Ditulis oleh 2:15 pm SAINS

Polusi Udara Punya Peran Dalam Penyakit Kardiometabolik

Paparan polusi udara dapat meningkatkan kemungkinan faktor risiko yang sama yang menyebabkan penyakit jantung, seperti resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

Bila bicara mengenai polusi, polusi udara dapat dikatakan sebagai faktor utama kerusakan lingkungan di dunia. Polusi udara juga menyebabkan kematian lebih dari sembilan juta jiwa per tahun. Kini, suatu penelitian baru yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Investigation menunjukkan bahwa polusi udara memliki kemungkinan untuk berperan dalam perkembangan penyakit kardiometabolik, seperti diabetes. Namun demikian, menurut studi tersebut hal ini dapat disembuhkan dengan cara penghentian terkena polusi udara.

Para peneliti menemukan bahwa polusi udara merupakan suatu “faktor risiko untuk faktor risiko” yang memiliki kontribusi terhadap masalah-masalah kesehatan fatal lainnya seperti serangan jantung dan stroke. Hal ini mirip seperti bagaimana pola makan yang tidak sehat dan kurangnya olahraga dapat menyebabkan penyakit, paparan polusi udara juga dapat menjadi salah satu faktor risiko kesehatan.

Sanjay Rajagopalan, MD, yang merupakan penulis pertama studi tersebut, dan juga Kepala Kedokteran Kardiovaskular di Universitas Rumah Sakit Institut Jantung dan Vaskular Harrington, dan Direktur Institut Penelitian Kardiovaskular Universitas Case Western Reserve mengatakan bahwa di dalam studi ini, dirinya serta peneliti lainnya menciptakan lingkungan yang meniru lingkungan tercemar di New Delhi atau Beijing.

Para peneliti memusatkan partikel halus polusi udara, yang disebut PM2.5 (komponen materi partikulat <2,5 mikron). Partikel terkonsentrasi ini berkembang dari dampak perbuatan manusia terhadap lingkungan, seperti knalpot mobil, pembangkit listrik, dan bahan bakar fosil lainnya.

Partikel-partikel ini menurut peneliti sangatlah terkait dengan faktor risiko penyakit. Sebagai contoh, efek kardiovaskular dari polusi udara dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke. Para peneliti telah menunjukkan bahwa paparan polusi udara dapat meningkatkan kemungkinan faktor risiko yang sama yang menyebabkan penyakit jantung, seperti resistensi insulin dan diabetes tipe 2.

Dalam studi model tikus, tiga kelompok sample yang diamati: kelompok kontrol, dimana sample menerima udara bersih yang disaring, kelompok yang terpapar polusi udara selama 24 minggu, dan kelompok yang diberi makanan tinggi lemak. Hal yang menarik adalah para peneliti menemukan bahwa kelompok yang terpapar polusi udara sebanding dengan makan makanan tinggi lemak. Polusi udara dan kelompok diet tinggi lemak menunjukkan resistensi terhadap insulin dan metabolisme yang abnormal, layaknya yang terlihat pada keadaan pra-diabetes.

Perubahan ini dikaitkan dengan perubahan pada epigenom, lapisan kontrol yang dapat menghidupkan dan mematikan ribuan gen, yang merepresentasikan penyangga penting dalam menanggapi faktor lingkungan. Studi yang dilakukan para peneliti ini adalah yang pertama dari penelitian sejenis untuk membandingkan perubahan epigenetik seluruh genom sebagai respons terhadap polusi udara, membandingkan dan membedakan perubahan ini dengan pola makan yang tidak sehat, dan memeriksa dampak penghentian polusi udara pada perubahan ini.

Dr. Rajagopalan mengatakan bahwa kabar baik dari penelitian ini adalah efek ini dapat dibalik, setidaknya dalam percobaan yang dilakukan oleh dirinya dan peneliti lainnya. Begitu polusi udara dihilangkan dari lingkungan, tikus tampak lebih sehat dan keadaan pra-diabetes tampaknya berbalik kembali menjadi sehat juga.

Dr. Rajagopalan menjelaskan bahwa jika kita tinggal di lingkungan yang sangat tercemar, tindakan-tindakan seperti memakai masker N95, menggunakan pembersih udara dalam ruangan portabel, menggunakan AC, menutup jendela mobil saat bepergian, dan mengganti filter udara mobil sesering mungkin dapat membantu agar tetap sehat dan membatasi paparan polusi udara.

Langkah selanjutnya dalam penelitian ini diantaranya mengadakan pertemuan dengan panel ahli, serta National Institutes of Health, untuk membahas pelaksanaan uji klinis yang membandingkan kesehatan jantung dan tingkat polusi udara di lingkungan. Sebagai contoh, jika seseorang mengalami serangan jantung, haruskah mereka mengenakan masker N95 atau menggunakan filter udara portabel di rumah selama pemulihan?

Dr. Rajagopalan serta peneliti lainya percaya bahwa adalah penting untuk melihat lingkungan sebagai faktor risiko kesehatan populasi dan terus meneliti masalah ini dengan rajin. Para penulis juga mencatat bahwa temuan ini harus mendorong pembuat kebijakan untuk memberlakukan langkah-langkah yang bertujuan untuk mengurangi polusi udara.(Disadur dari situs sciencedaily)

(Visited 21 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 22 Agustus 2020
Close