Ditulis oleh 4:27 am KALAM

Renungan Tentang Pribadi Profetik Mas Kunto (Bagian II)

Oleh: Susilaningsih

Kekuatan kepedulian Mas Kunto terhadap peradaban kemanusiaan juga sangat tinggi.  Tampaknya ia ingin berbuat banyak sekali untuk orang lain, untuk manusia.  Mungkin juga kekuatan itu karena terobsesi oleh penderitaan para tetangganya di Ngawonggo ketika masih ikut eyangnya (kakeknya) sampai dengan usia SMP.  Mas Kunto sering bercerita tentang para tetangganya itu. Orang-orang desa yang dulunya berjaya karena pabrik tenunnya tapi kemudian terpuruk karena terlindas oleh proses industrialisasi.  Juga tetangganya yang menjadi kurban keganasan sistem pemerintahan militer yang otoriter pada masa Orde Baru.  Banyak tetangganya yang dia kenal dengan  dekat menjadi kurban tersebut. 

Mereka adalah orang-orang desa yang sederhana, lulusan  SD dan hanya seorang buruh dituduh menjadi aktifis atau mata-mata ekstrim kanan kemudian ‘diciduk”, setelah beberapa lama pulang dalam keadaan cacat yang tidak berdaya.  Mas Kunto sangat terobsesi dengan keadaan tersebut, mungkin juga sangat sakit hati dengan penderitaan para tetangganya itu. Maka banyak tulisan-tulisannya baik fiksi maupun non fiksi yang merefleksikan kondisi penderitaan orang-orang tertindas. Bahkan sebuah sinopsis dua halaman yang siap ditulis dengan judul “Keluarga Wongso” yang tertempel di ruang kerjanya juga berisi tentang perjalanan hidup orang kecil di desa.

Mas Kunto adalah pekerja keras dan disiplin tinggi.  Dia memiliki motivasi yang tinggi untuk melaksanakan apa yang diinginkan dan digagasnya.  Dia orang yang sangat talented, berbakat. Mungkin menurut Abraham Maslow, Mas Kunto termasuk orang yang mampu memiliki hirarki motivasi tertinggi, meta-motivation, motivasi aktualisasi diri, motivasi mengaktualisasikan nilai-nilai keagungan.  Dalam benak Mas Kunto tidak ada kata gagal, semua usaha pasti berhasil, dan semua pekerjaan pasti bisa diselesaikan.  Gagasan selalu mengalir di pikirannya.  Semua gagasan itu tidak dibiarkan lewat. 

Mas Kunto, sejak muda biasa menuliskan gagasan-gagasannya dalam bentuk poin-poin pada buku kecil, atau potongan kertas apa saja yang ditenukan saat gagasan itu muncul.  Bahkan juga menjelang tidur, bisa saja tiba-tiba dia bangun, memuliskan sesuatu pada buku kecil atau kertas di samping tempat tidur.  Sebelum sakit pada tahun 1992 jam kerja Mas Kunto sampai dengan jam 01.00 malam.  Buku kecil dan sobekan kertas itu menjadi sebuah bank gagasan, yang akan dituliskannya dalam bentuk fiksi atau non-fiksi ketika waktu sudah mengizinkan, bahkan setelah sekian puluh tahun kemudian.  Novel Mantera Pejinak Ular (2000) serta Wasripin dan Satinah (2003) adalah contohnya, yang sudah ada dalam catatan kecil sejak 1970-an.  Mas Kunto mempunyai internal motive yang sangat tinggi, indikator bahwa jiwanya sangat sehat. 

