Rahmatan Lil ‘Alamin

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Frasa ini sangat populer dan sering meluncur dari mulut para penceramah atau narasumber talk-show ketika menggambarkan salah satu karakter atau prinsip utama Islam sebagai agama yang merangkul atau mengayomi semua pihak dan dalam semua hal.

Satu lagi partai peserta pemilu hadir di hiruk pikuk perpolitikan kita meramaikan percaturan politik tanah air. Partai besutan Prof. Dr. Amin Rais diberi nama Partai Umat itu penggalan lirik marsnya berusaha menghimpun dan menyatukan umat dengan slogan rahmatan lil ‘alamin. Kalau melihat dari slogan tersebut jelas bahwa Partai Umat bernafaskan Islam, apalagi tokoh pendirinya sudah teruji dalam kancah perpolitikan kita yang selalu berdiri menegakkan ajaran Islam. Bait terakhir mars Partai Umat diambil dari Surat Al Anbiya (21) ayat 107: “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Menarik untuk kita bicarakan tentang rahmatan lil ‘alamin ini. Frasa ini sangat populer dan sering meluncur dari mulut para penceramah atau narasumber talk-show ketika menggambarkan salah satu karakter atau prinsip utama Islam sebagai agama yang merangkul atau mengayomi semua pihak dan dalam semua hal. Prasa ini biasanya makin lantang dikumandangkan di berbagai mimbar dan forum tiap kali muncul aksi kekerasan yang bernuansa keagamaan.

Saking seringnya terdengar, akhir-akhir ini banyak pejabat negara, dan cendekiawan umum fasih mengucapkannya. Saya berasumsi positif, semoga mereka mengucapkannya dengan pemahaman yang utuh, bukan sekedar ikut-ikutan. Pertanyaannya, sesungguhnya apa makna Rahmatan-lil-‘alamin itu?

Secara etimologis, kalimat itu terdiri dari tiga bagian rahmat, li, dan ‘alamin. Rahmat (anugerah atau kasih) artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba. Rahmat dapat diartikan juga dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia. Huruf li (untuk) dan kata ‘alamin adalah bentuk plural dari kata alam yang berarti seluruh alam. Secara terminologi, dalam ilmu kalam (teologi Islam), kata alam didefenisikan “segala sesuatu selain Allah”, yang mencakup seluruh makhluk hidup dan benda (padat cair gas) serta makhluk/ciptaan abstrak.

Karena itu, pengertian dasar frasa rahmatan lil-‘alamin adalah bahwa Islam merangkul atau mengayomi semesta dan segala isinya, tanpa kecuali. Sampai di sini, tidak ada persoalan. Persoalannya mulai muncul ketika kata kasih/rahmat atau “merangkul dan mengayomi” itu coba diimplementasikan dalam kehidupan praktis.

Untuk menerapkan frasa rahmatan lil-alamin itu secara benar dan tepat, diperlukan pemahaman yang utuh terkait beberapa catatan sebagai berikut.

Pertama, memahami makna kata rahmat dengan benar, karena ini doktrin paling mendasar dalam proses pembelajaran. Pemahaman yang dimaksud tidak sekadar etimologis (kajian kebahasaan), tapi juga pemahaman terminologis (defenitif), yang dikombinasikan dengan faktor historis.

Untuk memahami suatu kata ada beberapa metode, antara lain dengan cara menyandingkan sebuah kata yang ingin dipahami (dalam hal ini rahmat) dengan kata kontrasnya. Artinya, tidak rahmat adalah semua tindakan yang bersifat kejam, keras, tidak manusiawi, dan intoleran, serta radikal. Namun dalam proses pemahaman dan pemaknaan tentang kejam, keras, tidak manusiawi, intoleran dan radikal tersebut, harus mengacu pada aturan atau prinsip yang jelas. Jika tidak, tiap orang akan cenderung memahaminya sesuai kehendak, pengalaman dan pengetahuannya. Kalau ini dibiarkan, akan memicu perdebatan yang tak ada ujung pangkalnya, sehingga kita tidak bisa membangun masyarakat, bangsa dan negara. Tenaga, pikiran, biaya dan waktu hanya dihabiskan untuk berdebat terus.

