Ditulis oleh 7:24 am COVID-19

(Re) Connecting Indonesia: Komunikasi, Memori, dan Solidaritas Sosial di Tengah Pandemi

Dalam kacamata Ibnu Khaldun bisa kita katakan bangsa yang kuat ashabiyah-nya relatif lebih kuat dalam bertahan dalam masa pandemi semacam ini sementara bangsa yang rendah ashabiyah-nya relatif mengalami problem besar

Yuval Noah Harari, seorang sejarawan sekaligus filusuf asal Israel, memberikan analisis tajam tetang kondisi dunia saat ini dimana ditandai dengan merebaknya pandemi Korona. Harari sendiri dikenal dengan karyanya Sapiens dan juga Homo Deus yang berbicara panjang lebar tentang sejarah manusia sebagai sebuah spesies yang berupaya mempertahankan eksistensi mereka (Harari: 2014). Menurut Harari salah satu poin determinan yang membuat manusia dapat bertahan di muka bumi ini sementara spesies lain tidak ialah kemampuan mereka untuk membangun solidaritas (Harari: 2014). Harari sendiri banyak menyinggung soal fiksi sebagai ide imajinatif untuk memastikan soliditas manusia dapat terus dipertahankan (Harari: 2014). Situasi inilah yang menurut Harari absen dari dunia kontemporer saat ini padahal manusia sedang menghadapi ancaman besar bagi eksistensinya akibar mewabahnya virus Korona (Harari: 2020). Harari secara spesifik menyinggung absennya leadership yang mambuat umat manusia saat ini cenderung terfragmentasi (Harari: 2020). Padahal tanpa adanya soliditas global yang kokoh maka sumber daya yang tersedia tidak dapat dimanfaatkan secara optimal (Harari: 2020).

Analisis Harari tentang pentingnya solidaritas pada tingkat spesies mengingatkan kita pada satu akademisi Muslim terkemuka Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun dianggap sebagai bapak sosiologi di dunia Muslim lewat karya magnum opusnya Muqaddimah. Sejalan dengan Harari, Ibnu Khaldun juga muncul dengan tesis tentang solidaritas sosial yang seringkali dikenal dengan gagasan ashabiyah (Baali: 1988). Bagi Ibnu Khaldun eksistensi peradaban bergantung pada kuat lemahnya ashabiyah ini (Baali: 1988). Jika lemah maka satu peradaban akan mengalami krisis dan sebaliknya jika kuat maka satu peradaban tersebut akan tetap eksis (Mohamed: 2017). Kajian ibnu Khaldun sendiri tidak berbicara tentang manusia sebagai satu spesies tetapi lebih pada lingkup yang lebih kecil yakni komunitas (Mohamed: 2017). Jika dikontekstualkan, ide Ibnu Khaldun ini dapat dipakai untuk melihat kondisi pada satu negara bangsa (Charrad: 2001). Sehingga ide Ibnu Khaldun ini bisa dipakai untuk melihat variasi ashabiyah yang eksis di era mewabahnya Korona secara global saat ini. Dalam kacamata Ibnu Khaldun bisa kita katakan bangsa yang kuat ashabiyah-nya relatif lebih kuat dalam bertahan dalam masa pandemi semacam ini sementara bangsa yang rendah ashabiyah-nya relatif mengalami problem besar bahkan bisa jadi mengarah pada krisis yang bahkan dapat berujung pada runtuhnya satu kesatuan kelompok tersebut.

Pada tataran global -sebagaimana dinyatakan Harari- secara kasat mata kita bisa melihat fragmentasi umat manusia dalam menghadapi wabah Korona. Ambil contoh rivalitas Amerika dan China. Dalam masa pandemi bukannya mereka berupaya berbagi pengalaman dan juga merancang kerjasama lebih strategis tetapi justru semakin kencang nuansa permusuhannya (Gover: 2020). Terakhir misalnya Donald Trump menuduh WHO berkomplot dengan China yang berakibat pada dimungkinkannya terjadi wabah dalam skala global (Farge: 2020). Belum lagi upaya Trump untuk menyebut virus Korona dengan istilah virus China. Hal ini sontak membuat pemerintah China marah dengan sikap tersebut (BBC: 2020). Namun tesis Harari ini tidak cukup membantu untuk mengelaborasi variasi solidaritas yang bekerja dalam satu negara bangsa karena tinjauannya cenderung makro (satuannya spesies bukan citizen). Namun jika tesis Harari ini dilengkapi dengan analisis Khaldunian setidaknya kita dapat memotret gambaran yang lebih detail seputar variasi solidaritas itu bekerja dalam aneka negara bangsa yang eksis saat ini.

