Refleksi dan Optimisme Menuju Bangsa Yang Kuat dan Berdikari

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ada dua persoalan mendasar yang kiranya dapat kita lihat. Mengapa sampai saat ini progres penanganan dalam melawan Covid-19 belum menampakkan hasil yang memuaskan, tetapi justru dari hari ke hari terlihat semakin banyak dan masif peyebaran dan jumlah orang yang terinfeksi Covid19?

Hari ini, tepatnya tanggal 20 Mei 2020 bangsa Indonesia memperingati hari Kebangkitan Nasional yang ke 112. Tepat pada peringatan tahun ini ada situasi dan kondisi yang berbeda dari peringatan tahun-tahun sebelumnya. Peringatan hari Kebangkitan Nasional kali ini, bangsa Indonesia kita tercinta sedang menghadapi situasi dan kondisi yang penuh keprihatinan disebabkan karena adanya pandemi virus corona atau Covid-19. Oleh sebab itu refleksi peringatan hari Kebangkitan Nasional kita lihat dengan perspektif situasi dan kondisi bangsa yang sedang berjuang melawan pandemi Covid-19. Dengan cara ini paling tidak peringatan hari Kebangkitan Nasional pada tahun ini dapat menjadi momentum serta modal bagi seluruh komponen bangsa untuk bangkit membawa spirit nasionalisme, harapan dan optimisme dalam ikhtiar kita semua perjuangan melawan penyebaran pandemi Covid-19.

Pandemi Corona Virus Disease atau Covid-19 saat ini masih menjadi topik yang hangat dan menarik untuk diperbicangkan oleh siapa pun. Perbicangan seputar Covid-19 tidak lagi menjadi domain atau milik segmen kelompok masyarakat tertentu, namun sudah menjadi bahan perbincangan milik umum oleh siapa saja, mulai anak-anak, orang dewasa bahkan orang tua, dalam berbagai segmen sosial masyarakat baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Berdasarkan data pusat informasi Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19, jumlah orang yang terinfeksi postif Covid-19 secara nasionaltiap harinya mengalami kenaikan terus menerus dan sudah pada titik sangat mengkhwatirkan. Pada satu sisi, penyebarannya semakin masif dan mengakibatkan jumlah penderita positif secara akumulasi terus naik dan daerah zona merah memberikan cukup banyak jumlah pasien positif Covid-19. Namun di satu sisi tingkat kewaspadaan perhatian masyarakat malah menurun, tentu ini menjadi sebuah anomali. Data dan fakta berkebalikan. Dalam arti satu sisi semakin hari data menunjukkan kenaikan jumlah pasien yang postif Covid-19. Pada sisi yang lain banyak masyarakat semakin tidak aware dengan situasi saat ini, bahkan cenderung tidak takut jika mereka sebenarnya berpotensi terinfeksi Covid-19. Hal ini tentu membuat situasi dan kondisi menjadi lebih mengkhawatirkan. Karena jika situasi ini tidak segera diantisipasi bahkan dibiarkan bukan tidak mungkin ledakan jumlah pasien yang terpapar Covid-19 bukannya menurun malah semakin masif.

Mengingat betapa masifnya proses penyebaran dan penularan Covid-19 ini, tentunya menjadi perhatian bagi pemerintah baik pusat maupun pemerintah daerah. Kebijakan pemerintah dalam merespon penyebaran dan penularan Covid-19 salah satunya adalah dengan menerapkan social distancing dan physical distancing. Kebijakan ini pun sampai sat ini belum menunjukkan respon atau feedback yang cukup baik. Bahkansejak pertengahan bulan April ada beberapa daerah meningkatkan bentuk perlawanan terhadap Covid-19 dengan melakukan penerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Namun demikian masih saja kebijakan yang diambil oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, belum mampu memberikan harapan akan kepastian kapan perang melawan Covid-19 ini akan berakhir.

