Refleksi Kearifan Lokal Komunitas sebagai Modal Sosial Dalam Manajemen Bencana Gempa Bumi (Bagian Pertama)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Terbentuknya komunitas tidak lepas dari kebutuhan individu-individu (pribadi, keluarga) untuk berada dalam rasa aman dan memiliki mekanisme pertahanan, ketika menghadapi situasi yang membahayakan.

Adakah yang secara spontan bersedia menjadi korban dari suatu keadaan tertentu yang mengancam keselamatan seseorang atau sekelompok orang? Konsepsi korban, dapat dikatakan merupakan saksi bahwa tidak ada pihak yang bersedia begitu saja mengalami kerugian, penderitaan atau bahkan sampai kehilangan nyawa, kecuali untuk alasan-alasan yang dapat dibenarkan.

Apakah ada suatu dasar atau norma yang dapat membenarkan hilangnya keselamatan orang atau sekelompok orang? Pesan lama yang mengatakan bahwa semut saja akan menggigit jika diinjak, merupakan petunjuk lain yang memperlihatkan bahwa memang tidak ada yang bersedia begitu saja menjadi korban. Suatu upaya mengatasi keadaan tertentu yang membahayakan dengan arah mendapatkan keselamatan dan keamanan, selalu akan muncul, bagaimana pun bentuknya, termasuk ketika menghadapi bencana alam, seperti gempa bumi.

Ketentuan tersebut sesungguhnya merupakan konstitusi kehidupan yang berlaku umum. Apa yang dapat dikatakan sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok orang, dengan yang lain, dalam menghadapi situasi membahayakan, seperti bencana gempa bumi, adalah daya responsinya atau daya menyelamatkan diri. Daya tersebut, datang dari dalam diri setiap orang, dan secara komunitas, menjadi suatu bentuk mekanisme pertahanan diri yang terbangun bersamaan terbentuknya suatu komunitas, dengan nilai-nilai atau norma yang mengikat kehidupannya.

Bagaimana mekanisme tersebut terbentuk? Suatu keadaan mengancam atau keadaan bahaya, dapat dibedakan atas dua bentuk: Pertama, keadaan yang mengancam individu. Dan kedua, keadaan yang mengancam komunitas. Setiap individu memiliki naluri alamiah mempertahankan diri, baik secara internal dalam kedudukannya sebagai makhluk biologi, maupun secara sosial. Dalam konteks ini, relasi sosial dibangun dan atau terbangun, sebagai bagian dari pertahanan diri, yaitu ketika suatu ancaman datang atau suatu musibah datang, maka diharapkan datang pertolongan dari sekeliling (komunitas).

Bergaul atau srawung merupakan bagian dari mekanisme sosial yang dapat memberikan kesaksian bahwa seseorang tidak bisa menjadi dirinya sendiri, yang terpisah dari lainnya. Sebaliknya dia harus bergabung atau bersosialisasi agar tidak mendapatkan sanksi sosial berupa pengucilan atau pengasingan. Konsep srawung, dengan demikian bukanlah ide tentang mencapai sesuatu, akan tetapi lebih condong kepada ide tentang “menghindar dari” (sanksi sosial).

Warga saling menolong korban gempa bumi 27 Mei 2006 (Sairin, dkk., 2008)

Kedua, keadaan yang mengancam komunitas. Upaya individu untuk menjadi bagian dari yang lain, dengan tujuan membangun mekanisme pertahanan diri, jika suatu saat menghadapi ancaman, dapat dikatakan merupakan pemberi iuran terbesar dalam pembentukan watak dari komunitas.

Pembentukan komunitas sendiri tentu mengacu kepada suatu wilayah geografis tertentu, sebagai tempat dimana komunitas tersebut menetap. Jika merunut proses terjadinya komunitas di wilayah tertentu, maka akan didapati kisah tentang saat awal dimana penghuni wilayah tersebut masih terbatas. Dan seiring dengan berjalannya waktu, bertambah secara alamiah, baik karena pertumbuhan dari dalam, maupun kehadiran dari luar yang dapat diterima oleh yang terdahulu.

