24.1 C
Yogyakarta
19 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Ramadhan Khusyuk, Sehat dan Aman

Oleh: Yona, Wahyudi

Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) DI Yogyakarta bersama Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) DI Yogyakarta menggelar diskusi online melalui aplikasi Zoom, bertema Ramadhan Khusyuk, Sehat dan Aman, Selasa, 21/4, kemarin. Diskusi ini melibatkan birokrat dan beberapa pakar lintas disiplin. Diantaranya adalah Drs. H. Mukhlas Abdullah, MSi. (Kanwil Kemenag DIY), KH. Abdul Muhaimin (Ponpes Nurul Ummahat Kotagede), Prof. Dr. Muhamad Ma Zing Ping (Ketua Dewan Masjid DIY).

Berikutnya ada Dr. Khamim Zarkasih Putro, M.Si (Korpres MW KAHMI DIY), Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., MA (Dewan Prnasehat ICMI DIY), dan Dr. Nandang Sutrisno (Dewan Pakar ICMI DIY). Dari kalangan medis dan kesehatan, ada Dr. Sagiran (Ketua IDI Bantul), Prof. Dr. Nurfina Aznam, SU.,Apt., (Pakar Herbal dan Farmakolog) serta Dr. Linda Rosita (Dekan Fak. Kedokteran UII). Untuk menambah khasanah pemikiran, hadir juga Prof. Dr. Chairil Anwar (Takmir Masjid Kampus UGM dan Dewan Penasehat ICMI DIY).

Ramadhan Menurut Dewan Masjid

Dimulai dari Dewan Masjid yang menggarisbawahi bahwa Dewan Masjid mendukung sepenuhnya upaya agar Covid-19 bisa segera cepat selesai dan berakhir. Caranya adalah laksanakan puasa dengan memenuhi protokol kesehatan. Agar tetwujud ibadah puada yang khusyuk, syar’i, tetapi juga aman dan menyehatkan bagi umat Islam. Menurut sejarah, tarwih Rasulullah sebenarnya dilakukan di rumah. Tarwih di masjid merupakan ijtihad dari Sahabat Umar. Pingin tarwih di Masjid? Tidak masalah. Sediakan saja masker, sanitizer, serta disiplin jaga jarak. Di samping itu, bersihkan karpet. Setidaknya, setahun dua kali. Menurut pengalaman, semakin bersih karpet, infak Insya Allah juga akan semakin banyak. Mengapa takut covid, bukan takut Allah? Pertanyaan ini bisa dijawab sederhana: bersediakah kita dimasukkan ke kandang singa? Karena, kerumunan dimanapun, potensi mengundang kematian. Tarwih di Zona hijau? Disarankan tetap dilakukan sesuai protokol kesehatan. Minimal, tidak melibatkan orang asing di dalamnya.

Ramdhan dan Kesehatan

Dari sisi etika dan kesehatan, sebenarnya umat Islam tidak harus kemudian melibatkan aparat dalam menghindari kerumunan. Tak perlu harus memberlakukan sanksi dan punishmen. Doktor dan dr Sagiran berseloroh, jika ada yang bersedia dioperasi gratis, dia siap melakukan. Tanpa biaya. Ada yang siap? Pada sisi lain, memang ada konsekuensi tinggal lama di rumah. Yakni, obesitas akan meningkat. Terkait ibadah puasa, konsumsi cairan 30 cc x berat badan dalam 24 jam. Kemudian patuhi protokol kesehatan secara disiplin.

Terkait banyaknya tenaga medis yang berguguran saat melawan Covid-19, ini disebabkan pasien sering tidak jujur. Pengidap positif, tetapi tidak bilang apa adanya. Menyebabkan meninggalnya banyak tenaga kesehatan. Puasa, sebenarnya tak hanya mengurangi jadwal makan dan minum. Tetapi juga mengurangi porsi dan volume makanan, ketika berbuka dan bersantap sahur. Ramadhan 1441 H, cukup menguntungkan. Karena umat Islam sudah terkondisi tinggal di rumah, untuk tafakur. Jika tiba saat iktikaf, tinggal meningkatkan intensitas tafakur.

Guna menunjang pelaksanaan Ramadhan yang khusyuk, aman dan sehat, maka SOP pelaksanaan social and physical distancing perlu ditaati bersama. Kemudian aktifitas fisik yang berlebihan perlu dikelola dan dibatasi. Secara umum, pembelajaran online ini lebih menguras energi. Tentang terbatasnya bantuan untuk kelompok lemah, ini jadi peluang dan ladang amal kita. Perhatikan nasib warga sekeliling kita agar kondisinya lebih sejahtera. Optimalkan masjid, PKK, Dasa Wisma dan sejenisnya. Bantuan pemerintah sulit diharapkan. Mungkinkah zakat maal dikonversi untuk memenuhi kebutuhan dasar warga? Ini tantangan bersama.

Ramadhan dan Regulasi

Dari sisi kebijakan, Kemenag DIY sudah menggariskan beberapa regulasi. Seperti bikin Surat Edaran. Sholat tarwih, dilakukan individual, atau berjamaah di rumah. Hindari kegiatan tarwih keliling, hindari takbir di jalanan. Takbiran cukup di masjid. Kemudian, tradisi halal bi halal agar dilakukan melalui medsos, hindarkan kopdar.

