Renungan Tentang Pribadi Profetik Mas Kunto (Bagian I)

WhatsApp Image 2019-11-08 at 16.46.35ss

Oleh: Susilaningsih

Sebenarnyalah cobaan fisik yang disandang Mas Kunto, almarhum suami saya tercinta, semenjak keluar dari rumah sakit pada bulan April 1992 sangat berat.  Mas Kunto (panggilan ini saya pakai ketika berkomunikasi dengan kawan-kawan dekat dan khalayak umum, sedangkan panggilan dalam keluarga adalah Mas Kun) dirawat di RSU DR.  Sardjito Yogyakarta semenjak Selasa 7 Januari sampai dengan bulan April 1992 karena penyakit virus otak (meningo-ensefalitis).  Penyakit itu tampaknya hanya bermula dari penyakit flu bandel (kepala sangat pusing dan badan lemas susah makan) yang dideritanya mulai tanggal 1 Januari 1992. Pada waktu maghrib tanggal 7 Januari 1992 itu, diiringi hujan deras Mas Kunto kami bawa ke rumah sakit dalam keadaan setengah sadar, dan sesampai di rumah sakit sudah dalam keadaan tidak sadar.  Atas karunia Allah SWT yang tiada tara melalui kerja keras para dokter mulai pagi hari tanggal 8 Januari 1992, yang langsung bekerja sama tanpa komando (karena yang mengomando Allah yang Maha Rahman sendiri) Mas Kunto selamat dari ancaman maut walau harus koma ±12 hari dan perawatan  intensif selama 4 bulan. Pada bulan April 1992 itu Mas Kunto bisa pulang ke rumah.  Segala puji hanya untukMu ya Allah.  

Memang,  semenjak April 1992 itu Mas Kunto sudah bisa pulang ke rumah, namun kondisinya masih sangat lemah. Virus yang telah membikin radang seluruh jaringan otak dan memakan sebagian sel otak kecil (menurut hasil MRI Oktober 1992) telah melemahkan fisik dan motoriknya. Alhamdulillah berhasil diketahui memori dan kemampuan intelektualnya tidak terganggu.  Belum bisa bicara, berjalan masih dipapah dan hanya mampu heherapa langkah saja, tangan belum bisa mengenggam dan menunjuk dengan benar.  Maka terapi intensif pun dilaksanakan di rumah, baik dilakukan oleh terapis (phsyo-therapy, speech therapy, latihan tenaga dalam/pernafasan) maupan oleh perawat dan keluarga.  Sampai dengan akhir 1993 hari-hari Mas Kunto dipenuhi dengan acara terapi, sangat telaten tidak pernah mengeluh, bukan utama.  Dan akhir 1993 itu terapi ditambah dengan latihan nengetik komputernya yang WS-6 itu, dengan satu jari walau masih sering meleset, jadilah buku puisi “Daun Makrifat Makrifat Daun“.  Artikel pertama ditulisnya pada April 1994, setelah itu mengalirlah tulisan-tulisannya, walau mengetik dengan hanya satu jari telunjuk kiri.  Terapi-fisiologis yang lain terus dilakukan sampai dua hari sebelum peristiwa memilukan itu terjadi, Selasa 22 Februari 2005.

Apa yang saya peroleh dari perenungan terhadap perjalanan hidup Mas Kunto setelah 1992 adalah pembelajaran yang mendalam, pembelajaran ruhaniyah. 

Banyak orang memberi predikat Mas Kunto sebagai penggagas llmu Sosial Profetik. Tampaknya nilai profctik memang sudah menjadi bagian dari pribadi Mas Kunto semenjak muda, yaitu nilai-nilai transendens dan nilai-nilai tentang keharusan peduli (concern) terhadap tercapainya peradaban kemanusiaan. Mungkin kekuatan pribadi profetik itu juga yang menjadi unconsious motivation Mas Kunto sehingga survive dalam menjalani keadaan sakit selama 13 tahun 1 bulan 15 hari. 

Kekuatan transendens Mas Kunto memang sangat tinggi (apa saya patut menilainya?). Indikatornya adalah rasa ikhlas dan tawakalnya untuk Allah SWT.  Bahkan terhadap keadaan sakitnya yang banyak orang menganggap sebagai sebuah penderitaan, dia mengatakan itu sebagai hadiah.  Sekitar satu tahun setelah pulang dari rumah sakit saya pernah bertanya bagaimana sikapnya dengan keadaan sakitnya itu, yang banyak orang, termasuk saya, menyimpan pertanyaan.  “Kenapa orang seperti Mas Kunto kok sakit seperti itu?”  Begitu kira-kira pertanyaan itu.  Bahkan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) pernah menyatakan bahwa dia protes kepada Allah (astaghfinallah hal ‘adzim). Maka jawab Mas Kunto enteng saja.  “Lha yen ora aku sing lara kaya ngono trus sapa” (Iha kalau bukan aku yang sakit seperti itu terus siapa). 

Namun sebenarnya saya merasakan bahwa mas Kunto bukannya tidak menderita karena sakit tersebut.  Pernah suatu waktu terungkap pada jawaban surat kepada seseorang yang mengalami sakit menahun yang bertanya tentang bagaimana menyikapi penderitaan itu.  Dia menjawab bahwa penderitaan sakit itu dinikmati saja. Kekuatan Mas Kunto untuk menerima keadaan sakitnya memang luar biasa.  Saya bandingkan dengan diri saya, mungkin juga dengan orang lain.  Saya pernah mengalami sakit sedikit dan saya meminta opname selama 11 hari, saya merasakan penderitaan fisik dan jiwa yang sangat.  Rasanya dunia sudah habis.  Betapa berbedanya dengan sikap transendens-nya Mas Kunto.

Bersambung…

*Susilaningsih merupakan Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga yang juga Isteri Prof. Dr. Kuntowijoyo
**Tulisan ini disusun pada 6 Januari 2006. Bahan diskusi buku Persekongkolan Ahli Makrifat yang diselenggarakan Yayasan Abdurrahman Baswedan pada Jum’at, 8 November 2019 di Sekretariat Yayasan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close