Rektor UPGRIS: Pendidikan Tidak Boleh Berhenti Karena Covid-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pendidikan/pembelajaran dapat berlangsung dimana saja, kapan saja, dengan apa saja.

Pengantar
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengumumkan tema Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020 yaitu “Belajar dari Covid-19”. Redaksi arbaswedan.id meminta pandangan tokoh-tokoh pendidikan mengenai tema tersebut. Berikut ini merupakan pandangan Dr. Muhdi, S.H., M.Hum, Rektor Universitas PGRI Semarang.


A. Covid-19 telah mengajarkan kepada dunia pendidikan bahwa:

  1. Benar pendidikan harus berlangsung sepanjang hayat, pendidikan tidak boleh terhenti  oleh alasan apapun termasuk pandemi Covid-19, pendidikan/pembelajaran dapat berlangsung dimana saja, kapan saja, dengan apa saja.
  2. Kita terlambat menghadapi disrupsi pendidikan, karena setelah menteri Pendidikan dan kebudayaan diakhir tahun 2019 melepas kebijakan merdeka belajar, dan guru penggerak, dan awal tahun sedang menyiapkan implementasinya dengan merancang berbagai kebijakan turunannya, tiba-tiba pandemi Covid-19 melanda dunia termasuk Indonesia, dan tanpa persiapan yang memadai belajar di rumah melalui Daring harus dilakukan di semua jenjang pendidikan.
  3. Merdeka belajar menurut mas menteri artinya unit pendidikan yaitu sekolah, guru, dan muridnya punya kebebasan untuk berinovasi, untuk belajar dengan mandiri dan kreatif, yang menuntut guru mampu melakukan pembelajaran yang kreatif, menarik, menyenangkan dengan menggunakan teknologi Informasi yang terus berkembang,  murid dapat belajar mandiri melalui barbagai sumber belajar yang ada baik buku, Internet/media informasi, alam, lingkungan dan lain sebagainya.
  4. Pada saat semua itu masih menjadi program, cita-cita, tiba-tiba Covid-19 memaksa sebagian dari apa yang akan kita lakukan dimasa datang harus dijalankan, yaitu belajar di rumah dengan Daring, guru harus melaksanakan pembelajaran dengan sarana, media pembelajaran menggunakan teknologi informasi. Murid/siswa juga serta merta harus siap dan mandiri mengikuti pembelajaran dengan Daring dari rumah, untuk semua tingkatan pendidikan. Bagi mahasiswa, siswa SMA/SMK/MA, atau mungkin SMP/MTs tidak terlalu terkendala, tetapi bagi siswa SD/MI khususnya kelas rendah dan PAUD banyak sekali hambatan, apalagi bagi yang orang tuanya masih harus bekerja dan atau yang berpendidikan rendah. Disamping kendala tidak semua siswa memiliki sarana TI untuk melakukan pembelajaran daring.

    Disisi lain gurunya pun ternyata pada umumnya belum siap melaksanakan pembelajaran daring. Sehingga dalam dua minggu pertama sekalipun 98% guru di Jateng, (97,6 % secara nasional) telah  melaksanakan pembelajaran daring, tetapi masih banyak yang melakukan dengan pembelajaran yang tidak interaktif, sehingga  platform yang digunakan 95 % adalah WA . Hal tersebut karena disamping  keterbatasan kesiapan sarana yang dimiliki siswa juga keterbatasan  penguasaan TI guru dimana 71 % belum pernah melakukan pembelajaran daring (Muhdi dan Nurcholis 2020).
Baca juga: Belajar dari Covid-19, Menjadi Tema Hardiknas 2020

B. Pemerintah, dalam hal ini Kemdikbud dan Kemenag harus mempercepat implementasi merdeka belajar, seperti perubahan kurikulum, dan khususnya menyiapkan guru untuk  mampu melaksanakan pembelajaran di era merdeka belajar terutama kemampuan memanfaatkan TI untuk membuat media dan melaksanakan pembelajaran. Disamping itu sarana prasarana sekolah terkait dangan IT dan jaringan internet termasuk diseluruh pelosok tanah air agar memungkinkan siswa dapat memanfaat TI.

Redaksi arbaswedan.id

Redaksi arbaswedan.id