Prof. Dudung: Demokrasi Natsir Berdasar Kesadaran Rakyat, Cinta Kebenaran dan Rasa Keadilan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pandangan Natsir pada demokrasi berdasarkan pada kesadaran rakyat, cinta kebenaran dan rasa keadilan yang kuat.

Yayasan Abdurrahman Baswedan menyelenggarakan diskusi buku online rutin. Kali ini mengangkat buku berjudul Biografi Muhammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran dan Perjuangan, karya Lukman Hakiem, pada Jum’at, 3 Juli 2020, melalui aplikasi Zoom.

Diskusi ini menghadirkan narasumber Lukman Hakiem sendiri sebagai penulis buku, Prof. Dr. Dudung Abdurahman, M.Hum, Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga, dan Dr. Dyah Kumalasari, M.Pd, Dosen Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta.

Dalam paparannya Prof. Dudung mengatakan Muhammad Natsir merupakan orang yang penuh talenta. Sebagai seorang politikus, ulama, cendekiawan, dan di masa-masa akhir hayatnya berperan sebagai pendakwah.

“Namun yang sangat menonjol adalah sikap perilaku dan pemikirannya yang sangat demokratis. Dengan istilah lain dapat disebut sebagai bapak demokrasi Indonesia,” ujar Prof. Dudung.

Dalam pandangannya mengenai demokrasi, Muhammad Natsir menelusurinya dari paham kebangsaan. Kesan yang bisa didapatkan, Muhammad Natsir telah memperluas orientasi pemikirannya tidak hanya terkungkung dengan tradisi pemikiran Persis. Pergerakan-pergerakan berdasarkan agama telah lama memiliki ikatan dengan kebangsaan, seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, berbeda dengan Budi Utono, Jong Sumatranen Bond dan lainnya, yang ikatannya berdasarkan suku bangsa.

“Menurut Pak Natsir, pergerakan Islam lah yang lebih dahulu membuka jalan perjuangan politik kemerdekaan di tanah air ini. Yang mula-mula menyemai bibit persatuan Indonesia umat Islam, menyingkirkan sifat kepulauan dari keprovinsian. Dan yang mula-mula  menanam persaudaraan dengan kaum yang senasib di luar batas Indonesia dengan tali persaudaraan keislaman,” jelas Prof. Dudung.

Dengan demikian Natsir mengatakan bahwa perjuangan umat Islam untuk meraih kemerdekaan adalah untuk kemerdekaan umat Islam. Bertolak dari hal tersebut, perjalanan politik natsir setelah Indonesia merdeka, lebih berorientasi pada perjuangan politik Islam.

“Natsir mengatakan bahwa Islam itu demokratis, anti absolutisme. Natsir mengakui demokrasi itu baik, walau ada beberapa kelemahan. Salah satunya adalah partaikrasi atau klikrasi, jika dimaknai sekarang mungkin partai mainded,” jelas Prof. Dudung.

Pengertian demokrasi dalam Islam, menurut Natsir, adalah memberikan hak kepada rakyat untuk mengkritik, menegur dan membetulkan pemerintah yang zalim. Pandangan Natsir pada demokrasi berdasarkan pada kesadaran rakyat, cinta kebenaran dan rasa keadilan yang kuat. Dalam bahasa dalam hal itu dikatakan sebagai moral.

Diskusi Buku Biografi Muhammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran dan Perjuangan, dapat disimak dalam video di channel Youtube Yayasan Abdurrahman Baswedan di bawah ini:

Erik T.

Erik T.

Terbaru

Ikuti