Ditulis oleh 8:11 am KALAM

Rekonstruksi Metodologi Berfikir Profetik: Perspektif Sunnah Nabi

Oleh: Muhammad Hasnan Nahar
Ketua IMM DI Yogyakarta

A. Manusia Makhluk Berfikir

Manusia dilahirkan di dunia dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, kemudian dengan bekal yang diberikan oleh Allah SWT maka manusia menjadi tahu, bekal itu adalah akal, penglihatan dan pendengaran. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S An-Nahl: 74

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.”

Semula manusia adalah manusia yang lemah, kemudian manusia menjadi kuat, hingga suatu waktu akan kembali lemah. Lemah tidak saja bermakna lemah fisik, juga dapat dipahami sebagai lemah pengetahuan. Lemah pertama merupakan fase kehidupan masa kecil kita, dimana pengetahuan kita sangat amat terbatas dari apa yang orang tua lakukan. Maka kelak kepintaran seorang manusia ditentukan bagaimana orang tua mengajarkan dan memberi contoh saat kecil, baik itu kemampuan komunikasi, kemampuan bersikap, kemampuan emosi, kemampuan spiritual.

Pada fase selanjutnya, manusia menjadi kuat, dimulai dari masa akil baligh, mampu membedakan mana yang hak dan mana yang batil dengan kesadaran yang dimiliki sendiri, bukan berdasarkan arahan orang lain apalagi bertindak atas sebuah paksaan. Maka manusia yang belum bisa membedakan antara yang baik dan buruk dalam ukuran syariat agama maupun etika dan moral, dapat dikatakan sebagai manusia yang lemah. Melakukan sesuatu karena faktor ikut-ikutan agar mendapat pengakuan manusia lainnya menjadi ciri lemah lainnya. Disebut dengan kuat dalam pengetahuan akhlak, disamping juga kuat dalam pengetahuan umum seperti pengetahuan alam, sosial, politik , ekonomi dan lainnya. Fase selanjutnya manusia akan kembali menjadi lemah, faktor usia menjadi sebab, banyak hal yang diketahui menjadi lupa, banyak hal yang dikenali menjadi asing.

Dalam hal kecerdasan umat Islam mempunyai rujukan, yakni Nabi Muhammad SAW. Rasulullah merupakan sumber keteladanan bagi umat Islam, tidak saja perbuatan juga pikiran. Sebab pikiran dan perbuatan adalah satu, perbuatan tanpa pikiran maka menjadi tidak bermakna, tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kenyataan bahwa Rasulullah adalah pribadi yang cerdas, dengan kemampuan berfikir yang sangat baik. Dibuktikan dengan masa sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad tidak mengikuti apa yang menjadi sebuah kebiasaan dalam masyarakat yang menyembah berhala. Dalam pemikirannya menyadari bahwa sesuatu yang diciptakan oleh manusia tidak layak dijadikan sesembahan, seharusnya yang pantas untuk disembah adalah dzat yang menciptakan dirinya dan seluruh apa yang ada di langit dan bumi seisinya.[1] Proses berfikir yang dilakukan oleh Muhammad adalah proses berfikir hikmah (menemukan kebaikan dan kebenaran dibalik yang fisik, dibalik realitas), dimana saat manusia mampu untuk menciptakan menjadikan diri lupa dan jumawa, ingkar bahwa manusia hadir di dunia dengan kehendak-Nya.

Manusia dilebihkan dengan kemampuan berfikir yang tidak dimiliki makhluk hidup lainnya. Dampak dari berfikir adalah kemajuan dalam segala lini kehidupan, hasil dari berfikir disebut dengan peradaban.[2] Pemikiran seorang manusia haruslah bebas tanpa batas, seandainya berfikir negatifpun tidak memiliki konsekuensi apapun. Berbeda dengan perbuatan yang bebas terbatas, dibatasi dengan etika dan hukum. Manusia mengalami beberapa tahapan berfikir yang bermula dari berfikir murni yang tidak menyatu dengan perbuatan, kemudian aktifitas berfikir diwujudkan menjadi perbuatan secara sadar, kemudian tahapan dimana melakukan perbuatan tanpa disadari, bertindak tanpa pertimbangan dampak yang ditimbulkan. Oleh karena itu makna dari berfikir bebas pun diikuti dengan penekanan bahwa kata bebas ini bermakna terhindar dari pengaruh hawa nafsu, kepentingan politik dan berada dalam arahan Tuhan melalui penglihatan kauliyah (kitab suci)[3] atau kauniyah (alam semesta).