Satu contoh menarik mungkin dapat dilihat pada kasus Kuba. Sebuah negara kecil yang dianggap berhasil dalam membangun satu sistem tanggap wabah Korona di wilayahnya (Serrano: 2020). Kasus Kuba menjadi menarik dimana tetangga dekat Kuba yakni AS -yang selama ini dipersepsikan secara luas sebagai negara “superpower”- justru “kelabakan” dalam menghadapi Korona (Mason & Nebehay: 2020). Hal inilah yang menyebabkan AS diposisikan sebagai wilayah non Asia yang menjadi episentrum baru penyebaran virus (Bump: 2020). Jika kita kembali merujuk pada ibnu Khaldun kunci memahami fenomena yang kontras tersebut adalah dengan memahami ashabiyah yang terbangun dalam konteks dua negara bangsa yang berbeda tersebut (Malešević: 2015). Dapat dikatakan ashabiyah yang berkembang di Kuba lebih kuat dibandingkan dengan di AS. Implikasinya wabah Korona lebih mudah ditanggulangi oleh negara “miskin” dan “kecil” semacam Kuba dibandingkan dengan negara “kaya” dan juga “besar” seperti AS.

Apa sebab Kuba bisa memiliki tingkat ashabiyah yang lebih tinggi dari AS? Salah satu kuncinya dapat ditelurusi pada sistem kesehatan universal yang dibangun Kuba semenjak era kepemimpinan Castro (Hugo: 2020). Sistem kesehatan Kuba terbilang unik karena sistem ini bukanlah semata-mata pengembangan institusi medis belaka melainkan juga sekaligus sebagai ujung tombak proses engineering society agar sejalan dengan cita-cita sosialisme. Upaya engineering masyarakat Kuba dijalankan dengan membangun sistem kesehatan univeral yang bertumpu pada kehadiran poliklinik (Hugo: 2020). Poliklinik ini didesain sedemikian rupa sehingga mampu menjangkau masyarakat Kuba hingga level bawah (Danielson: 1979). Implikasinya terjadi pemerataan akses terhadap kesehatan yang dapat dinikmati oleh seluruh warga Kuba. Menariknya, poliklink di Kuba tidak hanya mementingkan aspek sumber daya manusia yang memadahi (mulai dari dokter umum hingga spesialis) tetapi juga mencoba membangun satu konsep kerja yang unik yakni sistem dokter keluarga (Hugo: 2020). Sistem ini membuat dokter dituntut untuk membaur dengan warga dan dengan cara itulah ia dapat memahami kondisi sosiologis-psikologis warga (Rosenberg: 1992). Kedekatan tenaga medis dengan warga membantu dalam meningkatkan level trust antara warga dan negara (dengan dokter dan tenaga medis sebagai ujung tombaknya) (Hugo: 2020). Dengan kata lain melalui perantaraan dokter dan tenaga medis, negara mencoba untuk membangun komunikasi yang “hangat” dengan warganya (Bubandt: 2018). Dengan cara inilah keluhan-keluhan warga dapat dengan cepat direspon negara, sebaliknya kebijakan negara dengan mudah tersosialisasikan ke warga. Sehingga misal ada kebutuhan nasional vaksinasi untuk Polio misalnya (Hugo: 2020). Dengan cepat melalaui sistem dokter keluarga ini kebijakan nasional tersebut dapat dijalankan dengan tanpa kendala yang berarti (Hugo: 2020). Begitu pula dengan kebutuhan masyarakat yang misal secara tradisional masih mempercayai pengobatan tradisional di samping medis modern (Hugo: 2020). Realitas lokal yang khas ini dengan segera bisa ditangkap oleh negara sehingga treatment yang kemudian dipilih akan lebih peka terhadap konteks lokal.

