Ditulis oleh 7:37 am KALAM

Rekam Jejak AR. Baswedan

Rekam jejak karirnya di mulai ketika menjadi seorang jurnalis di Sin Po (1932), kemudian pindah ke Soeara Umum (1933)…

Oleh: Fatiyah, MA
Pengajar di UIN Sunan Kalijaga

A. BIOGRAFI TOKOH AR. BASWEDAN

Hanya pada masa revolusilah ketika terjadi penjajahan kolonialisme, rakyat suatu bangsa  mampu melahirkan orang-orang tangguh, hebat dan brilian. Ungkapan ini tak terbantahkan karena banyak para pahlawan Indonesia yang mendapat gelar pahlawan adalah orang-orang yang lahir pada masa-masa pergerakan ini. Meskipun tokoh tersebut merupakan orang keturunan bangsa lain. Contoh yang layak untuk kita bincangkan saat ini adalah Abdurahman Baswedan. Seorang keturunan arab asal Surabaya yang mendapat berbagai julukan, kini telah resmi memperoleh gelar “Pahlawan Nasional” yang ditetapkan pada 7 November 2018 lalu oleh Presiden Jokowi.

Perjalanan hidup AR. Baswedan telah banyak dikaji orang dan komunitas. Kumpulan tulisan tentang AR.Baswedan dapat dijumpai dalam banyak buku teks, media cetak dan online. Sehingga tidak sulit menemukan data tentang biografi tokoh satu ini. Bahkan pada tahun 2008 diadakan launching buku bunga rampai untuk memperingati 100 tahun kelahiran AR. Baswedan yang berjudul “AR. Baswedan Merajut KeIndonesiaan”.

Selama hidupnya, ia dikenal sebagai seorang jurnalis, politisi, diplomat, nasionalis, budayawan dan muballigh. Semua itu ia peroleh dengan proses yang tidak mudah, perlahan namun pasti. Oleh karena itu, sangat menarik ketika membincangkan sosok Abdurrahman Baswedan sebagai tauladan pejuang yang multitalenta namun sederhana dan bersahaja.

Kisahnya berawal dari lingkungan kampung Ampel yang menempanya memiliki karakter berani dan memberontak terhadap hal yang tidak disukainya. Penanaman pemahaman agama menuntunnya berani bersikap dan berkata antimainstream di lingkungan mayoritas arab ketika itu. Ia lahir pada 9 september 1908, ayahnya bernama Awad bin Umar bin Muhammad bin Abdullah. Awad sangat perduli dengan pendidikan anaknya, sehingga ketika ia selesai sekolah di Ampel, Baswedan kemudian di kirim ke Al-Irsyad di Batavia. Tetapi tidak lama kemudian ia harus kembali ke Surabaya karena ayahnya meninggal, akhirnya ia habiskan masa studinya di Hadramaut School dibawah asuhan Sayyid Muhammad bin Hasim.

Masyarakat arab pada masa Hindia Belanda terfragmentasi dalam beberapa kelompok, diferensiasi sosial atau status sosial yang mereka anut sama dengan yang ada di tanah airnya, yaitu Hadramaut, Yaman Selatan. Secara umum, para pemuda Hadrami terpecah ke dalam dua kelompok, yakni Al-Irsyad (non-sayid, berdiri 1915) dan Ar-Rabithah Al-Alawiyah (sayid, berdiri 1928). Pertentangan di antara dua kelompok ini pada awalnya dipicu perbedaan tradisi semata, namun dengan cepat merembet ke permasalahan politik dan urusan lain. Tidak jarang persoalan tersebut berakhir dengan perkelahian atau bahkan pembunuhan, dan hal tersebut berlangsung hingga puluhan tahun lamanya.

Perjumpaannya dengan Liem Koen Hian, pemimpin redaksi surat kabar Sin Tit Po pada 13 Mei 1932 menjadi sebuah embrio kesuksesan Baswedan di dunia jurnalistik. Koen Hiam merupakan mentor Baswedan selama berada di Sin Po. Dari seorang cina ini pula Baswedan belajar tentang kesadaran identitas seorang keturunan bangsa asing yang berada di negeri orang, karena ia menyaksikan sendiri, bagaimana Koen Hian mendeklarasikan berdirinya Persatuan Tionghoa Indonesia (PTI 1932) di Surabaya.  Akhirnya pengalaman ini yang membuat Baswedan memiliki kesadaran identitas dan melek politik. Pengalaman ini pula yang nantinya menginspirasi Baswedan untuk mendirikan organisasi yang sama untuk wadah keturunan arab di Hindia Belanda, yaitu Persatuan Arab Indonesia (PAI) pada 5 November 1934 di Semarang.

