Ditulis oleh 9:18 am KALAM

Prinsip-Prinsip Memperlakukan Alam

Alam ini adalah karunia dari yang Maha Kuasa. Karena itu, sikap yang perlu ditanamkan dan dikembangkan sejak dini bagi setiap orang, adalah sikap positif terhadap alam.

Dua musim yang terjadi di wilayah Indonesia, beberapa tahun terakhir ini sering timbul masalah serius, yaitu bencana banjir di berbagai daerah yang berkecenderungan semakin meluas di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Banjir dan kekeringan telah menjadi ancaman yang menakutkan di beberapa daerah beberapa tahun terakhir ini. Sekalipun  banjir dan kekeringan sebenarnya bukan bencana baru bagi masyarakat Indonesia, tetapi ditengarai, beberapa dekade terakhir ini, ada kecenderungan semakin meluas dan menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial yang semakin besar bahkan tidak jarang juga menimbulkan kematian jiwa manusia.

Dua kejadian alam, banjir dan kemarau yang terjadi setiap tahun, perlu kita cermati dan sikapi secara bijak,  ada apa sebenarnya dibalik semua itu? Benarkah semua itu hanya sekedar peristiwa alam biasa, sebagai bagian dari  yang juga akan terjadi setiap waktu? Pastinya bahwa berbagai kejadian alam yang kita hadapi itu merupakan bagian dari sunnatullah yang tidak bisa kita hindari, sebagaimana firman Allah SWT:

اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٢)وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (١٣

“Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizing-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kamu yang berfikir”  (QS. Al Jaatsiyah: 12-13)

Hujan bagi makhluk hidup di seantero alam dunia ini adalah berkah. Sebab, dengan hujan itu, rumput-rumput dan pepohonan seperti bangun dari tidurnya, tunas-tunas baru bisa tumbuh sebagai pertanda adanya kehidupan kembali. Demikian juga, bagi kita makhluk manusia, khususnya para petani, hujan berarti rezeki. Karena dengan hujan itu,  artinya menjadi faktor utama bisa bercocok tanam.

Tetapi apa yang terjadi dengan alam kita saat ini? Perubahan iklim dan cuaca beberapa tahun terakhir ini dipandang tidak lumrah. Hujan sering turun sangat deras, di luar kebiasaan. Akibatnya sudah bisa diprediksi, banjir terjadi di berbagai kawasan (termasuk ibu kota) selalu menjadi berita rutin, banjir  setiap tahun.

Di sisi lain, ketika memasuki musim kemarau, kawasan kekeringan air ditengarai semakin meluas. Wilayah DIY, khususnya kawasan Gunungkidul dan Kulonprogo, beberapa tahun terakhir ini mengalami krisis air bersih seperti yang dialami tiga puluh sampai lima puluhan tahun lalu.   

Kondisi iklim dan perubahan cuaca yang tidak menentu menarik untuk kita cermati. Terlepas, semua itu disebabkan oleh adanya fenomena  El Nino atau La Nina, atau karena gejala-gejala alam yang tidak bisa diprediksi, yang pasti bahwa ketidakteraturan perubahan iklim ini tidak lepas dari polah tingkah perilaku manusia, bisa jadi  termasuk kita. Bahwa sekarang ini, tanpa disadari, mungkin kita tidak lagi ramah terhadap alam. Penjarahan hutan di negri kita ini, bisa jadi beberapa tahun terakhir ini sudah agak terkendali, tetapi kenyataanya kawasan hutan kita semakin berkurang. Kawasan tanah pertanian atau kawasan terbuka hijau sebagai resapan air,  semakin banyak yang berubah alih fungsi menjadi pemukiman penduduk. Pencemaran limbah rumah tangga dan industri semakin tak terkendali.  Demikian juga dalam pemanfaatan sumberdaya alam, pemakaian zat-zat kimia di dunia pertanian, peternakan, perikanan dan industri semakin tidak terkendali. Akibatnya, alam yang merupakan berkah dan karunia bagi manusia, sekarang ada kecenderungan berbalik menjadi ancaman dan bencana bagi kehidupan. Beberapa tahun terakhir ini, kita mulai memanen bencana demi bencana;  banjir,  kekeringan, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, tsunami dan berbagai bencana lainnya harus dialami oleh masyarakat kita.

Karunia Yang Maha Kuasa

Sebagai orang yang beriman, bagaimana kita menyikapi fenomena alam yang terasa semakin ganjil ini? Kecemasan dan  ketakutan, sesekali  mungkin menghantui pikiran kita. Namun demikian, kita tidak dibenarkan jika harus larut dalam kecemasan atau ketakutan menghadapi berbagai kejadian alam. Sebaliknya,  tidak dibenarkan  juga jika kita tidak peduli sama sekali terhadap  berbagai bencana yang menimpa saudara-saudara kita atau bisa jadi kita sendiri.

