Ditulis oleh 11:40 pm KABAR

Ramadhan ke Idul Fitri 1441 H, Momentum Kebangkitan!

Puasa Ramadhan 1441 H tahun ini memiliki momentum yang sangat penting. Puasa Ramadhan tahun ini sungguh-sungguh menuntut sekaligus melatih pola pikir, pola ucap, dan pola tindak kita yang berbeda dengan kebiasaan puasa Ramadhan sebelumnya.

Sebentar lagi Ramadhan akan berakhir dan akan tiba hari kemenangan yaitu Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Jika puasa Ramadhan ini dapat diselesaikan dengan tertib sesuai tuntunan Islam, maka insya Alloh tujuan puasanya tercapai. Terwujudnya pribadi yang bertaqwa (Q.S.2 Al-Baqarah: 183). Kualitas/nilai taqwa terkadang naik turun. Kita tentu berusaha setelah puasa Ramadhan ini, kualitas taqwanya meningkat. Lalu bagaimana menilai taqwa yang semakin meningkat? Secara sederhana saja, jika setelah Ramadhan selesai, kepribadian dan akhlaknya menjadi lebih baik dibanding sebelum Ramadhan.

Mengapa kualitas taqwa menjadi ukuran keberhasilan puasa Ramadhan? Karena menurut pandangan Islam, taqwa yang berarti taat dan patuh menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan Allah adalah sebagai ukuran kemuliaan seseorang. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kalian (Q.S 49 Al Hujurat: 13). Dengan demikian, dalam konteks menghadapi dan menyelesaikan berbagai permasalahan hidup yang semakin kompleks, terlebih-lebih dengan adanya wabah Covid-19, baik sebagai pribadi, bagian dari umat Islam dan bangsa Indonesia, sikap taqwa sangat diperlukan.

Puasa Ramadhan 1441 H tahun ini memiliki momentum yang sangat penting. Puasa Ramadhan tahun ini sungguh-sungguh menuntut sekaligus melatih pola pikir, pola ucap, dan pola tindak kita yang berbeda dengan kebiasaan puasa Ramadhan sebelumnya. Pilihan terbaik bagi orang yang bertaqwa adalah menghadapi dan menyelesaikan semua permasalahan hidup yang datang dengan mengedepankan sikap sabar dan syukur. Sabar dalam menerima musibah, syukur dalam menerima berbagai kenikmatan.

Menurut kajian penulis, minimal ada 5 nilai/sikap yang melekat pada pribadi orang yang bertaqwa:

Pertama, Taat. Taat atau patuh dalam hal ini meliputi taat kepada Allah (Alqur’an) dan kepada Muhammad Rasulullah SAW (sunnah Rasul) serta pemimpin yang amanah/dapat dipercaya. Apa yang diperintahkannya dijalankan, apa yang dilarangnya ditinggalkan (Q.S. 4 An Nisa : 59 dan Q.S.33 Al Ahzab: 36). Sebagai contoh dalam konteks menghadapi Covid-19, pribadi yang taat akan tetap menjalankan dan menjaga sholat lima waktunya serta shalat taraweh dan sunah-sunah lainnya meskipun di rumah saja, tidak di masjid. Dalam kaitan ini, di masyarakat terjadi perbedaan tanggapan terhadap himbauan dari pemerintah dan MUI. Karena ada juga golongan masyarakat yang tetap menjalankan shalat/ibadah di Masjid namun dengan tetap memperhatikan protokol-protokol kesehatan yang disampaikan oleh pemerintah dan MUI.

Kedua, Ahsan. Dalam konteks ini Ahsan diartikan selalu berusaha berbuat kebaikan. Pribadi yang bertaqwa, akan selalu berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan (Q.S.2 Al-Baqarah: 148). Pribadi yang bertaqwa meyakini bahwa menanan kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Kalaupun khilaf atau tidak sengaja terlanjur melakukan keburukan maka ia akan mengiringi keburukan itu dengan kebaikan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: ”Taqwalah engkau kepada Allah dimana saja engkau berada, dan iringilah suatu perbuatan buruk (jahat) dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlaq yang baik ( HR Timidzi). Ringkasnya, pribadi yang bertaqwa tidak suka melakukan perbuatan buruk (jahat) atau kriminal.

