Ditulis oleh 7:47 am KABAR

Prof. Ali Agus: Pangan Akan Jadi Komoditas Termahal di Dunia

Saat ini penduduk bumi sudah mencapai 8 miliar jiwa lebih, dan diprediksi pada tahun 2040 mencapai 9 miliar manusia yang harus diberi makan. “Dalam waktu yang tidak terlalu lama dari saat ini, pangan akan menjadi komoditas termahal di dunia dan sumber pertikaian terbesar umat manusia,”

Kuliah Kedaulatan Pangan Yayasan Abdurrahman Baswedan yang diampu Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA (Dekan Fakultas Peternakan UGM) kembali diselenggarakan pada Senin, 27 Januari 2020 di Sekretariat Yayasan. Dalam pertemuan ini Prof. Ali Agus menyoroti berbagai masalah terkait dengan kadaulatan pangan.

Salah satunya adalah ketimpangan yang semakin menganga. Bayangkan saja kekayaan 40 orang setara dengan 60 juta orang pada lapisan terbawah atau miskin. Kurangnya kesejahteraan mengakibatkan kualitas makanan yang dikonsumsi menjadi rendah. Akibatnya penyakit-penyakit bermunculan, bahkan sudah mulai menghinggapi anak-anak muda. Penyakit tersebut antara lain jantung, diabetes, hipertensi, kolesterol, obesitas, dan lain-lainnya.

Hal ini juga akan menyebabkan langgengnya lingkaran setan kemiskinan (lihat skema pada paparan di bawah). Oleh karena itu untuk menyelesaikan kemiskinan harus ada intervensi pada pendidikan, kesehatan dan peningkatan pendapatan.

Tantangan global yang lain adalah adanya ledakan populasi manusia. Saat ini penduduk bumi sudah mencapai 8 miliar jiwa lebih, dan diprediksi pada tahun 2040 mencapai 9 miliar manusia yang harus diberi makan. “Dalam waktu yang tidak terlalu lama dari saat ini, pangan akan menjadi komoditas termahal di dunia dan sumber pertikaian terbesar umat manusia,” jelas Prof. Ali Agus.

Di sisi lain, semakin tingginya ketergantungan pangan dunia terhadap tata niaga global. Pada 1986 dan 2009, jumlah makanan yang diperdagangkan meningkat lebih dari dua kali lipat dan jaringan pangan global menjadi 50 persen lebih saling terhubung. Perdagangan pangan internasional saat ini menyumbang lebih dari 23 persen dari produksi pangan global. Sebagian besar dari produksi itu berpindah dari negara-negara kaya pertanian ke negara-negara miskin.

Akibat tata niata pangan tersebut, terjadi peningkatan jumlah negara yang bergantung pada perdagangan pangan global. Negara-negara tersebut menjadi lebih rentan dalam periode kekurangan pangan, (seperti yang terjadi selama krisis pangan pada 2008 dan 2011). Oleh karena itu ketika pemerintah dari beberapa negara produsen melarang atau membatasi ekspor pangan, menyebabkan kecemasan di banyak negara yang bergantung pada perdagangan tersebut.

Berikut merupakan materi Prof. Ali Agus dalam pertemuan kuliah kedaulatan pangan, yang lalu.

Pertemuan Kuliah Kedaulatan Pangan selanjutnya akan diselenggarakan Senin, 3 Februari 2020 Pukul 15.30 WIB di Sekretariat Yayasan Abdurrahman Baswedan, Perumahan Timoho Asri IV, No. B9C Muja Muju Yogyakarta.

(Visited 88 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 Februari 2020
Close