Dengan arahan kitab suci akan tetap ada perbedaan berfikir, perbedaan dipengaruhi oleh apa yang dimiliki pribadi masing-masing, seperti berbeda usia, berbeda latarbelakang pendidikan, berbeda orientasi. Dan juga kedudukan dari Al-Qur’an yang memiliki kebenaran yang mutlak berbeda dengan manusia yang memiliki kebenaran yang relatif, sehingga hasil pengkajian Al-Qur’an yang dilakukan oleh manusia bukanlah Al-Qur’an itu sendiri. Demikian jangan sampai menimbulkan perselisihan, jadikan perbedaan sebagai pelengkap satu sama lain.

2. Alam Sebagai Media Berfikir

Selain kitab suci Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kauliyah, seluruh alam semesta ini juga adalah pedoman hidup bagi manusia kauniyah, dengan syarat manusia mau menggunakan kemampuan berfikirnya untuk mengetahui hal itu. Memahami alam bermula dari sebuah keraguan dalam bentuk sebuah pertanyaan “mengapa bisa seperti ini, seperti itu?”. dilanjutkan dengan eksperimen, uji coba, sebagai pembuktian, diakhiri dengan perumusan, hal ini sebatas pembuktian fakta sains (berfikir rasional), namun dengan kedalaman berfikir dari fakta sains tersebut dapat menjadi sarana bagi manusia untuk meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah SWT (metode berfikir rasional transendental). Metode berfikir ini tidak saja berlandaskan iman, namun dilakukan dengan sesuai ajaran Islam, serta dilakukan dengan orientasi dan prioritas kemaslahatan bersama bukan egoisme sektoral.

Daftar Pustaka:

Chase F. Robinson, Para Pembentuk Peradaban Islam: Seribu Tahun Pertama. Jakarta: Pustaka Alvabet, 2019.
Musa Asy’ari, Rekonstruksi Metodologi Berpikir Profetik Perspektif Sunnah Nabi. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam, 2016.
Yunahar Ilyas, Aqidah Akhlak. Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam, 2016.


[1]Dari pemikiran ini merupakan awal untuk merubah teologi kebendaan (menyembah berhala) menjadi teologi tauhid (menyembah Allah SWT semata). Landasan proses dan produk kebendaan tidak layak dipertuhankan dengan alasan: pertama, pencipta produk yaitu manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. Kedua, ide dan gagasan yang berasal dari akal pikiran tidak diciptakan sendiri. Ketiga, benda dari alam yang digunakan sebagai bahan baku tidak diciptakan sendiri. Keempat, waktu yang digunakan bukanlah ciptaan manusia. Keempatnya merupakan ciptaan Allah SWT.

[2] Peradaban memiliki dua sisi penting yakni, kemajuan materi al-ruqiy al-maddi, yang dapat ditinjau dari industri sina’ah, perdagangan tijarah, pertanian zira’ah, kerajinan zira’ah, seni funun. Juga dari kemajuan maknawi al-ruqiy al’ma’nawi, berkaitan dengan nilai spiritual al-qiyam al-ruhiyyah, kaidah-kaidah moral al-qowaid al-akhlaqiyyah, produk pemikiran al-intaj al-fikr dan karya sastra al-ibda’ al-adabi.

[3] Kitab suci Al-Qur’an diberikan kepada Muhammad SAW diperuntukkan bagi seluruh umat manusia sebagai pedoman hidup. Hanya saja kitab suci dapat dijadikan pedoman jika akal sehat bisa memahami, sebab kitab suci dan akal keduanya adalah pemberian dari Allah SWT.

Tulisan ini merupakan bahan diskusi buku berjudul Rekonstruksi Metodologi Berpikir Profetik Perspektif Sunnah Nabi, karya Prof. Dr. Musa Asy’arie Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang diselenggarakan paa Jum’at, 19 Juli 2019, di Sekretariat Yayasan AR. Baswedan.

(Visited 138 times, 1 visits today)
Last modified: 31 Juli 2019
Close