Selanjutnya, segerakan bayar zakat, infak dan sedekah karena sast ini banyak yang membutuhkan derma. Laksanakan ibadah ramadhan dengan menjaga ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah badyariah. Laksanakan protokol kesehatan dengan baik selama ramadhan. Pemerintah Daerah atau PemDes, agar tegas terhadap penegakan PSBB, khususnya di lingkungan zona merah.

Ada kesan, sebelum PSBB, aturan mengambang. Aturan tidak disertai sanksi. Jika aturan longgar, persebaran virus semakin ganas. Jika aturan berujung sangsi, pemerintah tak mampu mencukupi warga dengan subsidi. Akhirnya regulasi bervariasi. Ada kerumunan warga tang dibubarkan warga, ada yang tidak. Bahkan, ada pejabat yang membagikan bantuan dengan mengundang kerumunan. Sungguh tragis. Indonesia ini, lockdown bukan, bebas juga bukan.oderat juga bukan. Lebih tepatnya, negara yang gamang. Saat ini, tak perlu perang dalil untuk menekan corona. Tetapi perlu edukasi. Maukah kita jadi penyebab meninggalnya seseorang? Pada hal menyebabkan matinya seseorang, sama dengan menjadi penyebab meninggalnya umat manusia.

Puasa dan Pendidikan

Penyelenggaraan pendidikan, baik formal, informal, maupun nonformal, tak sepenuhnya rasional. Di dalamnya ada doktrin, penanaman iman, dan sejenisnya. Selama ini, keluarga membebankan pendidikan pada lembaga formal (sekolah, kampus, dll.). PSBB bisa meningkatkan kualitas hubungan orang tua dan anak. Dari bangun tidur, belajar, bersihin rumah, buka puasa, tarwih, tadarus hingga santap sahur. PSBB jadi sarana untuk evaluasi, apa yang sudah dan belum tertanam pada anak. Dulu anak ikut Iqra, sekarang masihkah tradisi tadarus berlangsung? Anak perlu didengar, dan duevaluasi, siapa saja teman dekatnya.

Saatnya untuk konsolidasi, siapa idola anak-anak kita? Sudah benarkah idola yg dimiliki anak kita? Belajar Dari Rumah (BDR) perlu kontrol. Karena, jadwal Dikbud di TVRI cuma satu jam. Waktu selebihnya untuk apa? Ini perlu kendali dan perencanaan. Perlu intervensi dari Kemenag dan Kemdikbud agar BDR bisa berlangsung baik. Yang mengkhatirkan medsos saat ini, 71,5.konten negatif, hanya 28,5 konten positif. Masjid jangan berhenti beraktifitas. Dorong agar para Ustad menghasilkan tulisan positif.

Kelola pendidikan untuk memanusiakan manusia. Jangan semua bicara pandemik terus. Kelola waktu kosong dengan positif. Pembelajaran jangan sepenuhnya bergantung pada gadget. Ada soft copy, ada pula hard copy. Perlu diingat, sekitar 50 warga tidak punya tool IT. Jika nereka diam, ini bisa jadi bom waktu.

Khusus 1441 H, pra Ramadhan anak-anak sudah terbiasa di rumah. Komunikasi anak dengan orang tua berjalan baik. Fungsikan rumah sebagai masjid yang baik. Ada bukber, tadarus, kultum, takjil, dan lain-lain. Jadikan Ramadgan sebagai bulan pembelajaran. Anak dilatih untuk lebih sabar, bisa kelola keinginan, kendalikan pola konsumsi, kendalikan emosi, tingkatkan rasa syukur.

Ramadhan dan Masjud Kampus

Pandemik tahun ini bukan yang pertama kita alami. Tahun 1918, dunia pernah diguncang pandemik Flu Spanyol. Kemudian tahun 1967, pandemik menggempur dunia lagi. Artinya, pandemik 2019-2020 bukanlah yang pertama. Pandemik 2020 juga melahirkan apresiasi pemerintah dan masyarakat yang luar biasa untuk tenaga kesehatan.

Dalam sejarah, Masjid, Kampus UGM pernah melakukan peran signifikan. Merintis Ramadhan Di Kampus pada tahun 1970-an, kemudian mengibspirasi berbagai Ramadhan di berbagai kampus. Setelah itu, memicu Ramadhan di Hotel Berbintang, Ramadhan di BUMN, dan sebagainya. Khusus Ramadhan 1441 H, pemerintah kita memiliki berbagai keterbatasan. Perlu kita bantu agar kelompok lemah bisa melewati masa-masa sulit ini dengan baik. Tegakkan protokol kesrhatan dengan cermat. Pemerintah Malaysia bisa mencukupi kebutuhan warga di saat lockdown. Kita belum mampu. Maka madyarakat perlu mengoptimalkan peran. Dengan begitu, impian mewujudkan Ramadhan Khusyuk, Aman dan Sehat bisa kita wujudkan.

Penulis adalah Jurnalis TVRI/Sekretaris ICMI DI Yogyakarta/Dewan Pengurus Yayasan Abdurrahman Baswedan

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA