Ramadhan Hadir di Setiap Bulan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Saat ini kita berada dalam bulan Ramadhan, namun siapkah kita untuk membawa ramadhan di bulan lainnya, dengan berpuasa Muharam, berpuasa senin dan kamis atau puasa Dawud? Serta ibadah-ibadah lainnya.

1. PENGANTAR

Indonesia adalah Negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Ini adalah fakta sekaligus suratan takdir bagi kita yang lahir dan besar serta tetap istiqamah dalam agama kita yakni Agama Islam, rahmatan lil alamin. Indonesia dan Islam bagi kita semua-sebagai penduduk di negeri ini-adalah rahmat, dan jika rahmat itu tidak kita rawat dan tidak kita pertahankan sebagai wujud syukur kita kepada Allah SWT, maka tidak mustahil Allah akan mencabut rahmat tersebut dari negeri ini dan atau dari kita sebagai masing-masing pribadi.  Untuk merawat dan mempertahankan rahmat tersebut banyak caranya, diantaranya melalui upaya “menghadirkan ruh” bulan Ramadhan dimana bulan ini adalah bulan seribu bulan, dimana pada bulan ini adalah bulan dimana setan diikat oleh Tuhan, dimana pada bulan ini adalah bulan pendidikan jiwa dan raga kita, iman dan amal perbuatan kita. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” [QS: 2; Al Baqarah: 183].

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” [QS: 2; Al Baqarah: 185].

“Sesungguhnya KAMI menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam (17 Ramadhan) yang diberkahi dan sesungguhnya KAMI-lah yang memberi peringatan.” [QS: 44; Ad Dukhaan : 3].

Ada tiga kata kunci dalam perintah berpuasa pada Surat Al Baqarah Ayat 183, pertama “iman” sebagai prasyarat, bahwa orang yang akan berpuasa wajib yakin dan percaya bahwa itu adalah perintah Allah yang sangat banyak manfaat kebaikannya bagi jiwa dan raga; kedua “puasa” sebagai proses (menuju derajat takwa), yang dilakukan dengan niat yang tulus ikhlas dengan sebaik-baiknya; ketiga “takwa” sebagai buah dari iman yang benar dan berpuasa yang baik sesuai syariat, dan buah itu berupa bekal untuk menghadap kepada-Nya. “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-KU hai orang-orang yang berakal.” [QS: 2; Al Baqarah: 197].

2. AKTIVITAS RAMADHAN SEBAGAI MODEL

Ada beberapa aktifitas di bulan ramadhan yang bisa diduplikasi pada bulan-bulan lainnya, antara lain (1) niat berpuasa, karena setiap perbuatan tergantung niatnya dan kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan, (2) berpuasa, menahan diri dari nafsu yang baik agar kita tidak terjebak pada sifat tamak dan serakah, apalagi terhadap nafsu yang diharamkanoleh Allah, (3) berbuka puasa dengan disegerakan, berbuat baik jangan ditunda-tunda namun juga jangan sampai melampaui batas hingga menabrak shalat diawal waktu sebagai ibadah yang wajib yakni datangnya shalat maghrib, karena shalat di awal waktu adalah ridha Allah, Rasulullah bersabda, “Melaksanakan shalat pada awal waktu diridhai Allah dan melaksanakan pada akhir waktu dimaafkan Allah” [HR. at-Tirmidzi, No. 172 ]. (4) shalat sunnah tarawih, yang dilakukan bakda shalat Isya, (5) makan sahur antara shalat tahajud dan shalat shubuh, yang dapat mendatangkan keberkahan-Nya, (6) I’tikaf di sepuluh hari terakhir, untuk mendapatkan pahala malam lailatul qadr, mengisyaratkan bahwa di akhir bulan puasa kita wajib beribadah semakin semangat bukan malah semakin melemah. Puasa diakhiri dengan upaya yang “husnul khatimah” di 1/3 akhir Ramadhan yang dilakukan dengan lebih sungguh-sungguh.  

3. DERIVAT RAMADHAN DI BULAN LAINNYA

Rasulullah bersabda, “Puasa paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di Bulan Muharam, dan shalat paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”. [HR. Muslim, No.614]. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya puasa (sunnah) yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Dawud; dan shalat (sunnah) yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Dawud, yaitu ½ malam Nabi Dawud tidur, 1/3 nya Nabi Dawud shalat malam, 1/6 nya Nabi Dawud tidur lagi. Juga Nabi Dawud sehari berpuasa dan sehari berbuka”  

[HR. Muslim, No.633]. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan, lalu ia mengikutinya enam hari di Bulan Syawal, maka seolah-olah dia telah berpuasa satu tahun penuh” [HR. Muslim, No.622]. Doa orang yang berpuasa tidak tertolak dan orang yang shalat tahajud doanya pasti diterima. Rasulullah bersabda, “Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, seorang penguasa yang adil dan doa orang yang dizalimi” [HR. at-Tirmidzi, No. 9].

Rasulullah bersabda, “Allah setiap malam turun ke langit yang paling bawah pada 1/3 malam yang terakhir, lalu berfirman, ‘Barangsiapa berdoa kepada-KU akan KU kabulkan, barangsiapa memohon kepada-KU akan KU beri, dan barangsiapa memohon ampun kepada-KU akan KU ampuni” [HR. Muslim, No. 1889].  

Sudahkah kita membawa ramadhan di bulan lainnya dengan berpuasa Muharam, berpuasa senin dan kamis atau puasa Dawud? Sudahkah kita mendirikan shalat sunah malam (shalat sunah tahajud) di 1/3 malam terakhir? Sudahkah kita membiasakan makan seperlunya saja dengan perut 1/3 makanan, 1/3 air, dan 1/3 udara sehingga tidak kekenyangan dan tidak boros (karena boros sahabat setan)? Rasulullah bersabda, “Janganlah manusia mengisi perutnya dengan sesuatu yang buruk. Cukuplah baginya beberapa suap makanan unuk menegakkan sulbinya (tulang punggung). Jika ia tidak melakukannya, maka 1/3 untuk makanan (energi), 1/3 untuk minuman (air memudahkan pencernaan) dan 1/3 lagi untuk udara (bernafas)” [HR. at-Tirmidzi].

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” [QS: 17; Al Israa‘: 26-27].

4. PRIBADI, KELUARGA, SUKU DAN BANGSA

Mulailah (1) dari diri sendiri, (2) dari supertim dalam suatu keluarga yang Islami, (3) dari kumpulan keluarga (suku) berupa silaturahmi Trah atau Bani dari keluarga besar ayah-bunda dan kakek nenek kita, (4) dari warga bangsa Indonesia yang terdiri dari bersuku-suku, (5) dari pergaulan antar bangsa di seluruh dunia; bisa diawali melalui niat dan melaksanakan ibadah umrah dan ibadah haji, dan bisa juga melalui aktivitas politik bermoral pada level organisasi “tertinggi di dunia” yakni eksistensi Indonesia di organisasi PBB yang selaras dengan ruh Islam sebagai rahmatan lil alamin.

5. KESIMPULAN

Berbuat baik itu bisa dimana-mana tidak harus menunggu datangnya bulan ramadhan saja, dan bulan terbaik itu (Ramadhan) bisa diimplementasikan ruh dan nilah moralnya pada bulan lainnya, karena kita tidak tahu kapan datangnya kematian yang ghaib dan tidak bisa dipastikan bagaimana caranya dan kapan datangnya, maka berbuat baiklah dengan segera, sehingga andaikan kita meninggalkan Ramadhan dengan diwafatkan Allah sebelum datangnya Ramadhan berikutnya,  kita sudah tidak kecewa. Shalatlah di awal waktu ketika azan telah berkumandang, karena shalat adalah ibadah yang telah ditetapkan waktunya, sekaligus ibadah yang paling utama dibandingkan dengan ibadah lainnya serta dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Berpuasalah walau bukan bulan ramadhan karena berpuasa merupakan ibadah yang dikhususkan untuk Allah semata.

Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, ‘Seluruh perbuatan manusia adalah untuknya kecuali berpuasa, sesungguhnya puasa untuk-KU dan AKU (Allah) yang akan membalasnya’. Puasa adalah perisai” [HR. Mulsim, No. 575], Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari saja karena Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya karena puasa pada hari itu dari api neraka sejauh 70 khoriif (70 musim)” [HR. Muslim, No. 613].

Buah dari beriman, kemudian berpuasa adalah menjadi insan yang bertakwa, dan buah dari orang yang bertakwa menurut Surat Ath-Thalaaq ayat 2-5 adalah: (1) “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya DIA akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” [QS: 65; Ath-Thalaaq: 2-3]; (2) “Dan barang-siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” [QS: 65; Ath-Thalaaq: 4]; (3) “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya” [QS: 65; Ath-Thalaaq: 5].  Wallahu a’lam bishawab.

Semoga Allah senantiasa mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, menunjukkan pintu kebaikan dan perbaikan melalui hati yang tidak dibutakan dan melalui akal yang disempurnakan oleh-Nya, melalui perbuatan amal yang saleh sebagai bentuk tanggungjawab kepada-Mu; semoga Allah meneguhkan dan meningkatkan iman kita, memberikan derajat ketakwaan kepada kita, tanpa usaha dan pertolongan-Mu serta perlindungan-Mu sungguh kami sangatlah lemah ya Allah, Ya Rabb kabulkanlah semua doa kami ini, Amiin YRA.


Sumber:

  1. [HR. Muslim, No.622], Imam Al-Mundziri, “Ringkasan Shahih Muslim”, Penerbit Jabal, Bandung, Cetakan Pertama, Juni 2012, hal. 243-244.
  2. [HR. Muslim, No.614], Imam Al-Mundziri, “Ringkasan Shahih Muslim”, Penerbit Jabal, Bandung, Cetakan Pertama, Juni 2012, hal. 241.
  3. [HR. Muslim, No.633], Imam Al-Mundziri, “Ringkasan Shahih Muslim”, Penerbit Jabal, Bandung, Cetakan Pertama, Juni 2012, hal. 247.
  4. [HR. at-Tirmidzi] Imam Ghazali, “Ringkasan Ihya’ Ulumuddin”, Penerbit Sahara Inti Sains, Bekasi, Cetakan keduabelas, Mei 2013, hal. 179.
  5. [HR. at-Tirmidzi, No. 172 ] Abu Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, “Ensiklopedia Hadits Jami’ at-Tirmidzi”, Penerbit Alhamira, Jakarta, Cetakan pertama, Maret 2013, hal. 69.
  6. [HR. Mulsim, No. 575], Imam Al-Mundziri, “Ringkasan Shahih Muslim”, Penerbit Jabal, Bandung, Cetakan Pertama, Juni 2012, hal. 230.
  7. [HR. Muslim, No. 613], Imam Al-Mundziri, “Ringkasan Shahih Muslim”, Penerbit Jabal, Bandung, Cetakan Pertama, Juni 2012, hal. 241.
  8. [HR. at-Tirmidzi, No. 9] Muhammad Faiz Almath, “100 Hadits Terpilih”, Penerbit Gema Insani, Jakarta, Cetakan kesepuluh, November  1996, hal. 74.
  9. [HR. Muslim, No. 1889], Imam Al-Mundziri, “Ringkasan Shahih Muslim”, Penerbit Jabal, Bandung, Cetakan Pertama, Juni 2012, hal. 709.
Teguh Sunaryo

Teguh Sunaryo

Penulis Buku The Power of Azan, Penerbit Wali Pustaka, Turos Group, Jakarta

Terbaru

Ikuti