Ada dua persoalan mendasar yang kiranya dapat kita lihat. Mengapa sampai saat ini progres penanganan dalam melawan Covid-19 belum menampakkan hasil yang memuaskan, tetapi justru dari hari ke hari terlihat semakin banyak dan masif peyebaran dan jumlah orang yang terinfeksi Covid19?

Persoalan yang pertama adalah ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi Covid-19. Hal ini dapat kita pahami, yang mana masuknya Covid-19 yang datang tiba-tiba. Mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya baik itu penyebarannya dan penularannya akan berdampak pada hal-hal mendasar bangsa. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan barangkali keamanan. Dan pada titik inilah akhirnya karena ketidaksiapan pemerintah dalam menghadapi situasi dan kondisi dari pandemi Covid-19 menjadikan pemerintah kewalahan dalam menghadapinya.

Sampai sekarang Covid-19 telah memberikan dampak persoalan baru selain dari persolaan Covid-19 itu sendiri. Pada sektor ekonomi misalnya, negara harus mengubah struktur dan postur APBN guna mengalokasi anggaran cukup besar khusus untuk menangani Covid-19. Dampakanya pertumbuhan ekonomi diprediksi untuk tahun ini di bawah pertumbuhan tahun lalu atau di bawah 5%. Bahkan tahun ini APBN juga diprediksi akan mengalami defisit karena hampir beberapa pos anggaran tersedot untuk penanganan Covid-19.

Selain itu kebijakan pemerintah dalam melawan Covid-19 saat ini yaitu social distancing dan physical dictancing mengakibatkan penurunan aktivitas sosial dan pergerakan masyarakat. Dampaknya, perkantoran dilarang beroperasi, perusahaan atau industri terpaksa ditutup sehingga mengakibatkan terjadi PHK besar-besaran dan akhirnya banyak masyarakat menjadi penggangguran. Ini pun menjadi persoalan yang baru dari dampak adanya pandemi corona. Tentu semua itu menjadi problem ekonomi yang pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi bangsa secara umum. Padahal dalam masa periode ke dua pemerintahan Jokowi ini adalah berfokus pada peningkatan sumber daya manusia dan ekonomi untuk dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi angka pengangguran. Tapi semua fokus program pemerintah menjadi terhambat bahkan jika pemerintah tidak segera menentukan dan menyusun kebijakan-kebijakan yang strategis. Bukan tidak mungkin pada masa pemerintahan periode kedua ini dalam perspektif ekonomi akan gagal total.

Pada sektor kesehatan nampaknya pemerintah juga harus jujur, bahwa sistem ketahanan kesehatan kita tidak cukup kuat untuk menghadapi pandemi corona. Ini bisa dilihat ketika pandemi Covid-19 mulai menyebar secara masif, fasilitas-fasilitas layanan kesehatan kewalahan dalam menampung dan merawat pasien yang terinfeksi Covid-19. Kesulitan para tenaga medis yang berjuang di garda paling depan masih mengalami keterbatasan alat pelindung diri (ADP), sehingga keselamatan para petugas medis ini pun menjadi tidak terjamin dan dipertaruhkan. Bahkan data terakhir terkait para tenaga medis baik perawat dan dokter justru banyak yang akhirnya ikut terinfeksi dan bahkan meninggal dunia. Tentu ini menjadi keprihatinan kita semua. Bagaimana mungkin mereka yang berada di garda terdepan saja tidak memiliki cukup alat yang layak untuk menjamin keselamatan mereka.

Di sisi lain, mereka suka atau tidak suka karena sumpah profesi mereka harus tetap merawat para pasien Covid-19. Tentu kita harus angkat topi untuk mereka para pahlawan medis yang dengan berani dan ikhlas menjalankan tugas mereka, walau dengan segala keterbatasan. Ini tentu menjadi perhatian dan prioritas utama pemerintah untuk segera mencari solusi dari segala keterbatasan sistem ketahanan dan sarana prasarana dunia kesehatan kita. Namun demikian kita cukup memahami. Negara seperti Italia, Amerika, dan Inggris serta negara maju lainnya yang memiliki sistem ketahanan kesehatan paling majupun, menghadapi pandemik corona pada saat ini pun kewalahan. Apalagi negara berkembang seperti Indonesia.