Kasus Kuba memperlihatkan pada kita bahwasanya ashabiyah di Kuba telah dibangun sejak kepemimpinan Castro. Salah satunya dengan pembangunan komunikasi antara negara dan warganya lewat perantaraan dunia medis sehingga diharapkan muncul trust diantara mereka (Huish: 2013). Komunikasi yang berujung pada terbentuknya trust ini juga terkait dengan pembangunan memori kolektif masyarakat Kuba (Hosking: 2014). Memori kolektif yang dimaksud ialah perasaan menyatu sebagai satu bangsa yang utuh (Goldsmith: 2015). Memori kolektif inilah yang membantu Kuba dalam mengantisipasi wabah Korona yang memasuki wilayahnya. Dapat dikatakan dalam konteks terjadinya wabah, tenaga medis relatif tidak kebingungan untuk bertindak. Hal ini dapat terjadi karena mereka sudah dilatih untuk membangun dialog dengan warga sehingga ketika muncul situasi abnormal maka direspon dengan cepat oleh sistem yang telah terbangun tersebut. Kasus Kuba ini kontras dengan kasus Indonesia dimana seakan ada jarak yang memisahkan antara dunia medis dan juga pasien. Bukan fenomena mengherankan jika ada pasien atau orang yang diduga mengidap Korona sehingkali memilih kabur untuk menghindari treatment (Dewi: 2020). Ini menunjukkan rendahnya solidaritas sosial yang ada. Problem komunikasi dan ketidaksamaan imaji yang terbangun diantara pasien dan tenaga medis potensial mendorong pasien menolak treatment karena dirasa bagaikan kiamat kecil yang melenda dirinya sehingga ia memilih kabur.

Tidak hanya Kuba, negara Korea Selatan misalnya dapat menjadi contoh menarik bagaimana ashabiyah bekerja di negara tersebut. Kasus Korea ini menarik karena tidak sebagaimana Kuba, Korea Selatan mengalami kecolongan kasus Korona yang kemudian mendorong negara segera mengambil kebijakan cepat untuk menanggulangi kasus yang berkembang dengan cepat di negaranya tersebut (BBC: 2020). Gerak cepat ini menjadikan Korea sebagai salah satu negara yang sukses menghambat laju penyebaran Korona di wilayahnya tersebut (Ahn: 2020). Jika ditinjau dari persketif Khaldunian maka faktor ashabiyah memiliki andil penting dalam menjadikan Korea dapat melampaui fase krisis tersebut. Telaah yang dilakukan Luki Aulia misalnya membantu kita memahami terbentuknya ashabiyah di kalangan masyarakat Korea. Aulia menyatakan satu faktor yang krusial yang mempengaruhi masyarakt Kora dalam perang meawan Korona adalah adanya memori kolektif akan MERS (Aulia: 2020). Memori kolektif inilah yang kemudian mendorong masyarakat Korea untuk sigap dalam membendung ancaman Korona agar tidak terulang “kisah pilu” sejarah MERS yang melanda negara tersebut.

Solidaritas sosial yang dengan cepat tumbuh di tengah masyarakat Korea juga diperkuat oleh teknologi canggih yang telah dimiliki oleh negara Korea saat ini. Berbasis teknologi canggih yang dimilikinya membuat negara dapat bergerak cepat melakukan uji masif Korona pada penduduknya (BBC: 2020). Negara juga berupaya memudahkan akses terhadap uji Korona dengan menyediakan test berbasis drive thru sehingga mempercepat dan memudahkan warga untuk melakukan uji tes di berbagai wilayah Korea (BBC: 2020). Hasil tes inilah yang kemudian direkam dalam sistem data milik negara yang diolah sedemikian rupa untuk melakukan pemetaan wilayah (Ahn: 2020). Ketersediaan data inilah yang kemudian dipakai sebagai basis untuk membuat strategi preventif maupun kuratif. Misal dengan mengetahui titik mana penularan terjadi maka dengan cepat pasien dapat ditangani dan wilayah tersebut diisolasi (Ahn: 2020).

Negara juga tidak mampu melakukan kerja ini sendiri tetapi bergantung pada solidaritas warga. Maka dalam konteks preventif misalnya Korea merancang satu sistem komunikasi dengan warga berbasis ponsel pintar untuk memberitahu orang di sekitar pasien positif untuk berhati-hari dan melakukan perlindungan ekstra (BBC: 2020). Dengan kata lain kesukesan kebijakan ini tidak hanya berpijak pada kecanggihan teknologi atau kebijakan negara draconian tetapi juga pada solidaritas sosial yang terbangun di negara tersebut. Dimana solidaritas ini juga tidak dapat dilepaskan dari kemampuan warga untuk mengaktifkan kembali memori kolektif kenangan pahit di masa lalu yang mendorong mereka untuk tidak jauh pada “lubang yang sama”.

Satu hal yang mungkin perlu disinggung dalam kasus Korea adalah solidaritas sosial terkait dengan memori negatif di masa lalu (kegagapan saat MERS melanda). Berbeda dengan kasus Kuba dimana memori yang terbangun adalah memori positif akan relasi dialogis antara warga dan negara. Akan tetapi keduanya dapat membuahkan satu solidaritas sosial yang sama-sama kuat dan terbukti mampu membawa kedua negara tersebut bertahan dari anacaman wabah Korona. Jika mengacu pada kajian memory studies, khususnya yang dirintis oleh Aleida Assmann, kita akan sampai pada satu kesimpulan menarik soal relasi memori dan solidaritas sosial. Bagi Assmann ada satu kategori memori yang ia istilahkan sebagai Funktionsgedächtnis (memori fungsional) (Łuczewski, Bednarz-Łuczewska & Maślanka: 2013). Konsep memori fungsional ini biasanya dipertentangkan dengan ide storage memory dimana memori dipahami semata-mata sebagai penyimpanan segala informasi tentang masa lampau (Łuczewski, Bednarz-Łuczewska & Maślanka: 2013). Bagi Assmann memori fungsional ini berorientasi ke depan dan karenanya selektif –dalam arti hanya memori tertentu saja yang menjadi fondasi untuk bertindak- (Łuczewski, Bednarz-Łuczewska & Maślanka: 2013). Sehingga mudahnya bisa kita katakan memori fungsional ini berfungsi layaknya guru untuk membuat tindakan kita sebagai satu entitas kolektif lebih bijak dalam melangkah ke depannya. Assmann membantu kita memahami bahwa keengganan masyarakat Korea untuk masuk ke “lubang yang sama” (memori negatif) dan disisi lain masyarakat Kuba untuk menjaga kestabilan sistem (memori positif) membuat ide akan solidaritas sosial menjadi menguat terlebih di tengah ancaman eksistensial yang potensial menimpa mereka.

Kasus Korea Selatan dan Kuba merupakan cerminan bagaimana ashabiyah yang cukup kuat dapat mencegah negara tersebut ke dalam krisis berkepanjangan akibat Korona. Wajah yang berbeda bisa kita saksikan pada kasus AS dan sejumlah negara Barat lainnya yang meskipun secara permukaan nampaknya kuat namun ternyata dengan adanya Korona ini memperlihatkan bagaimana rapuhnya ashabiyah yang mereka miliki. Lalu yang menjadi pertanyaan bagaimana dengan kasus Indonesia? Apakah ia tergolong sebagai negara dengan ashabiyah yang kuat atau lemah? Dapat dikatakan ashabiyah bukan suatu yang statis tetapi dinamis (Alatas: 2014). Pengalaman Korea di masa lalu ketika bergulat melawan wabah MERS yang berujung pada kisis yang cukup parah melanda negara tersebut menunjukkan level ashabiyah masyarakat Korea saat itu cukup rendah. Situasi berbeda terjadi pada saat wabah Korona ini dimana level ashabiyah yang mereka miliki cukup tinggi akibat kemampuan mereka untuk belajar dari pengalaman pahit di masa lalu. Situasi serupa dapat dikatakan terjadi dalam konteks Indonesia. Pada awal berlangsungnya wabah di wilayah Indonesia dapat dikatakan ashabiyah berada pada titik nadir namun seiring dengan berjalannya waktu ashabiyah tersebut dapat kembali dikuatkan. Namun bukan berarti maknanya ashabiyah ini telah mencukupi untuk memenangkan perang melawan wabah Korona di Indonesia tetapi menjadi satu titik balik yang mesti terus dikawal agar terus menguat dari waktu ke waktu.

