Pranata Mangsa: Pengetahuan dan Kearifan Hidup Masyarakat Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Orang Jawa sangat peka dan memahami bahwa dalam hidup ini, ada masa-masa kelesuan (paceklik) dan ada masa-masa yang penuh pengharapan (pangarep-arep).

Pengantar

Sejak zaman dahulu, masyarakat Jawa telah memiliki pedoman musim untuk bercocok tanam yang disebut pranata mangsa. Secara harafiah, pranata mangsa berasal dari kata “pranata” yang berarti aturan atau pedoman, dan “mangsa” yang berarti masa atau musim. Jadi, pranata mangsa merupakan petunjuk terjadinya perubahan musim setiap tahunnya.

Secara umum, pranata mangsa atau ketentuan musim dapat didefinisikan sebagai penanggalan yang berkaitan dengan kegiatan usaha di bidang pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Pranata mangsa didasarkan pada peredaran matahari dan siklusnya berjalan selama 365 hari atau setahun. Ia tidak didukung oleh teori-teori pertanian modern. Namun berdasarkan pengamatan yang teliti (titen) terhadap gejala perubahan yang terjadi setiap saat di lingkungan hidup masyarakat.

Pranata mangsa memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha tani maupun persiapan diri menghadapi bencana, seperti kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir, yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu.

Pranata mangsa adalah warisan budaya dari para leluhur yang mengajarkan bahwa jiwa manusia itu bertalian erat dengan lingkungan alam dan iklim di sekitarnya (Nugroho, 2016). Orang Jawa sangat peka dan memahami bahwa dalam hidup ini, ada masa-masa kelesuan (paceklik) dan ada masa-masa yang penuh pengharapan (pangarep-arep). Bahwa hidup ini adalah cakra manggilingan, kadang-kadang di atas, kadang-kadang di bawah. Inilah ritme hidup masyarakat Jawa yang sangat menghormati eksistensi lingkungan alamnya.

Landasan Filosofis: Hamemayu Hayuning Bawana

Hamemayu Hayuning Bawana merupakan wawasan kosmologi Jawa atau kosmologi kejawen, yang membicarakan tentang ruang budaya dan spiritualitas budaya. Dalam konteks ruang budaya, hamemayu hayuning bawana membicarakan segala hal ihwal yang berkaitan dengan ruang atau bawana. Bawana adalah dunia dengan segala isinya. Bawana adalah kawasan kosmologi Jawa. Sebagai wilayah kosmos, bawana justru dipandang sebagai jagad rame. Jagad rame adalah tempat manusia hidup dalam realitas. Bawana merupakan tanaman, ladang dan sekaligus taman hidup. Orang yang hidupnya di jagad rame menanamkan kebaikan kelak akan menuai hasilnya.

orang Jawa menghayati laku kebatinan yang senantiasa menghiasi kesejahteraan dunia.

Dalam konteks spiritualitas budaya, hamemayu hayuning bawana adalah ekspresi budaya yang dilakukan oleh orang Jawa di tengah-tengah jagad rame. Pada tataran ini, orang Jawa menghayati laku kebatinan yang senantiasa menghiasi kesejahteraan dunia. Realitas hidup di jagad rame perlu mengendapkan nafsu agar lebih terkendali dan dunia semakin terarah.

Realitas hidup tentu ada tawar-menawar, bias dan untung rugi. Hanya orang yang luhur budinya yang dapat memetik keuntungan dalam realitas hidup. Dalam proses semacam itu, orang Jawa sering melakukan ngelmu titen dan petung demi tercapainya bawana tentrem atau kedamaian dunia. Keadaan inilah yang dimaksudkan sebagai hayu atau selamat tanpa ada gangguan apapun.

Hamemayu hayuning bawana adalah upaya melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin. Orang Jawa merasa berkewajiban untuk hamemayu hayuning bawana atau memperindah keindahan dunia, hanya inilah yang memberi arti dari hidup. Di satu sisi secara harafiah, manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya. Sedangkan di pihak lain secara abstrak, manusia juga harus memelihara dan memperbaiki lingkungan spritualnya.

Pandangan tersebut memberikan dorongan bahwa hidup manusia tidak mungkin lepas dari lingkungan. Orang Jawa menyebutkan bahwa manusia hendaknya arif lingkungan, tidak merusak dan berbuat semena-mena. Jadi, hamamayu hayuning bawana dapat diartikan bahwa kita hidup didunia ini hendaknya senantiasa mengusahakan dan menjaga keselamatan hidup kita sendiri, masyarakat dan kelestarian lingkungan di sekitar kita (Achmad, 2017).

Dampak Modernisasi

Sejalan dengan perkembangan peradaban umat manusia, budaya dan kearifan pranata mangsa dalam kehidupan petani atau masyarakat Jawa berangsur-angsur memudar. Ada pergeseran paradigma dari umat manusia dalam memperlakukan lingkungan alamnya.

perubahan iklim yang semakin tidak menentu dewasa ini telah menyirnakan budaya pranata mangsa.

Dulu, bertani ditempatkan sebagai jalan hidup, sumber pokok pencaharian, sekaligus ekspresi keselarasan dan keseimbangan hidup manusia beserta alam lingkungannya. Namun sekarang, bertani dianggap sebagai pekerjaan yang kotor dan rendah, menjadi potret kemiskinan, dan indikator kemunduran suatu bangsa. Sementara, perubahan iklim yang semakin tidak menentu dewasa ini telah menyirnakan budaya pranata mangsa.

Modernitas melenyapkan kekayaan budaya yang secara turun-temurun telah menuntun kehidupan petani Jawa. Pemanasan global (global warming) telah memusnahkan tatanan baku dan ritme alam, sehingga petani tidak dapat lagi berpedoman pada fenomena alam yang menjadi tuntunan hidup sosial-ekonomi mereka.

Muara akhirnya adalah hilangnya jiwa (ruh) dan nilai-nilai kepetanian, serta semakin memudarnya kearifan lokal atau grassroot knowledge sebagai panduan hidup bersama di dalam masyarakat.

Dr. Untoro Hariadi, M.Si

Dr. Untoro Hariadi, M.Si

Dosen Universitas Janabadra Yogyakarta.

Terbaru

Ikuti