Ketiga, Qona’ah. Qanaah dalam hal ini diartikan hidup sederhana, merasa cukup dengan apa yang dimiliknya, tidak kikir namun juga tidak boros (Q.S. 17 Al Isra: 29). Pribadi yang demikian adalah cermin dari kemandirian, tidak tergantung pada orang lain. Mampu mngatur diri dan rumah tangganya dengan baik termasuk aspek ekonominya. Tetap gemar bersedekah, saat lapang maupun sempit ekonominya, bersikap sabar pada saat menerima musibah dan bersikap syukur pada saat menerima nikmat.

Pilihan terbaik bagi orang yang bertaqwa adalah menghadapi dan menyelesaikan semua permasalahan hidup yang datang dengan mengedepankan sikap sabar dan syukur. Sabar dalam menerima musibah, syukur dalam menerima berbagai kenikmatan.

Keempat, Wara’. Dalam konteks ini Wara’ berarti hidupnya tidak diperbudak oleh dunia, tetap memperhatikan kebutuhan dan kehidupan dunia, namun lebih memprioritaskan bekal untuk kehidupan akhirat yang abadi (Q.S.6 al-An’am: 32). Dengan demikian orang yang bertaqwa visi hidupnya jelas, hidupmya untuk yang Maha Hidup yaitu menggapai Ridho Allah SWT semata, hidup untuk mengumpulkan bekal hidup setelah mati. Dunia dan isinya dijadikan ladang untuk beramal shaleh. Ilmu, harta, jabatan/kedudukan dan kenikmatan duniawi yang lain dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk bekal hidup diakhirat yang kekal abadi. Karena sebaik-baik bekal adalah taqwa.

Kelima, Adil. Adil dalam konteks ini berarti menempatkan sesuatu pada tempat semestinya. Kalau memang benar dikatakan benar, kalau memang salah dikatakan salah, tidak plin plan. Tidak selalu menyalahkan orang lain dan mau mengakui kesalahan diri sendiri kalau memang salah dan bersedia memperbaiki diri. Adil terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsanya. Jika sebagai penegak keadilan, pribadi yang bertaqwa akan bersikap tegas dan adil kepada semua golongan (Q.S.4 An Nisa:135).

Jadi, pribadi yang bertaqwa minimal memiliki 5 nilai/sikap seperti diatas yaitu : Taat, Ahsan, Qona’ah, Wara’, dan Adil, disingkat TAQWA.

Bagaimana wujud konkritnya kalau kualitas taqwanya dinilai meningkat setelah puasa Ramadhan. Contoh konkrit diantaranya adalah:

  • Shalat seseorang tersebut semakin tertib dan khusu’, baik shalat fardhu maupun sunnah
  • Konsisten membaca, mempelajari, dan mengamalkan ajaran Al Qur’an, bahkan semakin rajin
  • Semakin bisa mengendalikan hawa nafsu hewaniahnya seperti suka marah/mengumpat, sombong, suka bermusuhan, berkata bohong, menipu, korupsi dan sejenisnya
  • Semakin peka dan peduli terhadap kedua orang tua, istri/suami/anak, keluarga/saudara, tetangga dekat dan jauh, sahabat-sahabat serta kaum dhuafa
  • Semakin semangat dalam belajar, bekerja, mencari nafkah untuk diri dan keluarganya, serta kesediaan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, beramar ma’ruf nahi munkarnya juga semakin meningkat
  • Sedekahnya semakin meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya
  • Intinya, setelah puasa Ramadhan selesai tuntas dan memasuki Idul Fitri 1441 H, kualitas ketaqwaannya semakin meningkat. Keshalehan pribadi dan keshalehan sosialnya juga meningkat. Sehingga keberadaan dan kehadiran dirinya dimanapun, kapanpun, dalam situasi bagaimanapun selalu memberi manfaat bagi sesama dan lingkungannya. Menjadi pribadi yang Rahmatan Lil ‘alamin, memberi rahmat dan manfaat bagi alam semesta.

Kesimpulannya, setelah Ramadhan usai kita tinggalkan kemalasan, kebodohan, keterbelakangan, permusuhan dan perpecahan umat dan bangsa, untuk bangkit dan berupaya keras secara bersama-sama dengan bimbingan Al Qur’an dan Sunah Rosul, mewujudkan pribadi-pribadi yang Rahmatan lil ‘alamin, yang memberi sumbangan nyata kepada kemajuan dan kesejahteraan umat Islam dan bangsa Indonesia.

(Visited 132 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 22 Mei 2020
Close