Dinamisnya ashabiyah yang terbentuk dalam konteks Indonesia tidak dapat dilepaskan dari berbgai faktor, salah satunya terkait dengan memori kolektif yang terbentuk pada masyarakat Indonsia. Berbeda dengan Korea yang mengalami pengalaman pahit dalam bergulat dengan wabah MERS dapat dikatakan Indonesia tidak mengalami situasi tersebut (Afrianto: 2020). Hal ini mempengaruhi memori kolektif publik saat wabah Korona mulai mewabah di sejumlah negara. Dapat dikatakan masyarakat bahkan para pejabat publik terkesan “menyepelekan” soal ancaman Korona (The Jakarta Post: 2020). Bahkan ketika muncul satu penelitian dari akademisi Harvard yang menyimpulan ada potensi besar Korona masuk ke Indonesia justru dikecam oleh menteri kesehatan (Firdaus: 2020). Menurut sang menteri penelitian tersebut adalah bentuk dari pelecehan terhadap kepabilitas negara Indonesia dalam membangun sistem preventif terhadap Korona (Firdaus: 2020). Bahkan muncul juga wacana-wacana yang meskipun mungkin sekedar “simbolis” dan bermaksud “meredakan ketegangan” tetapi justru semakin memperbesar ketidakwaspadaan publik. Misal muncul wacana bahwa Korona tidak mempan pada orang Indoensia karena biasa makan nasi kucing atau Korona sulit masuk ke Indonesia karena perizinan berbelit-belit. Wacana semacam ini sadar atau tidak potensial mengukuhkan memori publik bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dengan wabah Korona.

Dalam sekejap memori kolektif yang telah terbangun buyar ketika diumumkan secara resmi diumumkan adanya pasien Korona pertama di Indonesia (Gorbiano: 2020). Dengan segera kepanikan melanda di berbagai wilayah Indonesia (Hendarto: 2020). Karena tidak ada satu solidaritas yang terbangun kuat maka situasi chaos tak terelakkan. Situasi tersebut semakin diperparah dengan terjadinya kekacuan komunikasi antara satu pejabat publik dengan pejabat publik lain sehingga muncul kesan bahwa negara tidak bisa diandalkan (Nugraheny: 2020). Akibatnya bisa disaksikan dalam hari-hari awal wabah Korona dimana warga berebut memborong masker dan juga hand sanitizer termasuk juga bahan-bahan makanan pokok (Antara: 2020). Situasi menyebar tidak hanya di Jakarta saja tetapi juga ke daerah-daerah sehingga kelangkaan terjadi di mana-mana (Hendarto: 2020). Beruntung ashabiyah tidak sepenuhnya terhapus begitu saja. Solidaritas dalam level yang lebih mikro kemudian bermunculan. Dalam konteks Yogyakarta salah satu perwujudan yang paling kasat mata pada upaya lockdwon mandiri yang dilakukan warga (Syambudi: 2020). Sekilas upaya palangisasi di berbagai tempat itu menyiratkan chaos. Akan tetapi jika ditilik secara seksama fenomena tersebut dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan ashabiyah di level kampung. Dalam skema ini, warga berupaya mengorganisasi diri untuk memastikan kampung mereka aman dari ancaman Korona. Tentunya solidaritas tersebut diekspresikan dengan aksi-aksi yang bernuansa lokal seperti palangisasi lengkap dengan grafiti dengan tulisan yang beraneka ragam (Syambudi: 2020). Satu cara yang terbilang “klasik” tapi terbukti cukup efektif untuk memperkuat perlindungan kampung dari kemungkinan lalu lalang pendatang yang potensial menularkan virus Korona.

Solidaritas yang sifatnya mikro ini kemudian mengalami transfromasi dengan munculnya solidaritas yang lebih luas. Hal ini dalam konteks Yogyakarta misalnya dapat dilihat dari munculnya aksi-aksi sosial misal dengan pembagian masker ke sejumlah pedangang atau pengemudi rentan (semacam becak dan ojek online), pembuatan dapur umum, hingga pengumpulan koin santunan untuk mahasiswa di wilayah Yogyakarta yang terdampak wabah. Aksi-aksi sosial ini dapat dilihat sebagai kepanjangan dari solidaritas mikro di level kampung tersebut. Dimana ketika satu komunitas warga setelah “selesai” dengan penguatan ashabiyahnya (dalam level mikro) maka solidatitas ini berkembang dengan menyasar pihak lain disekitar kampung tersebut. Solidaritas ini secara natural muncul untuk memastikan wilayah di sekitar kampung juga “steril” dari wabah Korona. Dengan cepat muncul aksi-aksi spontan warga yang dikatakan berkontribusi membentuk semacam proses komunikasi horizontal diantara warga. Proses komunikasi inilah yang pada gilirannya meningkatkan trust di kalangan warga sendiri sekaligus menjadi spirit positif bagi terbentuknya ashabiyah dalam level yang lebih luas (dari mikro ke makro). Penguatan ashabiyah ini salah satunya tercermin dengan munculnya istilah rakyat membantu rakyat.

