Ditulis oleh 10:24 am KALAM

Puasa Untuk Perubahan

Oleh: Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si.

Tanpa terasa, kita sudah berada pada petengahan  Puasa Ramadan 1441 H. Puasa yang  kita kerjakan sekarang ini  ternyata mampu menghadirkan suasana yang sangat berbeda dengan bulan-bulan yang lain sepanjang tahun, sekalipun bersamaan dengan adanya Pandemi Covid-19. Umat Islam seakan-akan senantiasa dalam kesadaran penuh untuk selalu mengajak dan mengerjakan kebajikan serta mencegah kemungkaran.

Kita baca dan lihat di media massa, para aparat keamanan  dengan sigap menghimbau dan tidak segan menindak mereka yang secara terang-terangan  tidak menghormati bulan puasa. Warung-warung dilarang membuka dengan terang-terangan di siang hari, tempat-tempat hiburan dilarang beroperasi selama bulan suci ini, atau setidaknya dibatasi durasi operasinya,  dan seterusnya.

Puasa adalah menahan (“imsak”) dari lapar dan dahaga serta yang membatalkannya sejak terbit fajar  hingga masuk waktu maghrib. Ia merupakan amalan ibadah yang wajib dikerjakan oleh setiap orang yang mengaku dirinya beriman. Seperti yang tersurat dalam ayat berikut: ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa seperti telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (QS. Al-Baqarah, 2 : 183).

Orang-orang yang mengaku dirinya beriman diwajibkan untuk membuktikan keimanannya dengan melaksanakan kewajiban puasa. Selain berguna untuk memberi waktu istirahat bagi mesin pencernaan kita, puasa memiliki makna yang lebih dalam bagi kita untuk dapat menahan hawa nafsu, menjadikan kita lebih bisa memahami arti lapar yang tentunya sering dialami oleh saudara kita yang tidak berpunya. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin makin hari kian nyata. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak hanya diperoleh bagi mereka yang berkecukupan karena mahalnya biaya pendidikan. Pada gilirannya, orang yang kurang berpendidikan semakin terpinggirkan, demikian hal ini membentuk suatu lingkaran yang susah untuk diputuskan.

Dengan momentum puasa sebulan penuh kali ini,  semua komponen bangsa harus berani memulai  untuk memutus mata rantai itu jika benar-benar kita menginginkan kehidupan yang lebih baik dari yang sebelumnya.   Untuk memotivasi kita supaya memperbanyak amalan di bulan Ramadhan, Allah menjanjikan pahala berlipat ganda untuk setiap  amalan yang dilakukan di bulan suci Ramadhan. Apabila kita memberi makanan untuk berbuka puasa, maka dijanjikan pahala seperti orang yang berpuasa, tidak terkurangi sedikit pun.  Demikian besarlah kasih sayang Allah untuk orang-orang yang berpuasa dengan penuh harapan dan penghisaban.

ShalatTarawih adalah amalan sunnah yang sangat dikuatkan untuk dilakukan selama bulan suci Ramadhan. Dengan shalat Tarawih kita diharapkan lebih mendekatkan diri dan mohon ampunan kepada Allah SWT, meskipun untuk Puasa Ramadhan tahun ini shalat tarawih dilaksanakan di rumah, tidak di masjid. Tadarus yang berarti membaca Al-Qur’an, mengandung makna yang lebih dalam agar di samping membaca Al Qur’an, kita dituntut untuk memahami kandungan yang ada di dalamnya, baik dengan membaca tafsir dan buku-buku, mendengarkan ceramah, ataupun mengadakan dialog sehingga benar-benar kita memahami akan kewajiban yang harus dilakukan dan larangan yang harus ditinggalkan, sehingga kitab suci Al-Quran betul-betul sebagai pedoman hidup. Ayat yang pertama kali diturunkan adalah berupa perintah untuk membaca (Iqra’), ini menandakan akan pentingnya pengetahuan bagi manusia agar dia benar-benar dapat melaksanakan fungsinya sebagai Hamba Allah (Abdullah) dan  Khalifah Allah atau Wakil Allah  di muka bumi ini.

Jadi,  yang bisa kita harapkan dengan datangnya  bulan suci Ramadhan ini adalah semangat perubahan untuk mengajak kepada amar ma’rufdan meninggalkan yang munkar,  tidak hanya berhenti dengan habisnya bulan Ramadhan. Semangat itu haruslah dijaga dan dipupuk di bulan lain dan seterusnya untuk menjadikan Ramadhan kali ini sebagai sebuah langkah awal   bagi kita bangsa Indonesia khususnya, dan umat Islam sedunia pada umumnya untuk bangkit dari keterpurukan menuju masyarakat yang diridlai Allah subhanahu wata’ala dan penuh dengan pengampuan-Nya, atau masyarakat yang baldatun thayyibatun  warabbun ghafur. Semoga!!!

(Visited 64 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 7 Mei 2020
Close