Persoalan yang kedua adalah lemahnya “sense of crisis” masyarakat. Pada satu sisi ketika pemerintah tidak siap dalam menghadapi Covid-19 serta belum adanya sebuah kebijakan yang strategis dan komprehensif dalam menangani Covid-19, justru masih banyak masyarakat yang tidak memiliki kepedulian terhadap situasi yang sedang terjadi. Lemahnya kepedulian, kesadaran dan kedisiplinan dalam merespon kebijakan pemerintah dalam penangan pandemi Covid-19 semakin menambah rumitnya persoalan dalam penanganannya. Buktinya masih banyak masyarakat yang masih abai, tidak perduli dan tidak disiplin dalam mentaati himbauan atau arahan SOP dari pemerintah terkait segala kebijakan dalam melawan pandemi Covid-19. Masyarakat masih banyak yang tidak sadar bahwa persoalan penanganan melawan pandemik Covid-19 juga menjadi tanggung jawab mereka. Masyarakat juga bagian komponen bangsa yang suka atau tidak suka itu adalah kewajiban bagi tiap anak bangsa untuk turut serta membantu pemerintah melawan pandemi Covid-19.

Dari kebanyakan masih berpikir secara sempit dan tidak bijak. Mereka berpikir bahwa biarlah pemerintah yang mengurusi dan menyelesaikan. Pada sisi yang lain kebijakan penanganan antara pemerintah pusat dan daerah banyak yang tidak seirama. Sehingga dapat kita lihat model perlawanan terhadap Covid-19 masih bersifat sektoral atau tidak menyeluruh, baik itu dalam bentuk individu sebagai personal ataupun pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah. Jika logika ini terus dipakai maka bukan tidak mungkin perlawanan terhadap virus corona tidak akan dapat terselesaikan. Semua berjalan sendiri tanpa arah, tanpa adanya nakhoda yang menggerakkan secara masif dan sistemik. Sehingga pertanyaan besarnya adalah apa hal yang terbaik harus dilakukan baik oleh pemerintah ataupun masyarakat pada situasi yang sulit sekarang ini dalam perlawanan terhadap pandemi Covid-19?

Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei 2020 ini dapat dijadikan momentum bersama, dengan menyatukan tekad dan semangat untuk melawan dan bangkit dari keterpurukan pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini. Semua komponen bangsa harus sadar dan berpikir jernih bahwa perlawanan terhadap persoalan pandemi Covid-19 harus dilawan secara bersama-sama. Harus dijadikan sebagai “common enemy” dalam arti bahwa pandemi Covid-19 adalah musuh kita bersama dan kita harus kita lawan secara bersama-sama. Dengan logika seperti ini maka semangat nasionalisme pada hari kebangkitan nasional adalah senjata dan modal yang sangat penting dalam melawan Covid-19. Di sisi lain perlu juga adanya strategi cerdas dan terukur sembari memaksimalkan peran-peran masing seluruh komponen anak bangsa.

Pemerintah sebagai penanggung jawab utama dalam penanganan harus hadir dan kemudian menyusun, mengatur, melaksanakan. Setiap saat siap mengevaluasi seluruh strategi dalam penangangan melawan Covid-19. Mulai dari mengalokasikan anggaran yang rasional untuk penanganan virus corona. Misalnya menaikkan jumlah pos anggaran untuk pembelian alat-alat medis yang dibutuhkan. Seperti rapid tes, alat pembantu pernafasan, pembelian ADP dan penyediaan infrastruktur untuk mereka para tenaga kesehatan medis sebagai ujung tombak melawan virus corona. Keselamatan dan kesehatan mereka harus menjadi prioritas utama, sehingga ketika mereka semua melaksanakan kewajiban mereka merawat dan mengobati tidak merasa khawatir. Selanjutnya desain kebijakan sosial dalam memberikan jaminan dasar penghidupan yang layak bagi seluruh warga negara khususnya bagi yang terdampak langsung sebagai akibat adanya beberapa kebijakan yang mengharuskan mereka kehilangan pengahasilan. Oleh karenanya negara harus hadir dan menjamin segala kebutuhan hajat hidup warga negaranya. Dengan demikian mereka merasa siap dan tidak khawatir akan kehidupan mereka, sehingga segala kebijakan apapun dari pemerintah mereka akan ditaati secara sadar.