Dalam Islam, untuk mecegah terjadinya pemahaman dan implementasi yang ngawur terhadap suatu prinsip yang bersifat umum dan fleksibel, umumnya dibingkai dalam acuan yang jelas, yaitu syariat. Contoh: Islam mengasihi atau merangkul dan mengayomi semua binatang, tanpa kecuali. Ini prinsip dasarnya. Tapi tidak bisa diartikan misalnya dengan mengatakan bahwa babi itu halal. Karena terkait babi, sudah ada aturan syariatnya (haram).

Contoh lain: jika di suatu kampung tiba-tiba muncul ular piton besar yang memangsa ternak dan orang, maka ular piton itu wajib dibunuh. Jangan dengan argumen rahmatan lil-‘alamin lantas mengatakan, udah, biarin aja ular piton itu berkeliaran, dia butuh hidup.

Kedua, dalam kajian ke-Islam-an, syariat Islam selalu diposisikan sebagai bagian dari rahmat Allah kepada hambanya. Sikap dasar yang mestinya menjadi acuan utama dalam memperlakukan syariat adalah ketaatan, bukan analisa dan interpretasi.

Ketiga, bahwa rahmat Islam tidak bisa diartikan secara mutlak anti kekerasan. Sebab jika rahmat itu diartikan mutlak anti kekerasan, maka konsekuensinya kita akan membatalkan beberapa hukum, yang bagi sebagian orang dianggap kejam dan tidak manusiawi, seperti hukuman qishas (vonis mati bagi pembunuh), atau rajam (bagi pezina yang sudah menikah) atau potong tangan (bagi pencuri yang memenuhi syarat jumlah curiannya). Tegasnya, jangan dengan argumen rahmatan lil-‘alamin lantas hukum yang terkesan kejam itu lantas ditiadakan.

Membunuh tanpa alasan syariat jelas diharamkan. Tapi sistem hukum apapun di dunia ini mengakui bahwa dalam pertempuran atau perang, misalnya, membunuh adalah pilihan pertama yang paling rasional. Prinsip yang berlaku: dari pada saya yang mati, lebih baik musuh yang mati. Perbedaan pandangan atau interpretasi muncul ketika membahas kapan suatu keadaan dapat dikategorikan sebagai suasana perang dan kapan tidak.

Keempat, memahami tiap prinsip Islam mestinya tetap mengacu atau dalam bingkai dan paradigma Islam. Memahami sebuah frasa, harus mengacu pada paradigma yang melatari paradigma tersebut. Jika tidak, kecenderungan munculnya interpretasi yang nyeleneh sangat besar. Misal: jika mengacu pada paradigma HAM murni, konklusinya pasti akan berakhir dengan mengatakan, hukum rajam anti HAM, qishash itu tidak manusiawi.

Keenam, Islam dan hukum-hukumnya bukan untuk dicocok-cocokkan dengan agama apapun atau konsep apapun. Dan memang salah satu perdebatan yang sering memunculkan kontroversi adalah ketika salah satu pihak mencoba atau bahkan terkesan memaksakan upaya mencocok-cocokkan itu.

Ketujuh, tiap pemahaman dasar terkait suatu prinsip Islam, juga tidak boleh dipaksa-paksakan untuk diterima oleh kelompok komunitas selain Islam. Sebab unsur pemaksaan itu sendiri sebenarnya sudah bertentangan dengan prinsip rahmat (merangkul dan mengayomi). Dan poin yang terakhir ini ranahnya adalah dakwah. Dan tiap dakwah adalah proses meyakinkan, bukan proses memaksakan. Kalau kemudian pelaksanaan berbeda meski semboyannya sama, maka yang paling arif tentu bersikap lana a’maaluna walakum a’maalukum (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu), diam, tidak perlu mengkritik terus menerus untuk kepentingan pemaksaan kehendak supaya ikut dirinya atau kelompoknya.

Perselisihan pendapat di antara manusia adalah hal biasa, demikian juga di antara kaum Muslimin. Karena hal itu memang merupakan tabi’at manusia. Yang terpenting adalah menyikapi perselisihan sesuai dengan perintah Allâh Azza wa Jalla, yaitu mengembalikan segala perkara yang diperselisihkan kepada Allâh dan Rasul-Nya. Jangan sampai perselisihan menjadi sebab perpecahan yang diharamkan. Bukankah begitu?!

Dr. R. Wakhid Akhdinirwanto, M.Si.

Dr. R. Wakhid Akhdinirwanto, M.Si.

Dosen Pendidikan Fisika, FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo. Ketua takmir Masjid Masyfa Simpang Lima Wates (Proliman) Kulon Progo.

Terbaru

Ikuti