejuang negri ini sangat agung, merugi jika diabaikan. Mungkinkah budaya sebagai panglima akan menjadi pijakan Indonesia akan datang. Waktu yang akan bicara, dan musim pun akan segera berganti.

(Visited 144 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 20 Mei 2020
Close