Ditulis oleh 2:37 am KALAM

Pusat Sains: Mulai Dari Desa

Gagasan atau tepatnya tantangan yang diajukan Syamsudin, dalam “Memungkinkan DIY Pusat Sains,” terasa menyentak, kendati dapat dikatakan bahwa tidak ada suatu kebaruan dalam pemikiran tersebut. Mengapa dikatakan menyentak? Karena gagasan tersebut merupakan pikiran lama (2010) yang diangkat kembali, dan dengan diangkat pikiran tersebut, nampak bahwa suatu gerak ke arah pemajuan sains di DIY (dalam kerangka mencapai apa yang dibayangkan Syamsudin), tidak terasa.

Sebagai contoh, apakah kebijakan publik yang dihasilkan, merupakan kebijakan yang mengambil jalur atau mengandalkan hasil-hasil riset atau berbasis pada riset? Apakah kultur keilmuan telah tumbuh dan membawa pengaruh kepada tata pergaulan masyarakat?

Berkembangnya berita hoax, dan sejenisnya – dari dari sisi pengirim atau penyebar maupun dari sisi penerima, sesungguhnya menunjukkan belum bekerja tradisi keilmuan di kalangan masyarakat, sehingga cara kerja “pengecekan informasi” tidak berjalan.

Akibatnya, suatu informasi yang tidak jelas sumber dan kualitas kebenarannya, telah menjadi konsumsi publik dan sekaligus ikut andil dalam membentuk kesadaran publik.

Keadaan yang demikian itu, bukan saja akan membawa dampak yang kurang baik, namun juga merupakan gerak yang bertentangan dengan semangat pendirian negara, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh sebab itulah, suatu upaya untuk memungkinkan apa yang dibayangkan oleh Syamsudin merupakan hal penting yang patut didukung. Soalnya, darimana harus mulai?

Desa.

Setelah reformasi, khususnya dengan terbitnya UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, posisi desa telah mengalami perubahan yang sangat penting. Perubahan itulah yang memperluas ruang gerak dari gerakan pembaruan desa yang mulai tumbuh sejak akhir 1998, seiring jalan dengan proses reformasi. Ide dasar pembaruan desa adalah proses transformasi yang sepenuhnya didorong oleh desa, dan bukan oleh kekuatan luar.

Semangat reformasi yang bergerak ke semau lini, mendorong menguatnya ide untuk membangun basis baru demokrasi, tentu agar desa tidak sekedar menjadi lumbung suara ketika musim pemilu datang, akan tetapi menjadi arena dimana warga desa dapat menggunakan seluruh potensi sosial-ekonomi, sosial-kultural dan bentang alam yang dimilikinya.

Agar dapat membangun desa yang sepenuhnya datang dari prakarsa warga, tentu dibutuhkan suatu cara baru. Kemampuan desa perlu ditingkatkan. Kearifan lokal perlu diperkuat dan dikombinasikan dengan pengetahuan baru dan kemampuan baru. Hal ini dibutuhkan, agar apa yang selama ini sesungguhnya merupakan penemuan warga desa, dapat menjadi pengetahuan yang diakui. Pada waktunya, harus diakui bahwa desa adalah juga produsen pengetahuan.

Pengetahuan yang dimaksud, misalnya kemampuan warga dalam membangun situasi yang memungkinkan rekonstruksi paska bencana alam dapat berjalan secara lebih cepat dan konstruktif. Kemampuan warga desa untuk terus berproduksi dan mengembangkan berbagai teknik cocok tanam, dan berbagai pengetahuan lainnya.

Berbagai pengetahuan lama tersebut, yang terbukti dapat menjadi alat untuk bertahan hidup, dalam jangka waktu yang panjang, tentu akan dapat dikembangkan menjadi pengetahuan yang sama dengan pengetahuan yang dikembangkan di pusat-pusat riset ilmu.

Apa yang hendak dikatakan disini bahwa perubahan yang berlangsung di desa, terlebih setelah terbitnya UU Desa pada Januari 2014, makin memperlebar ruang prakarsa desa, untuk dapat tumbuh dengan berbasis kemampuan setempat. Kesemuanya akan lebih cepat dalam gerak manakala desa menjadi pusat sains.

Darimana Memulai?

Ide untuk menjadikan desa sebagai pusat sains, tentu bukan hal yang mudah diterima. Terutama jika salah sangka berkembang, atau jika cara pandang sempit yang bekerja. Gagasan menjadikan desa sebagai pusat sains, pertama-tama harus diletakkan dengan semangat untuk melengkapi desa dengan peralatan yang dibutuhkan untuk dapat maju dan tidak lagi bergantung dengan kekuatan luar.

Ide ini tidak perlu ditabrakkan dengan ide kearifan lokal atau tidak perlu dikonfrontir dengan pikiran tentang bagaimana menjaga keaslian desa.

Jika kita datang ke desa saat ini, tentu akan dijumpai wajah desa yang baru. Bahkan jika dilihat tampilan kantor desa, dapat dikatakan telah banyak berubah.

Hanya sedikit desa yang tidak dilengkapi dengan kemampuan kerja sebagai teknologi informasi. Baik pemerintah, swasta atau gerakan masyarakat sipil, berusaha agar desa dapat mengakses dunia melalui teknologi informasi.

Apa artinya? Bahwa ide menjadikan desa sebagai pusat sains, sebenarnya bukan ide yang luar biasa atau bukan hal istimewa. Mungkin tantangannya adalah apakah para penguasa ilmu bersedia berbagi? Mungkin disinilah tantangannya.

Untuk melangkah ke sana, dibutuhkan kerjasama dan saling percaya. Dialog dengan berbagai model perlu dikembangkan. Bahkan debat atas masalah ini harus diperluas.

(Visited 22 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 3 Juni 2020
Close