Alam ini adalah karunia dari yang Maha Kuasa. Karena itu, sikap yang perlu ditanamkan dan dikembangkan sejak dini bagi setiap orang, adalah sikap positif terhadap alam, yaitu bahwa alam tempat kita hidup ini adalah ciptaan sekaligus anugerah. Secara gamblang Allah menegaskan hal itu dalam ayat di atas dan ayat berikut :  

اَللهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّموتِ وَاْلاَرْضَ وَاَنْرَلَ مِنَ السَّمَآءِ فَاَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرتِ رِزْقًاالَّكُمْ وَسَخَّرَلَكُمُ اْلفُلْكَ لِتَجْرِيَ بِاَمْرِه وَسَخَّرَلَكُمُ اْلاَنْهرَ. (ابرهم : 32)

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (QS. Ibrahim: 32)

Lingkungan alam ini  bersifat teleologis, sempurna dan teratur; dan sebagi anugerah, alam ini merupakan kebaikan yang tidak mengandung dosa yang disediakan untuk manusia, alias suci. Tujuan Allah menciptakan alam ini adalah menjadi media atau sarana yang memberikan kesempatan bagi kita sebagai manusia untuk melakukan kebaikan dan mencapai kebahagiaan (membangun peradaban). Praktisnya, menurut Ismail Raji Al Faruqi, bahwa  pandangan Islam terhadap alam ini dicirikan oleh tiga hal, yaitu; keteraturan, kebertujuan dan kebaikan. Menurut intelektual muslim yang meninggal di Amerika ini bahwa alam adalah suatu panggung hidup  yang digerakkan oleh perintah dan tindakan Allah SWT.  

Betapun sederhananya batu, pasir, tanah, dan berbagai benda-benda alam lainnya, tetap saja kita tidak bisa membuatnya. Aneka ragam jenis hewan ternak, burung yang warna-warni, tumbuh-tumbuhan, segala macam jenis ikan laut, berbagai mineral yang terpendam di perut  bumi, seperti; minyak, emas, tembaga, gas, aspal dan sebagainya, adalah sumberdaya alam yang terjadi secara sunnatullah, atas kehendak Allah. Semua kebutuhan untuk hidup kita, telah tersedia secara lengkap, kita  tinggal memakai dan memeliharanya.  Tetapi, mengapa sekedar memelihara saja sepertinya terasa berat dan sulit? Inilah persoalan utamanya.

Islam mengajarkan bahwa alam dan seisinya  diciptakan  Allah sebagai ladang bagi kita, yaitu sebagai tempat tumbuh dan berkembang menjadi makhluk yang bermartabat, berkeadaban, santun, cerdas dan kreatif-inovatif serta sekaligus sebagai tempat untuk menikmati  anugerah Allah  secara etis berharga. Menurut Al Faruqi dalam bukunya “Tauhid”, ada empat prinsip yang harus ditumbuhkan dalam kesadaran kita  dalam memperlakukan alam seisinya.

Pertama, alam ini bukanlah milik manusia melainkan milik Allah Subhanahu wata’ala. Kita hanya diberi izin tinggal di dalamnya untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan Allah.

مَاخَلَقْنَاالسَّموتِ وَاْلاَرْضَ وَمَِابَيْنَهُمَااِلاَّبِالْحَقِّ وَاَجَلٍ مُّسَمًّى

Tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan kebenaran dan untuk jangka waktu yang telah ditentukan”. (QS. Al Ahqaaf, 46:3) 

Hak untuk memanfaatkan alam, tidaklah memberikan kepada kita untuk merusaknya, atau mengeksploitasinya sehingga mengacaukan dan mengganggu keseimbangan ekologisnya. Hak pemanfaatan yang kita miliki  adalah hak individual yang diberikan Tuhan kepada tiap individu di saat kelahirannya. Hak tersebut tidak diwariskan kepada orang lain. Jadi tidak memberikan hak kepada manusia untuk “memakan” jatah generasi yang akan datang. Sebagai pengurus bumi seisinya, kita diharapkan – di saat meninggal nanti – agar mengembalikan amanat yang kita pegang  dalam keadaan yang lebih baik daripada ketika kita menerimanya dari Allah Subhanahu wata’ala.

Kedua, tatanan alam tunduk pada manusia yang dapat mengubahnya seperti yang dikehendakinya. Alam telah diciptakan lunak, dapat menerima campur tangan manusia dalam proses-prosesnya. Tidak ada bidang dari alam ini yang berada di luar jangkauannya. Penggunaan sepenuhnya  diserahkan kepada kebijaksanaan manusia.

