Prof. Nurfina: Penelitian Tanaman Obat Hanya Jadi Bahan Pustaka

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kuliah Umum dengan tema "Pemanfaatan Tanaman Obat sebagai Bahan Penelitian, Pengabdian Masyarakat dan Wirausaha", pada hari Senin, 13 Juli 2020.

Indonesia merupakan mega senter keanekaragaman hayati dunia. Betapa tidak, di tanah air kita ini tumbuh lebih dari 30.000 jenis tumbuh-tumbuhan, dan 7.000 diantaranya berkhasiat sebagai obat. Hanya saja kekayaan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

Demikian disampaikan Prof. Dr. Nurfina Aznam, SU., Apt Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta, dalam Kuliah Umum Akademi Al Hikmah Yayasan Abdurrahman Baswedan, dengan tema Pemanfaatan Tanaman Obat sebagai Bahan Penelitian, Pengabdian Masyarakat dan Wirausaha, Senin, 13 Juli 2020, melalui aplikasi meeting online Zoom. Kuliah umum dipandu Siti Sumaryatiningsih, MIP Dosen STPMD “APMD”.

Indonesia memiliki sumberdaya alam tanaman obat yang potensial. Tanaman obat dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk penelitian. Misalnya dengan melakukan isolasi, identifikasi, uji aktivitas farmakologi, mikrobiologi, parasitologi, penuntun penemuan obat-obat modern, dan lain-lain.

“Tanaman dapat pula dimanfaatkan oleh industri jamu maupun industri obat, sehingga dapat dijadikannya sebagai bahan untuk wirausaha,” jelas Prof. Nurfina.

Penelitian yang dilakukan pada tanaman obat sebenarnya sudah sangat banyak, baik itu berbentuk skripsi, tesis, disertasi serta penelitian lainnya. Namun penelitin tersebut belum memberikan nilai karena tidak dapat langsung dimanfaatkan.

“Penelitian yang dilakukan sebagian besar tidak dapat langsung dimanfaatkan. Hanya menjadi bahan pustaka serta tidak mempunyai nilai jual yang tinggi,” ujar Prof. Nurfina.

Indonesia sendiri memang sudah tertinggal terkait penelitian mengenai tanaman obat. Sebut saja terkait kunyit (curcuma domestica) yang biasa dimanfaatkan untuk bumbu masak, kosmetika, komponen pada sebagian besar jamu yang diproduksi di Indonesia. Kurkumin, senyawa aktif pada kunyit berhasil diisolasi pada tahun 1870, mempunyai aktivitas yang luas sebagai antioksi-dan, antihepatotoksik, antiinflamasi (yang lebih tinggi aktivitasnya daripada fenilbutason), dan sebagai antirematik.

“Kita sudah ketinggalan sekali, kunyit sudah diisolasi sejak tahun 1870. Kita harus lebih berupaya dalam melakukan penelitian-penelitian kekayaan alam yang kita miliki,” jelas Prof. Nurfina.

Di sektor industri obat asli Indonesia saat ini terdapat 810 perusahaan yang mencakup 87 buah Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT), dengan omset penjualan (hanya) berkisar Rp. 900 milyar. “Nilainya sangat kecil jika kita bandingkan dengan negara lain seperti Cina, Perancis, Jerman, dan negara lain di Eropa,” tandas Prof. Nurfina.

Paparan lengkap Prof. Dr. Nurfina Aznam, SU., Apt dalam kuliah umum tersebut, dapat disimak di bawah ini:

Online Yab Tanaman Obat Utk… by YAYASAN AR. BASWEDAN on Scribd

Erik T.

Erik T.