23.6 C
Yogyakarta
24 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Polusi Beracun Dan Penyebaran Penyakit Dari Satwa Liar

Polusi merupakan salah satu masalah lingkungan yang berhubungan sangat erat dengan manusia. Tidak hanya masalah ini mempengaruhi kehidupan manusia, namun penyebaran dan paparan polusi yang beracun dapat mempengaruhi penyebaran penyakit untuk kehidupan di alam liar. Temuan dari studi terbaru University of Georgia ini memberikan implikasi dari dampak yang ditimbulkan posusi pada kehidupan manusia dan juga lingkungan alam di sekitarnya.

Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan suatu model matematika yang mereka buat untuk meneliti dan menelusuri bagaimana zat beracun dari polusi memberikan efek pada kehidupan di alam liar, serta bagaimana efek tersebut akan mempengaruhi populasi satwa di alam dan juga resiko penyakit yang dapat masuk ke kehidupan manusia.

Mereka menemukan bahwa meskipun paparan terhadap agen-agen infeksi penyakit serta kontaminasi secara sendiri mungkin tidak aakn memberikan efek yang besar pada populasi di alam. Akan tetapi, kombinasi dari keduanya dianggap para peneliti jauh lebih berbahaya. Lebih jauh lagi, ketika kita mulai melihat populasi satwa liar menurun oleh karena suatu modifikasi lingkungan, hal tersebut mungkin dapat menjadi pendahulu untuk peningkatan risiko limpahan zoonosis, yakni kemungkinan bahwa patogen tersebut menularkan dari satwa liar ke hewan peliharaan dan kemudian pada manusia.

Modifikasi terhadap lingkungan disini sebagai contoh adalah pembangunan perkotaan, industri, dan pertania, yang kesuanya terjadi di seluruh dunia. Dampak yang di timbulakan oleh alterasi lingungan tersebut di antaranya adalah masuknya polutan beracun termasuk logam berat dan pestisida.

Di saat yang sama, lingkungan yang diubah oleh manusia tersebut sering kali menarik satwa liar. Sebagai contoh seperti tempat sampah yang dibiarkan tak tertutup, ladang pertanian dan banyak lainnya. Hal tersebut tidak hanya membuat satwa liar dapat terpapar akan zat beracun, namun juga membuat manusia terpapar satwa liar dan segala macam penyakit yang mungkin dibawa oleh satwa liar tersebut.

Guna memahami bagaimana semua faktor ini berinteraksi, para peneliti membuat model matematika berdasarkan kalong yang terinfeksi oleh virus. Di Australia, beberapa spesies kelelawar pemakan buah ini telah pindah ke daerah perkotaan dalam jumlah yang terus bertambah. Menurut peneliti, mereka tertarik oleh pohon berbuah dan berbunga yang ditanam di kebun dan taman dan sebagai tanggapan atas hilangnya habitat asli hutan. Mereka juga dikenal membawa virus yang berbahaya bagi hewan peliharaan dan juga manusia. Untuk model yang mereka buat, para peneliti mensimulasikan serangkaian lingkungan dengan proporsi yang bervariasi dari habitat yang terkontaminasi dan dibandingkan dengan habitat asli.

Para peneliti membuat asumsi bahwa dalam semua kasus paparan terhadap zat beracun, maka akan terlihat pengurangan dalam kelangsungan hidup serta pergerakan dari para satwa liar. Namun, oleh karena zat tersebut dapat memiliki efek yang sangat berbeda pada inang dan patogen, para peneliti mengeksplorasi tiga skenario penularan. Skenario pertama, toksikan mengurangi transmisi patogen melalui mekanisme seperti membunuh parasit. Skenario kedua, toksikan meningkatkan transmisi patogen, misalnya dengan menekan sistem kekebalan tubuh. Skenario terakhir mengasumsikan bahwa racun tidak berpengaruh pada penularan.

Untuk setiap lingkungan dan skenario, para peneliti mulai dengan populasi sebesar 50.000 hewan, di mana 100 di antaranya telah terinfeksi, dan berada dalam model selama 50 tahun. Kemudian para peneliti mencatat ukuran populasi satwa liar yang dihasilkan, tingkat infeksi, dan risiko penularan ke manusia. Hasil dari simulasi tersebut terkadang mengejutkan para peneliti.

Satu temuan yang tidak di duga para peneliti adalah bahwa ketika hanya terdapat sedikit habitat yang terkontaminasi, ukuran populasi satwa liar secara keseluruhan tetap kuat dan bahkan mengalami peningkatan.

Peneliti menjelaskan bahwa dalam situasi tersebut, habitat yang terkontaminasi dapat menjadi perangkap bagi patogen. Hewan sakit yang pindah ke lokasi tersebut mungkin akan mati di sana oleh karena efek gabungan dari kontaminan dan infeksi. Para epeneliti menemukan bahwa jika habitat yang terkontaminasi oleh zat beracun menjebak hewan di daerah itu dengan mengurangi kapasitas pergerakan mereka, hal tersebut dapat membantu mengurangi prevalensi infeksi dalam populasi secara keseluruhan dengan tidak membiarkan hewan yang sakit kembali ke habitat asli untuk menyebarkan infeksi di sana.

Akan tetapi, ketika habitat yang terkontaminasi mendominasi lingkungannya, kombinasi racun dan infeksi berdampak pada lebih banyak hewan, yang dimana hal tersebut menyebabkan penurunan populasi satwa liar. Peningkatan persentase habitat yang terkontaminasi juga memengaruhi risiko limpahan, yang mencapai puncaknya ketika kira-kira setengah dari lingkungan terkontaminasi.

Ketika satwa liar masuk ke daerah di mana terdapat banyak hewan peliharaan dan manusia, hal ini dapat menjadi pemulai dari sebuah potensi penularan lintas spesies. Dan hal tersebut dapat diperburuk jika area itu juga terkontaminasi racun. Peneliti memberikan kesimpulan bahwa jika kita ingin mengurangi risiko tumpahan dan mengurangi efek negatif pada satwa liar, maka suatu bentuk pemulihkan habitat asli untuk para spesies tersebut menjadi suatu keharusan untuk dilakukan.

Ketika lingkungan hidup yang didominasi oleh manusia meluas dan meningkat, hal tersebut dapat mengakibatkan stress pada para hewan oleh karena banyak masalah terjadi secara bersamaan. Oleh karena penyebab stress yang berbeda seperti patogen dan kontaminan memberikan reaksi yang mengejutkan, para peneliti studi tersebut memberikan catatan diperlukannya sebuah studi pemantauan di lapangan yang dapat melacak bagaimana interaksi ini terjadi dalam populasi satwa liar di dunia nyata.

Sumber:
Situs sciencedaily. Materi awal berasal dari University of Georgia. Foto: Pixabay.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA