Ramadhan di Tengah Pandemi, Ujian Kesabaran Tingkat Tinggi

Azizah Herawati, S.Ag., M.S.I.
Kesabaran ketika menerima dan menghadapi musibah adalah sebuah keniscayaan.

Badai Covid-19 masih melanda dunia. Tidak terkecuali di negeri kita tercinta, Indonesia. Pandemi yang berkepanjangan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Tak mengherankan jika suasana Ramadhan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya menjadi ujian tersendiri bagi kaum muslimin khususnya, maupun masyarakat pada umumnya. Bagi kaum muslimin, berbagai macam ibadah khas bulan Ramadhan seperti tadarus dan tarawih yang biasanya dilakukan dalam kebersamaan dan penuh kemeriahan, kali ini harus dilakukan dalam kesunyian. Cukup di rumah masing-masing, bersama keluarga. Sementara bagi masyarakat pada umumnya, suasana Ramadlan juga dirasakan sangat berbeda. Para pedagang yang biasanya kelarisan dan banjir pembeli, kali ini dirasakan sepi. Belum lagi, adanya pengurangan pekerja di berbagai kantor dan perusahaan juga menambah rentetan kepiluan negeri ini.

Ujian kesabaran tingkat tinggi adalah ungkapan yang sangat tepat disematkan untuk suasana saat ini. Tentu kita sudah terbiasa berlatih sabar dengan berpuasa Ramadhan. Sebagaimana diajarkan oleh para mubaligh bahwa salah satu hikmah puasa adalah melatih kesabaran. Ya, kesabaran menahan hawa nafsu, baik makan, minum maupun hubungan seksual sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa juga mendidik kita menghindari segala hal yang bisa mengurangi pahala puasa, sehingga nantinya puasa kita tidak sia-sia. “Puasa adalah perisai”, demikian ungkapan pembuka dari sebuah hadis. Perisai sebagaimana fungsinya yaitu menahan. Menahan diri dari hal-hal bisa membatalkan puasa.

Istilah sabar sendiri secara bahasa berarti menahan. Sedangkan secara istilah menahan diri dari segala macam bentuk kesulitan, kesedihan atau menahan diri dalam menghadapi segala sesuatu yang tidak disukai dan dibenci. Kesabaran terbagi menjadi tiga terkait dengan dalam kondisi seperti apa kita harus bersabar. Termasuk kaitannya dengan suasana Ramadhan dalam kondisi pandemi Covid-19 yang masih melanda seperti saat ini.

Pertama, kesabaran dalam melaksanakan ketaatan, dalam hal ini ketaatan kepada Allah SWT. Kesabaran tidak terbatas saat menghadapi kesulitan saja, namun dalam melaksanakan ketaatanpun dibutuhkan kesabaran. Mengapa demikian? Karena saat melaksanakan ketaatan, terkadang kita dihadapkan pada berbagai kondisi yang sering dijadikan alasan untuk tidak melaksanakan ketaatan kepada Allah. Misalnya tidak melaksanakan sholat karena sibuk, tidak puasa karena kelelahan dalam bekerja dan lain sebagainya. Demikian pula kesabaran ketika memerintahkan ketaatan. Sebagai contoh, kesabaran ketika memerintahkan anak untuk melaksanakan sholat. Ada saja godaan dan cobaan yang membuat kita tidak sabar. Entah malas lah, ngantuk lah, sibuk lah dan banyak sekali alasan. Tentu saja hal ini menuntut kita tetap sabar dan tegas dalam memerintahkan dan mendampingi mereka untuk tertib shalat.

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam melaksanakannya”. (QS Taha 132)

Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, tuntutan untuk menjalankan ketaatan membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Suasana yang tidak kondusif sering dijadikan alasan bagi sebagian orang untuk tidak melaksanakan ketaatan. Apalagi adanya semacam dispensasi untuk tidak melaksanakan ketaatan secara normal sebagaimana mestinya, menjadikan sebagian orang abai terhadap aturan. Jangankan ketaatan kepada aturan Allah SWT, ketaatan kepada aturan manusiapun juga diabaikan. Upaya pencegahan penularan Covid-19 dengan aturan untuk stay at home, social distancing, menggunakan masker dan lain sebagainya membutuhkan kesabaran dan kesungguhan dalam melaksanakannya. Tentu tujuannya satu, menyelamatkan diri sendiri dan oranglain.