Ketiga,  dalam pemanfaatan dan menikmati alam, kita diperintahkan untuk menjaga sesuai dengan aturan moral.  Pencurian dan penipuan, paksaan dan monopoli, penumpukan dan pemerasan, egoisme dan ketidakpekaan terhadap kebutuhan orang lain adalah tidak layak dilakukan oleh manusia sebagai wakil Tuhan, dan secara tegas dilarang. Kita dilarang boros dan mengkonsumsi yang mubazir dan bersifat pamer.

Keempat, penyelidikan alam harus dengan memahami pola-pola Tuhan dalam alam, tidak hanya pola-pola yang terkandung dalam ilmu-ilmu kealaman, tapi juga pola-pola yang terkandung dalam tatanan umum. Dalam hal ini, alam tidak boleh dirusak, diperas atau disalahgunakan, meskipun ia boleh dimanfaatkan. Kepekaan terhadap alam dan perawatan penuh kasih, entah alam itu sebagai taman atau hutan, sungai, sawah, gunung dan sebagainya, adalah tindakan terpuji dan tehormat yang sesuai dengan tujuan Ilahi.

Karena itu, sepatutnya kita perlu berbuat sesuatu.  Tindakan sederhana, tetapi  sangat mendasar untuk mengembalikan agar lingkungan alam ini benar-benar menjadi karunia bukan bencana adalah menanamkan kembali prinsip-prinsip   dalam memperlakukan lingkungan. Sebab, diakui atau tidak bahwa lingkungan alam yang akhir-akhir ini rasanya kok kurang atau bakkan tidak bersahabat dengan kita, sebab utamanya adalah karena kita telah semena-mena, rakus dan arogan terhadapnya.

Pelajaran di balik peristiwa

Kejadian alam semesta dengan proses yang panjang itu, memnerikan pelajaran penting bagi kehidupan kita. Pelajaran yang bisa diambil antara lain:

Pertama, setiap kejadian atau peristiwa di alam semesta ini pastilah melalui proses. Termasuk segala kejadian yang berkaitan dengan manusia, seperti; menjadi kaya, pandai, terhormat, popularitas dan sebagainya  adalah melewati suatu proses tertentu. Termasuk kejadian manusia sebagai makhluk yang sempurna, juga melalui proses panjang baik proses organik maupun proses sosio-psikologis, yaitu dari bersatunya setitik air mani (nuthfah) laki-laki dengan sel telur wanita, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian ditiupkan ruh, dan terus tumbuh serta berkembang menjadi embrio manusia. Selama sembilan bulan lebih akhirnya lahir menjadi bayi manusia. Setelah lahir saja, manusia masih melewati proses panjang dari masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, terus menjadi tua dan seterusnya. Demikian juga pada dunia pepohonan, makhluk ini  juga mengalami proses panjang untuk dapat menghasilkan buah. Semua tumbuhan (pepohonan) pasti melalui proses dari benih, kemudian tumbuh, berkembang, penyerbukan  dan baru kemudian berbuah. Dengan demikian, proses atau tahap-tahap kehidupan ini merupakan sesuatu yang berproses secara alamiah atau sesuai dengan sunnatullah.

Kedua, semua kejadian atau peristiwa di alam semesta ini memiliki sebab dan akibat. Termasuk pilihan manusia dalam menentukan pola pikir, sikap dan perbuatan juga akan menimbulkan implikasi  secara langsung ataupun tidak langsung bagi dirinya sendiri atau lingkungannya. Atas dasar itu,  maka kita perlu selalu mempertimbangkan baik dan buruk atas sikap dan perbuatan yang kita lakukan.

Ketiga, sudah seharusnya jika setiap proses dalam kehidupan, kita harus berupaya untuk menuju ke arah yang lebih baik atau menuju ke arah kesempurnaan. Dalam arti bahwa manusia semakin dewasa dan  semakin tua, haruslah semakin besar karyanya, makin arif dan bijaksana perbutannya serta semakin dekat terhadap Allah SWT yang menciptakan dirinya dan alam semesta seisinya.

Akhirnya, sekarang terpulang kepada kita, bahwa alam semesta ini akan benar-benar menjadi karunia yang akan memuliakan kita, jika kita bisa memuliakan alam ini. Demikian juga, bahwa berbagai kejadian alam ini tidak akan menjadi bencana  yang bisa menjadikan kita menderita, atau bahkan mematikan hidup kita, tetapi justru bersahabat dengan kita, sekiranya kita bisa bersahabat dengan lingkungan alam.

(Visited 415 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 7 Mei 2020
Close