Ditulis oleh 9:49 am KABAR

Prof. Baiquni: Dibutuhkan Ecospiritual Leadership

Oleh karena itu banyak kritik dan serta dengan berbagai kecenderungan, Prof. Baiquni sampai pada solusi yakni dibutuhkan ecospiritual leadership. Kepemimpinan yang memberikan manfaat kepada sesama dan semesta. “Seorang pemimpin itu harus mencinta damai dan mencintai lingkungan,” jelas Prof. Baiquni.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 30)

Dalam surah Al Baqarah ayat 30, manusia sebagai khalifah di muka bumi, diberikan dua tugas utama. Pertama menjaga perdamaian di muka bumi, sehingga dilarang untuk menumpahkan darah, membunuh, membuat kerusuhan. Kemudian yang kedua adalah dilarang merusak lingkungan. Lingkungan merupakan sumber hidup manusia, oleh karena itu, apabila merusak lingkungan maka sesungguhnya membunuh kehidupan itu sendiri. 

Demikian disampaikan Prof. Dr. Muhammad Baiquni, MA Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada dalam kuliah Pembangunan dan Lingkungan Yayasan Abdurrahman Baswedan, Senin, 2 Maret 2020, bertempat di sekretariat yayasan, Perumahan Timoho Asri IV, Muja Muju, Yogyakarta.

Pembangunan dan lingkungan merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Pembangunan dilakukan tetapi lingkungan tetap dijaga dan dilestarikan. Agar pembangunan dapat berjalan dengan berkelanjutan. Hanya saja menurut Prof. Baiquni, pembangunan seringkali mengabaikan lingkungan. Oleh karena itu banyak kritik dan serta dengan berbagai kecenderungan, Prof. Baiquni sampai pada solusi yakni dibutuhkan ecospiritual leadership. Kepemimpinan yang memberikan manfaat kepada sesama dan semesta. “Seorang pemimpin itu harus mencinta damai dan mencintai lingkungan,” jelas Prof. Baiquni.

Selanjutnya dalam kuliah tersebut, Prof. Baiquni menyampaikan sejarah perkembangan industri di dunia. Kini kita telah memasuki era revolusi 4.0 yang berbasis pada digitalisasi atau  cyber. Revolusi industri dimulai dari revolusi 1.0 yang bermula pada akhir abad ke-18 dengan penemuan mesin bertenaga air dan uap. Kemudian di awal abad ke-20 kita memasuki revolusi industri 2.0, dimana mulai diperkenalkan produksi massal dengan tenaga listrik. Revolusi industri terjadi kembali dengan perkembangan penggunaan elektronik dan IT yang memungkinkan produksi secara otonom, pada tahun 1970an. ini lah revolusi industri 3.0. 

“Penemuan-penemuan yang membuat terjadinya revolusi industri, kemudian diterapkan dalam mekanika industri,” ujar Prof. Baiquni. 

“Setiap persoalan yang seperti sekarang terjadi, misalnya virus corona, memungkinkan kita berpikir ulang terhadap pembangunan dan lingkungan hidup maka akan ditemukan pula nanti cara atau revolusi yang lain,” jelas Prof. Baiquni.

Setiap terjadinya perubahan atau revolusi industri juga akan merubah tata kehidupan sosial yang ada di masyarakat. Misalnya pada revolusi industri 1.0 menggeser kekuatan desa atau pertanian ke industri, ekonomi politik dari feodal ke kapitalisme. Terbentuk pula komunal sosialis yang mengimbangi struktur baru dalam industri yang diakibatkan terciptanya hubungan industrial antara pemilik modal dan pekerja. 

Dalam kuliah, Prof. Baiquni juga memutarkan film An Inconvenient Truth dari Al Gore mengenai bahaya pemanasan global. Dalam film tersebut digambarkan bahaya yang diakibatkan pemanasan global, misalnya kekeringan dan dan banjir terjadi di daerah yang berdekatan. Ketinggian air laut pun menjadi naik sehingga diprediksi akan menyebabkan hilangnya daratan. 

Kuliah pembangunan dan lingkungan akan berlangsung sebanyak empat pertemuan. Pertemuan selanjutnya akan dilaksanakan Senin, 9 Maret 2020, sore di Yayasan Abdurrahman Baswedan.

(Visited 94 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 13 Maret 2020
Close