Dalam sebuah komunitas selalu ada cerita yang datang dan yang pergi. Demikian pula cerita tentang seseorang yang tidak dapat diterima. Baik karena ketidakmampuan pribadi bergabung dalam komunitas, maupun karena dipandang membahayakan yang lain. Sejauh pribadi yang tidak bersosialisasi tidak mengancam yang lain, dan terutama tidak mengancam keseluruhan, maka kehadirannya masih dapat diterima, kendati diperlakukan secara khusus.

Proses tersebut hendak menjelaskan bahwa terbentuknya komunitas tidak lepas dari kebutuhan individu-individu (pribadi, keluarga) untuk berada dalam rasa aman dan memiliki mekanisme pertahanan, ketika menghadapi situasi yang membahayakan. Hal inilah yang dapat menjelaskan tentang keberadaan berbagai tata cara (sistem pertahanan) di dalam komunitas. Seperti misalnya jaga air (di bidang pertanian. Yaitu memastikan air mengalir ke sawah-sawah mereka, dan tidak ada sabotase atau pencurian), atau ronda, yang kemudian diadopsi negara sebagai siskamling.

Selain itu, komunitas di pedesaan juga mengenal upacara tolak bala, atau upacara sejenis, yang dapat dibaca sebagai mekanisme pertahanan melalui dimensi spiritual. Kesemuanya itu menjelaskan bahwa kebersamaan dalam formasi komunitas sebenarnya adalah ekspresi pertahanan.

Bagaimana cara komunitas menghadapi suatu keadaan yang dipandang mengancam? Apakah komunitas mengembangkan suatu teknik tersendiri? Bagaimana cara kerja teknik tersebut, apakah ada kaidah tertentu, atau seperti apa? Kapan teknik tersebut disusun? Peristiwa apa yang mendorong pembentukan teknik tersebut? Pertanyaan dapat diperpanjang. Namun jika diperiksa dengan seksama, pertanyaan tersebut sebenarnya memuat bias akademik. Suatu pertanyaan yang didasarkan pada nalar atau jalan pikiran tersendiri, yang mungkin berada di luar atau tidak dikenal oleh komunitas tersebut.

cara kerja komunitas tidak didasarkan pada prosedur ketat dan baku dari cara kerja ilmu.

Di sinilah persoalan akan muncul. Apakah mekanisme yang dikembangkan oleh komunitas dapat diterima sebagai suatu sistem pengetahuan, sebagaimana yang dikembangkan dunia ilmu? Apakah metode keilmuan, dapat bersifat fleksibel menerima cara kerja yang berbeda, dan tidak tergesa-gesa memberikan penilaian bahwa cara kerja komunitas tidak masuk dalam kategori ilmiah? Persoalan ini tentu tidak mudah dijawab. Hal yang nyata adalah bahwa cara kerja komunitas tidak didasarkan pada prosedur ketat dan baku dari cara kerja ilmu.

Pertanyaan bagi dunia ilmu adalah apakah nalar tersebut akan dapat diterima sebagai sistem pengetahuan, setidak-tidaknya sistem pengetahuan yang berbeda dengan yang dikembangkan oleh dunia ilmu, ataukah tidak? Penyebutan kearifan lokal dapat dikatakan sebagai suatu ekspresi yang menempatkan sistem pengetahuan yang dikembangkan komunitas tidak disebut atau tidak dianggap sebagai suatu sistem pengetahuan, melainkan sebagai suatu bentuk kearifan.

Komunitas mengembangkan suatu pengetahuan untuk mengatasi alam. Konsep mengatasi di sini tentu bukan dalam maksud menguasai, menguras atau bahkan menghancurkan. Konsep tersebut lebih bermakna sebagai kemampuan mengerti cara kerja alam, dan kemudian mengikutinya, serta berupaya menghindari apa yang dapat mengancam keselamatan.

Dr. Untoro Hariadi, M.Si

Dr. Untoro Hariadi, M.Si

Dosen Universitas Janabadra Yogyakarta.

Terbaru

Ikuti