Ditulis oleh 9:05 pm KABAR

Ramadhan dan Pendidikan Talenta Berbasis Self Leadership : Momentum Untuk Kebangkitan Bangsa

Dari perspektif pendidikan sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan yang komprehensif dengan menjadikan pendidikan hati sebagai keutamaannya sehingga insan menjadi bertakwa.

Ramadhan sudah berada di penghujung. Ada kesedihan dan kerinduan Rasulullah SAW saat Ramadhan berlalu. Rasulullah SAW sangat merindukan bulan suci yang penuh barokah ini.dan selalu berdoa agar umatnya mendapat kesempatan untuk bertemu bulan mulia ini di tahun berikutnya. Bagaimana dengan kita dan bangsa kita? Apakah kita pernah bertanya dan berpikir dengan hati, apakah ini Ramadhan terakhir bagi kita? Mari kita jadikan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya sehingga kita menjadi pribadi Rahmatan lil’ alamin dan menjadi modal kebangkitan bangsa kita.

Dari perspektif pendidikan sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan yang komprehensif dengan menjadikan pendidikan hati sebagai keutamaannya sehingga insan menjadi bertakwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah 2:183). Dengan demikian, outcome sekaligus impak Ramadhan adalah lahirnya pribadi yang semakin bertakwa dan semakin membawa perubahan kebaikan bagi diri, keluarga dan lingkungannya. Dengan Ramadhan menjadi momentum luar biasa melahirkan oramg-orang yang menjadi modal sumberdaya manusia bagi kebangkitan bangsa. Modal sumberdaya manusia ini dapat kita sebut sebagai talenta bangsa. Talenta jelas bermakna positif bagi kebangkitan suatu bangsa.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mewujudkan talenta yang mengemban kebaikan bagi bangsa? Setiap pribadi pembelajar adalah subjek dalam belajar yang memiliki self leadership.

Self leadership menjadi kunci penting pengembangan sumberdaya manusia sehingga setiap anak bangsa menjadi talenta bangsa. Pendekatan self leadership menekankan bahwa setiap orang punya misi (sesuatu yang dia emban) dan visi (sesuatu yang ingin dia wujudkan) untuk kebaikan dirinya, keluarga dan lingkungannya. Upaya spiritualitas dengan mendekatkan diri pada Allah SWT menjadikan kita memiliki energi yang luar biasa bagi hati sehingga lebih bersih, pikiran menjadi lebih jernih, sikap dan perilaku menjadi optimis, bahagia dan produktif.

Upaya self leadership berikutnya adalah menjadikan diri kita bukan sekedar pribadi yang optimis, bahagia dan produktif, lebih jauh dari itu self leadership mendorong kita menjadi subjek untuk lebih baik dan bermakna bagi lingkungan. Inilah sejatinya misi yang kita emban menjadikan diri kita beribadah pada Allah SWT baik dari sisi ibadah ritual maupun ibadah sosial dengan memberikan impak kebaikan pada lingkungan kita. Di sisi Allah SWT, sebaik-baik kita adalah yang bermanfaat buat orang lain. Ini adalah key performance indikator kita menjadi orang yang bermakna bagi lingkungan. Bahkan dalam berbagai pengalaman spiritual, mereka yang membahagiakan orang lain menjadikan diri mereka labih bahagia. Saya jadi teringat pesan almarhum adik saya yang meninggal di usia muda setahun yang lalu bahwa hidup kita bukanlah menang dan kalah, akan tetapi merajut silaturahmi dengan membahagiakan mereka dalam kebaikan.

Dalam mewujudkan kualitas kebaikan kita, maka mulailah dengan perbaikan diri kita sendiri dan keluarga kita. Untuk itu kita harus selalu belajar dan berinovasi dengan selalu melakukan perbaikan terus menerus seperti pesan Rasulullah SAW, hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini.

Dalam mewujudkan kualitas kebaikan kita, maka mulailah dengan perbaikan diri kita sendiri dan keluarga kita. Untuk itu kita harus selalu belajar dan berinovasi dengan selalu melakukan perbaikan terus menerus seperti pesan Rasulullah SAW, hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini. Ini adalah nasihat untuk kita dan keluarga kita untuk selalu melakukan perbaikan dan pembelajaran terus menerus (continuous improvement and learning).

Dengan demikian self leadership menjadikan setiap individu mengoptimalkan bulan Ramadhan untuk menjadikan diri mereka talenta bagi bangsa. Talenta tidak hanya berkaitan dengan kualitas dan kompetensi setiap anak bangsa. Lebih jauh lagi makna talenta dalam pengertian ini mencakup kompetensi, komitmen dan kontribusi yang dihasilkan dari pembelajaran berbasis self leadership. Kompetensi berkaitan dengan peningkatan pengetahuan, keterampilan dan tata nilai spiritual untuk menjadikan pembelajaran komprehensif berbasis hati. Bulan Ramadhan menjadi sekolah yang luar biasa menjadikan hati sebagai fondasi belajar. Sedangkan komitmen bermakna bahwa setiap anak bangsa mencurahkan kompetensi yang dimilikinya untuk kebaikan bangsanya. Bulan Ramadhan memberikan arah agar kita memiliki ikatan pada kemanusiaan. Terakhir adalah kontribusi bermakna setiap anak bangsa melahirkan karya-karya indah dengan makna besar bagi bangsa. Bulan Ramadhan menjadikan kita untuk meningkatkan kualitas kebaikan kita bagi lingkungan dan bangsa kita.

Semoga tulisan ini mengingatkan saya pribadi dan pembaca pada umumnya bahwa kita adalah talenta yang ditunggu peran sertanya untuk membangun bangsa. Self leadership kita adalah keputusan dan aksi nyata untuk menjadikan diri kita talenta itu. Mari jadikan bulan Ramadhan ini menjadi momentum kebangkitan bangsa seperti halnya semangat 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional.

(Visited 41 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 21 Mei 2020
Close