Semenjak 1992 kondisi fisik dan motorik Mas Kunto memang mengalami gangguan, tetapi itu semua tidak menggangu kesehatan jiwanya temasuk internal motive nya yang mengalir menjadi semangat kerja keras dan disiplin.  Sifat kerja keras dan disiplin yang telah menjadi saluran derasnya bakat Mas Kunto yang teraktualisasi dalam berbagai karyanya yang selalu outstanding, semenjak muda.  Hampir semua karya fiksi Mas Kunto selalu memperoleh penghargaan, semenjak tahun 1968 sampai tahun 2005. Penghargaan terakhir yang diterima adalah untuk penghargaan Cerpen Terbaik Kompas Tahun 2005 dengan judul “Jl. Asmaradana”, yang diterimakan pada 29 Juni 2005. Karya non fiksi Mas Kunto juga menjadi rujukan yang menginspirasi para pembacanya.

Mas Kunto adalah orang yang rendah hati, sangat rendah hati.  Bahkan ketika masih tunangan dulu saya pikir dia adalah orang yang rendah diri.  Kecenderungan untuk menghargai dan memuliakan orang lain sangat tinggi.  Orang lain itu maksudnya adalah semua orang, anak-anak, orang mada, orang tua, tidak pandang kekayaan, pangkat, dan jabatan.  Contohnya Mas Kunto menggunakan bahasa jawa “kromo madyo” (bahasa jawa tingkat tinggi tengahan) bila berbicara dengan adik-adik saya (adik iparmya), bahkan dengan adik bungsu saya yang seusia anak saya dan tinggal serumah dengan saya semenjak SMP. 

Kami punya banyak souvenir dari manca negara.  Mas Kunto punya banyak foto-foto dalam ukuran besar, biasanya pemberian, tentang kebersamaannya dengan para permbesar, misalnya foto sedang berjabat tangan dengan mantan Presiden Soeharto, BJ.  Habibi, foto penerimaan ASEAN Award.  Mas Kunto juga punya banyak piagam dan piala penghargaan. Tetapi semua tanda-tanda kebesaran itu tidak boleh dipasang di ruang tamu, juga tidak boleh di pasang di ruang keluarga, maka saya meminta izin untuk membuatkan tempat bagi piala-piala itu di pojok ruang bacanya.  Sedangkan nasib foto-foto itu hanya tergulung di dalam lemari.  Mas Kunto juga tidak suka membicarakan tentang peristiwa-peristiwa penerimaan penghargaan itu dalam keluarga.  Ya, Mas Kunto memang orang yang rendah hati. 

Itulah diantara sifat-sifat Mas Kunto yang mampu saya renungkan yang tampaknya ikut mempengaruhi gagasan etika profetiknya.  Etika profetik sudah menjadi bagian dari pribadi dan obsesinya.  Etika profetik yang kemudian dirumuskan untuk menjadi dasar-dasar nilai keilmuan Islam yang diimpikannya semenjak tahun 1970an.  Mas Kunto sudah lama memimpikan adanya bangunan keilmuan Islam yang empiris, aplikatif kontekstual.  Bukan hanya ilmu keislaman yang normatif.  Dia memimpikan terbangunnya paradigma Al-Qur’an untuk perumusan teori. 

Al-Qur’an bukan hanya dijadikan sebagai dasar perumusan ilmu yang normatif seperti tasawuf dan figh, tetapi juga menjadi dasar perumusan, dasar cara berfikir, serta paradigma dari teori-teori yang empiris dan rasional.  Paradigma Al-Qur’an dapat menjadi dasar-dasar pengembangan eksperimern ilmu puagetahuan yang empiris, seperti ilmu ekonomi, ilmu sosial, dan ilmu jiwa.  Maka ilma pengetahuan yang dikembangkan dari paradigma Al-Qur’an itu akan menjadi rumusan ilmu pengetahuan alternatif. Begitu  kata Mas Kunto dalam bukunya Islam sebagai Ilmu ​​yang diterbitkan tahun 2004.

Bersambung…

*Susilaningsih merupakan Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga yang juga Isteri Prof. Dr. Kuntowijoyo
**Tulisan ini disusun pada 6 Januari 2006. Bahan diskusi buku Persekongkolan Ahli Makrifat yang diselenggarakan Yayasan Abdurrahman Baswedan pada Jum’at, 8 November 2019 di Sekretariat Yayasan.

(Visited 34 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 Februari 2020
Close