Sementara itu masyarakat juga harus mengedukasi diri serta menginsafi peran mereka sebagai warga negara yang baik yaitu membangun kesadaran atau sense of crisis terhadap persoalan ini.  Sebagai perwujudan rasa nasionalisme sudah seharusnya masyarakat berpikir bahwa persoalan yang dihadapi oleh bangsa menjadi suatu kewajiban bagi warga negaranya untuk turut serta bersama pemerintah berjuang menyelesaikan persoalan yang menimpa negaranya dalam hal ini tentunya terkait ikhtiar bersama melawan Covid-19. Minimal sikap ketaatan dan kedisiplinan masyarakat dalam merespon seluruh kebijakan dari pemerintah terkait perlawanan terhadap Covid-19 mereka taati.

Dengan adanya sinergi serta semangat persatuan dan nasionalisme antara pemerintah dan seluruh warga negaranya dalam melihat Covid-19 sebagai musuh bersama, niscaya perlawan terhadap penyebaran pandemik ini dapat teratasi dengan baik dan lebih cepat. Yang terpenting adalah setiap komponen bangsa harus dapat memaksimalkan peran dan fungsinya masing-masing. Sehingga prinsip berjuang untuk kepentingan dan kebaikan bangsa dan negara tentu akan menjadi senjata yang sangat ampuh dalam menghadapi pandemik Covid-19 dewasa ini.

Problem pandemik Covid-19 tidak bisa dilihat hanya sebagai problem yang yang penyelesaiannya dibebankan kepada pemerintah saja atau sektoral. Namun sudah harus dilihat dan dipahami sebagai problem bersama yang harus diselesaikan oleh seluruh komponen anak bangsa. Momentum hari Kebangkitan Nasional yang akan kita peringati ini tentu harus bisa kita jadikan sebagai trigger untuk bangkit serta memperkuat kesadaran kolektif betapa pentingnya keselarasan dan rasa gotong royong serta kesatuan dan kesatuan sebagai identitas kebangsaan kita untuk dijadikan modal bangsa untuk menghadapi pandemi Covid-19 saat ini.

Dengan demikian pada akhirnya kita bisa mengambil hikmah dari momen hari Kebangkitan Nasional dan persoalan Covid-19 yang melanda bangsa kita tercinta. Yakni dapat dijadikan sebagai sarana untuk saling intropeksi diri secara jernih terhadap peran dan fungsi seluruh komponen bangsa agar dapat bangkit dan selalu siap serta optimis. Segala persoalan bangsa di masa yang akan datang dapat dihadapi, diselesaikan dengan baik. Semoga bangsa kita senantiasa diberikan kekuatan dalam mengarungi perjalanan panjang sejarahnya.

Kita sudah cukup memiliki banyak referensi dalam menyelesaikan segala persoalan yang cukup banyak, dan bangsa kita mampu melewati semua itu dengan baik. Kita semua harus yakin dan optimis pada kekuatan bangsa kita bahwa pada masa yang akan datang negara kita akan semakin kuat dan berdikari. Selamat memperingati hari Kebangkitan Nasional, semoga bangsa dan negara kita selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Aminn.

Syehfudit, S.Pd

Syehfudit, S.Pd

Kepala Sekolah pada  SD Negeri Sidomulyo/Korwil Biddik Kecamatan Karanganyar Kab. Kebumen Jateng 

Terbaru

Ikuti