Rekam jejak karirnya di mulai ketika menjadi seorang jurnalis di Sin Po (1932), kemudian pindah ke Soeara Umum (1933), pindah lagi ke Matahari di Semarang (1934). Kepekaan politik dan sosialnya kemudian memaksanya untuk mewujudkan cita-citanya mempersatukan seluruh kaum arab yang ada di Hindia Belanda dalam satu wadah. Hal ini dikarenakan fenomena komunitas arab golongan ulayti dan muallad yang selalu berselisih dan berkonflik tak kunjung padam. Bersikap eksklusif, tidak mengakui tanah air dan budaya Indonesia sementara mereka tinggal, lahir dan hidup di Indonesia. Meskipun kemungkinan ia sangat paham apa konsekwensi dari gagasannya ini. Namun, keteguhan dan keberaniannya mengumpulkan kaum arab dalam satu forum itu membuahkan hasil, hingga terbentuklah PAI, yang kemudian dikenal dengan ikrarnya “Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab”.

Kiprahnya untuk dikenal kalangan politik Indonesia memang membutuhkan waktu, melalui organisasi PAI Baswedan dipercaya menjadi wakil peranakan Arab dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di akhir tahun 1945, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan menjabat menteri muda penerangan dalam kabinet Sutan Sjahrir III. Peran penting lainnya saat tergabung sebagai anggota misi diplomatik Indonesia ke Kairo, Mesir, guna memperjuangkan pengakuan dunia internasional atas kemerdekaan Indonesia.

B. MENJEJAKKAN KAKI DI YOGYAKARTA

Perjalanan politiknya sebagai seorang Menteri Muda Penerangan yang harus mendampingi presiden Soekarno dan wakilnya Hatta, tahun 1947 pada saat agresi Militer ke-1 membawanya masuk ke wilayah Yogyakarta. Sayangnya rekam jejak tulisan mengenai keberadaannya selama di Yogyakarta belum banyak dituliskan. Hal ini hanya sependek pengetahuan penulis yang belum menemukan data yang menuliskan hal tersebut. Padahal kolega, kader dan murid-muridnya berguru pada Baswedan ketika ia berada di rumahnya di kompleks Taman Yuwono di Yogyakarta, sebuah kompleks perumahan yang dipinjamkan oleh Haji Bilal untuk para pejuang revolusi saat Ibukota di RI berada di Yogyakarta.

Selama berada di yogyakarta, Abdurrahman Baswedan mampu membaur dengan berbagai kalangan, khususnya kalangan mahasiswa. Ia juga terlibat dalam pergerakan mahasiswa di yogyakarta antara lain, PII, HMI maupun Al-Irsyad cabang Yogya. Selain itu, ia aktif di dalam berbagai diskusi politik dengan mahasiswa, seniman dan praktisi. Ia juga terlibat dalam kegiatan di beberapa kampus di yogyakarta, bahkan ia pernah menjadi mahasiswa tertua di IAIN Sunan Kalijaga sebagai mahasiswa pendengar.

Pengalamannya di Masyumi ketika awal kemerdekaan, ia gunakan untuk membina Dewan Dakwah Indonesia cabang Yogyakarta.

Berbeda dengan motivasi kedatangan golongan sebelumnya, keturunan Arab yang satu ini merupakan pendatang yang terakhir pada periode tahun 1947 –bisa dikatakan demikian, karena seterusnya ia menetap di Yogyakarta- yaitu Abdur Rachman Baswedan (AR Baswedan). Selama hidupnya di Yogyakarta, ia dikenal sebagai intelektual yang membaur dengan semua golongan. Dikatakan pendatang terakhir, karena gelombang pendatang berikutnya baru diketahui mulai ada di Yogyakarta pada sekitar tahun 1970-an hingga mengalami puncaknya pada tahun 1980-an. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada periode itulah membanjirnya para mahasiswa untuk studi di Yogyakarta.

Ia menghembuskan nafas terakhir pada tahun 1986 dan dimakamkan di pemakaman Tanah Kusir, Jakarta.

Keterangan foto: Pengakuan Liga Arab atas RI, H. Agus Salim, PM Nokrashi Pasha, dan AR. Baswedan (kiri-kanan). Sumber: Buku Biografi AR. Baswedan, Mambangun Bangsa Merajut Keindonesiaan.

(Visited 630 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 24 Februari 2020
Close