Aksi-aksi spontan warga -dan juga diperkuat oleh gerakan-gerakan dari lintas aktivis- inilah yang dapat dikatakan memiliki efek domino positif dimana mendoroang semakin banyak warga untuk melakukan aksi serupa dalam skala yang lebih luas (level nasional). Sebagai contoh hari ini bisa kita saksikan di berbagai media tentang maraknya donasi warga pada kalangan medis. Bahkan seorang anak kecil rela mendonasikan seluruh tabungannya untuk membantu pembelian pelindung tubuh bagi kalangan medis (Nursalikah: 2020). Fenomena ini menunjukkan naiknya level ashabiyah pada masyarakat Indonesia sehingga satu kalangan yang dalam kacamata tradisional dikatakan elit (dokter dianggap sebagai profesi elit) rela dibantu oleh kalangan umum karena tanpa solidaritas tersebut para dokter dan tenaga media lain bisa kelabakan dalam bekerja dan implikasinya upaya untuk membendung laju penyebaran Korona semakin tidak dapat maksimal dilakukan.

Satu hal yang perlu juga dicermati dalam konteks penguatan ashabiyah ini adalah peran agama. Menarik ketika merebaknya wabah Korona ini bersamaan dengan masuknya waktu Ramadhan bagi umat Islam di Indonesia. Sedangkan Ramadhan sendiri menjadi momen dimana kedermawanan sosial mengalami peningkatan sebagai salah satu bukti keimanan seseorang. Dengan kata lain agama memiliki peran strategis pula dalam memperkokoh ashabiyah yang tengah mengalami penguatan. Jika dikembalikan pada ide Ibnu Khaldun memang sang cendekiawan tersebut meyakini bahwa agama memiliki andil besar dalam penguatan ashabiyah (Zeitlin: 2007). Pandangan ibnu Khaldun tersebut terafirmasi dalam konteks Indonesia dimana sense of belonging sebagai satu kesatuan umat semakin tumbuh (İhsanoğlu: 2020). Hal ini potensial terus membawa ashabiyah ke level yang lebih tinggi baik selama berlangsungnya Ramadhan termasuk termasuk juga pasca berakhirnya Ramadhan. Hal ini tidak berlebihan mengingat dalam ajaran Islam dikatakan bahwa bukti kesuksesan seorang berpuasa ialah ketika ia menunjukkan perubahan perilakunya menjadi lebih positif di waktu pasca Ramadhan.

Memang momen Ramadhan juga ditandai dengan tradisi mudik lebaran. Akan tetapi secara umum narasi keagamann yang berkembang di kalangan umat Islam Indonesia adalah bahwa mudik tidaklah dianjurkan dan dapat diganti dengan sarana lain (Farisa: 2020). Dengan kata lain agama juga berfungsi untuk menstabilkan ashabiyah agar tidak kembali melemah akibat adanya potensi chaos jika gelombang mudik berjalan sebagaimana waktu normal. Kembali kita dapatkan peran strategis agama dalam konteks menguatkan ashabiyah sebagaimana dinyatakan oleh ibnu Khaldun.

Dinamiasi ashabiyah yang terbangun dalam konteks masyarakat Indonesia di masa wabah saat ini mestilah didorong ke level yang lebih tinggi. Harapan untuk mencaai level yang lebih tinggi tersebut tidak berlebihan mengingat selain tingkat ashabiyah tengah mengalami kenaikan seiring dengan masuknya bulan Ramadhan, bangsa Indonesia juga akan menyambut hari kebangkitan nasional yang jatuh pada 20 Mei mendatang. Semoga peringatan hari kebangkitan nasional dapat memicu akifnya memori kolektif masyarakat bahwasanya hanya dengan bersatu padu sebagai satu bangsa maka berbagai masalah yang mendera –termasuk wabah Korona- dapat lebih mudah untuk ditangani. Jika memori kolektif akan perasaan kesatuan sebagai bangsa Indonesia ini menguat maka ashabiyah yang terbangun dapat semakin dikuatkan. Melalui penguatan ashabiyah menuju level yang lebih tinggi tersebut kita berharap agar Indonesia dapat mereplikasi kesuksesan Korea Selatan atau negara lain dimana dengan ashabiyah yang dimilikinya mampu memotong penyebaran Korona di wilayah tersebut.