Kedua, kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan. Menjauhi kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran. Sering kita dapatkan berbagai bentuk kemaksiatan yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik seseorang untuk melakukannya. Peran media sosial sangat besar dalam mempengaruhi masyarakat untuk melakukan kemaksiatan. Ada beberapa alasan orang tertarik melakukan kemaksiatan. Saya sempat mengamati salah satu adegan dan dialog menarik dalam sinetron “Preman Pensiun 4” antara seorang bandar copet kepada salah seorang yang akan ditarik menjadi anggotanya. Ada tiga pertanyaan yang diajukan pada calon anggotanya, “Kamu miskin? Kamu pengangguran? Kamu lemah iman?”. Sempat geli saya mendengarnya. Tapi sayapun mengiyakan.

Miskin dan pengangguran ibarat dua sisi mata uang. Dua hal yang saling berhubungan, tidak bisa dipisahkan. Salah satu indikator orang miskin adalah ketiadaan pekerjaan alias pengangguran. Karena menganggur, dia tidak mendapatkan penghasikan, jadilah dia miskin. Kondisi demikian, apabila tidak dilandasi keimanan, tentu akan terdorong untuk melakukan kemaksiatan. Bahkan bisa jadi menanggalkan keimanannya dan menjadi kafir. Sabda Rasulullah SAW “Hampir-hampir kefakiran (kemiskinan) itu menjadikan kekafiran”. Dampak pandemi covid 19 yang mengakibatkan terpuruknya ekonomi, menjamurnya penganggur karena PHK membutuhkan kesabaran untuk menghadapinya. Menjaga keistiqomahan untuk tetap berada di jalan-Nya adalah sebuah keniscayaan. Tentu kita prihatin dan mengecam tindakan mengambil hak orang lain seperti mencuri dan merampok dengan dalih terdampak pandemi. Landasan iman-lah yang harus diperkuat, di samping terus dicarikan solusi terbaik dalam mengentaskan kemiskinan. Solidaritas sosial harus terus dibangun untuk saling membantu saudara-saudara kita yang terpuruk.

Baca juga: Self Discipline Di Tengah Pandemi Covid-19

Ketiga, kesabaran ketika menerima dan menghadapi musibah. Kesabaran ketika menerima dan menghadapi musibah adalah sebuah keniscayaan. Karena musibah adalah bagian dari ketentuan dan ujian dari yang Maha Kuasa. Dibutuhkan ketahanan diri untuk menghadapinya. Di samping adanya kesediaan mengambil hikmah dari setiap musibah dan menyadari bahwa semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Karena pada dasarnya manusia akan diuji dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan, kehilangan harta dan jiwa. Kesabaran dalam menghadapinya akan membuahkan Sikap demikian akan membuahkan ampunan, kasih sayang dan petunjuk dari Allah, Sang Maha Pencipta. (QS Al Baqarah 155-157)

Musibah berupa pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai ini hendaknya kita sadari sebagai bagian dari ujian Allah SWT. Ujian merupakan sarana penilaian, apakah kita lulus atau gagal. Apabila kita bersabar, tetap istiqomah di jalan-Nya dan berusaha mengambil hikmah dari musibah ini, maka kita akan berada pada derajat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Sebagaimana Allah menciptakan hidup dan mati adalah sebagai sarana menguji siapa di antara kita yang paling baik amalnya. (QS Al Mulk 2). Tentunya dengan tidak berhenti berdoa semoga badai segera berlalu. Tetap teguh dalam kesabaran, baik dalam melaksanakan ketaatan, menjauhi kemaksiatan dam menghadapi musibah.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close