Referensi

Afrianto, D. (2020, 4 6). Pengalaman Indonesia Hadapi SARS dan MERS. Retrieved 5 13, 2020, from Kompas: https://kompas.id/baca/riset/2020/04/06/pengalaman-indonesia-hadapi-sars-dan-mers/

Ahn, M. (2020, 4 21). How South Korea flattened the coronavirus curve with technology. Retrieved 5 13, 2020, from The Conversation: https://theconversation.com/how-south-korea-flattened-the-coronavirus-curve-with-technology-136202

Alatas, S. F. (2014). Applying Ibn Khaldūn: The Recovery of a Lost Tradition in Sociology. Abidngdon: Routledge.

Antara. (2020, 3 3). Warga Panik karena Virus Corona, Jokowi: Stok Masker Ada 50 Juta. Retrieved 5 13, 2020, from Tempo: https://bisnis.tempo.co/read/1314963/warga-panik-karena-virus-corona-jokowi-stok-masker-ada-50-juta/full&view=ok

Aulia, L. (2020, 3 20). Bergerak Cepat dan Disiplin, Kunci Keberhasilan Korea Selatan. Retrieved 5 11, 2020, from Kompas: https://kompas.id/baca/internasional/2020/03/20/bergerak-cepat-dan-disiplin-kunci-keberhasilan-korea-selatan/

Baali, F. (1988). Society, State, and Urbanism: Ibn Khaldun’s Sociological Thought. Albany: State University of New York Press.

BBC. (2020, 4 30). Coronavirus and South Korea: How lives changed to beat the virus. Retrieved 5 11, 2020, from BBC: https://www.bbc.com/news/world-asia-52482553

BBC. (2020, 3 17). Trump angers Beijing with ‘Chinese virus’ tweet. Retrieved 5 13, 2020, from BBC: https://www.bbc.com/news/world-asia-india-51928011

Bubandt, N. (2018). Trust in an Age of Authenticity Power and Indonesian Modernity. In S. Liisberg, E. O. Pedersen, & A. L. Dalsgård (Eds.), Anthropology and Philosophy: Dialogues on Trust and Hope. New York: Berghahn.

Bump, P. (2020, 3 25). Why the United States is emerging as the epicenter of the coronavirus pandemic. Retrieved 5 13, 2020, from The Washington Post: https://www.thejakartapost.com/news/2020/03/14/as-coronavirus-chaos-spreads-globally-trump-declares-us-emergency.html

Charrad, M. (2001). States and Women’s Rights: The Making of Postcolonial Tunisia, Algeria, and Morocco. Berkeley: University of California Press.

Danielson, R. (1979). Cuban Medicine. New Brunscwick: Transaction, Inc.

Dewi, R. K. (2020, 5 6). Menilik Alasan Penyebab Pasien Covid-19 Kerap Kabur dari Rumah Sakit. Retrieved 5 13, 2020, from Kompas: https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/06/092800265/menilik-alasan-penyebab-pasien-covid-19-kerap-kabur-dari-rumah-sakit

Farge, E. (2020, 4 6). WHO rejects ‘China-centric’ charge after Trump criticism. Retrieved 5 13, 2020, from Reuters: https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-who-europe/who-rejects-china-centric-charge-after-trump-criticism-idUSKBN21Q1A9

Farisa, F. C. (2020, 4 22). Cegah Covid-19, MUI Minta Masyarakat Patuhi Larangan Mudik Lebaran. Retrieved 5 13, 2020, from Kompas: https://nasional.kompas.com/read/2020/04/22/18483501/cegah-covid-19-mui-minta-masyarakat-patuhi-larangan-mudik-lebaran

Firdaus, F. (2020, 2 19). Indonesian Screening May Be Missing Virus Carriers. Retrieved 5 13, 2020, from Foreign Policy: https://foreignpolicy.com/2020/02/19/indonesia-coronavirus-screening-may-miss-virus-carriers/

Goldsmith, L. (2015). Cycle of Fear: Syria’s Alawites in War and Peace. London: Hurst.

Gorbiano, M. I. (2020, 3 2). BREAKING: Jokowi announces Indonesia’s first two confirmed COVID-19 cases . Retrieved 5 13, 2020, from The Jakarta Post: https://www.thejakartapost.com/news/2020/03/02/breaking-jokowi-announces-indonesias-first-two-confirmed-covid-19-cases.html

Gover, T. (2020, 5 2). Covid-19 sharpens US-China rivalry, complicating Southeast Asia’s dilemma. Retrieved 5 13, 2020, from South China Morning Post: https://www.scmp.com/comment/opinion/article/3082182/covid-19-sharpens-us-china-rivalry-complicating-southeast-asias

Harari, Y. N. (2020, 3 15). In the Battle Against Coronavirus, Humanity Lacks Leadership. Retrieved 5 11, 2020, from Time: https://time.com/5803225/yuval-noah-harari-coronavirus-humanity-leadership/

Harari, Y. N. (2014). Sapiens: A Brief History of Humankind. London: Harvill Secker.

Hendarto, Y. M. (2020, 4 1). Di Balik Melambungnya Harga ”Hand Sanitizer” dan Masker Saat Wabah Covid-19. Retrieved 5 13, 2020, from Kompas: https://kompas.id/baca/riset/2020/04/01/di-balik-melambungnya-hand-sanitizer-dan-masker-saat-wabah-covid-19/

Hosking, G. (2014). Trust: A History. Oxford: Oxford University Press.

Hugo, F. (2020, 4 16). Korona dan Kuba. Retrieved 5 11, 2020, from Indoprogress: https://indoprogress.com/2020/04/korona-dan-kuba/

Huish, R. (2013). Where No Doctor Has Gone Before: Cuba’s Place in the Global Health Landscape. Waterloo: Wilfried Laurier University Press.

İhsanoğlu, E. (2010). The Islamic World in the New Century: The Organisation of the Islamic Conference. London: Hurst.

Łuczewski, M., Bednarz-Łuczewska, P., & Maślanka, T. (2013). Bringing Habermas to Memory Studies. Polish Sociological Review , 183.

Malešević, S. (2015). Where does group solidarity come from? Gellner and Ibn Khaldun revisited. Thesis Eleven , 128 (1).

Mason, J., & Nebehay, S. (2020, 3 14). As coronavirus chaos spreads globally, Trump declares US emergency. Retrieved 5 13, 2020, from The Jakarta Post: https://www.thejakartapost.com/news/2020/03/14/as-coronavirus-chaos-spreads-globally-trump-declares-us-emergency.html

Mohamed, Y. (2017). The Division of Labor and its theoretical foundation: Comparing Ibn Khaldun and Adam Smith. In N. Kizilkaya, & T. Azid (Eds.), Labor in an Islamic Setting: Theory and Practice. Abingdon: Routledge.

Nugraheny, D. E. (2020, 3 9). Kritik Komunikasi Pemerintah soal Virus Corona, Mafindo: Banyak Ketidakpastian. Retrieved 5 13, 2020, from Kompas: https://nasional.kompas.com/read/2020/03/09/20071231/kritik-komunikasi-pemerintah-soal-virus-corona-mafindo-banyak-ketidakpastian

Nursalikah, A. (2020, 4 16). Anak Pedagang Bakso Sumbang Tabungannya untuk Beli APD. Retrieved 5 13, 2020, from Republika: https://republika.co.id/berita/q8vmbq366/anak-pedagang-bakso-sumbang-tabungannya-untuk-beli-apd

Rosenberg, J. (1992). Health Care and Medicine in Cuba. In W. A. Chaffee, & G. Prevost (Eds.), Cuba: A Different America. Lanham: Rowman & Littlefield.

Serrano, P. (2020, 3 23). Cuba in the time of the coronavirus. Retrieved 5 13, 2020, from Open Democracy: https://www.opendemocracy.net/en/democraciaabierta/cuba-time-coronavirus/

Syambudi, I. (2020, 3 27). Lockdown Mandiri ala Jogja: Ditolak Pemerintah, Diinginkan Warga. Retrieved 5 13, 2020, from Tirto: https://tirto.id/lockdown-mandiri-ala-jogja-ditolak-pemerintah-diinginkan-warga-eH3o

The Jakarta Post. (2020, 4 8). Science first. Retrieved 5 18, 2020, from The Jakarta Post: https://www.thejakartapost.com/academia/2020/04/08/jokowi-vs-the-scientists.html

Zeitlin, I. M. (2007). The Historical Muhammad. Cambridge: Polity Press.

(Visited 75 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 20 Mei 2020
Close