Ditulis oleh 4:32 am KALAM

Renungan Tentang Pribadi Profetik Mas Kunto (Bagian III)

Oleh: Susilaningsih

Mas Kunto menggunakan Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 110 scbagai dasar perumusan konsep  etika profetiknya.  Arti ayat ini adalah scbagai berikut: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah”.

Islam adalah agama amal. Agama yang menganjurkan manusia untuk terlibat dalam gerakan pembangun peradaban kemanusiaan. Caranya, menurut Mas Kunto, adalah  dengan melaksanakan firman Allah Swt pada ayat di atas. Mas Kunto merumuskan adanya 4 (empat) korsep sebagai dasar amal atau gerakan peradaban kemanusiaan yang diinterpretasi dari surat Ali Imron ayat 110 itu. (1) konsep tentang umat terbaik, (2) aktivisme sejarah, (3) pentingnya kesadaran, (4) etika profetik. Ulasan singkat saya terhadap konsep tersebut adalah sebagai berikut.

Umat Islam dilahirkan ke bumi ini agar menjadi umat terbaik (khaira ummah) tetapi untuk menjadi umat terbaik itu tidaklah given. Untuk menjadi khaira ummah umat Islam harus melaksanakan gerakan pembangunan peradaban kemanusiaan. Keterlibatan umat Islam dalam gerakan inilah (aktivisme sejarah) yang dapat menjadikan umat Islam mampu mencapai peradaban yang diberikan Allah Swt.  (“tidaklak Allah akan merubah nasib sebuah kaum kecuali mereka mengubah dirinya sendiri” Q. S. Ar Ra’du [13]: 11).  Dalam melaksanakan gerakan itu umat Islam harus memiliki kesadaran, kesadaran (consciousness), kesadaran ilahiyah, kesadaran yang berdasar nilai-nilai ilahiyah. 

tidaklak Allah akan merubah nasib sebuah kaum kecuali mereka mengubah dirinya sendiri

Q. S. Ar Ra’du [13]: 11

Renungan Tentang Pribadi Profetik Mas Kunto (Bagian II)Jelas ini berbeda dari kesadaran nilai-nilai Barat, etika materialistis misalnya.  Dari ayat 110 surat Ali Imron itu Mas Kusto merumuskan 3 (tiga) unsur nilai ilahiyah, yaitu nilai-nilai ma’ruf (kebaikan) munkar (kekejian), iman (keyakinan).  Ketiga dasar nilai inilah yang kemudian dijadikan dasar etika sebuah gerakan pembangunan peradaban kemanusiaan (etika profetik).  Maka etika profetik mengandung 3 (tiga) unsur yaitu amar ma’ruf (mengajak kebaikan), nahi munkar (mencegah kekejian/kejelekan), dan tu’minuna billah (beriman kepada Allah).  Selanjutnya tiga unsur etika profetik itu disebutnya sebagai (1) humanisasi, (2) liberasi, (3) transendensi. 

Dengan berlandaskan pada etika profetik gerakan pembangunan peradaban kemanusiaan akan berusaha menghilangkan dehumanisasi akibat dari perkembangan ilmu dan teknologi yang cenderung mereduksi nilai-nilai kemanusiaan.  Di samping itu juga berusaha membebaskan manusia dari kepicikan ilmu, keterpurukan ekonomi, ketertindasan secara politik, dan lain sebagainya.  Dimensi transendental akan mengendalikan arus hedonisme dan materialisme yang telah melanda manusia sejak beberapa waktu yang lama, dan mengembalikan manusia ke fitrahnya, rindu kepada Tuhan.

Rumusan temtang konsep etika profetik, menurut saya, adalah teoretisasi dari apa yang telah dilakukan Mas Kunto dalam menulis karya- karyanya baik dalam non-fiksi maupun fiksi.  Dan itu terjadi karena etika profetik memang telah menjadi inti dari pribadi Mas Kunto.  Nuansa-nuansa etika profetik sangat terasa dalam setiap karya non-fiksi Mas Kunto, bahkan sebagian besar buku-bukunya merupakan implementasi dari konsep etika profetik itu.  Tengok saja buku-buku dengan judul berikut:

  • Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi
  • Identitas Politik Umat Islam
  • Muslim tanpa Masjid
  • Demokrasi dan Budaya Birokrasi
  • Radikalisasi Petani

Demikian juga dalam karya fiksinya, novel, cerpen, naskah drama, dan puisi, penuh dengan nuansa profetik.  Bahkan menurut Mas Kunto karya-karya fiksi yang ditulisnya semenjak 1960an itu merupakan implementasi dari koesep profetik tersebut.  Ini terungkap dalam artikel terakhirnya dengan judul Maklumat Sastra Profeti: Kaidah, Etika, dan Struktur Sastra, tertanggal 21 Januari 2005, dan dimuat di Majalah Horison Edisi Mei 2005. Dalam artiket tersebut Mas Kunto menegaskan langsung tentang contoh-contoh penerapan unsur-unsur etika profetik dalam karya-karyanya.  Terapan nilai humanisasi dalam novel Mantra Pejinak Ular (2000), terapan nilai liberasi dalam novel Wasripin dan Satinah (2003).  Terapan dari nilai transendensi dalam naskah drama Topeng Kayu (1973), cerpen Burung Kecil Bersarang di Pohon (1971), cerpen Sepotong Kayu untuk Tuhan (1972), novel Khutbah di atas Bukit (1976), kumpulan puisi Suluk Awang-Uwung (1975), dan Daun Makrifat Makrifat Daun (1995).  (catatan: dalam kurung adalah tahun persetujuan pertama). 

Pribadi profetik, itulah inti dari pribadi Mas Kunto, suatu magma pada dunia dalamnya Mas Kunto yang selalu mendidih dan bargelora dalanı kondisi apa pun, kondisi sehat maupun sakit. Yang menjadikannya selalu gelisah dan gairah secara emosional, intelektual, dan spiritual.  Ketika membaca fenomena-fenomena yang menyentuhnya.  Kegelisahan dan kegairahan profetik itu tidak terkikis oleh kondisi keterbatasan fisik dan motorik semenjak 1992 itu, bahkan menjadi semakin kuat dan tajam.  Itu terbukti pada komentar banyak orang terhadap tulisan-tulisan Mas Kunto setelah 1992 yang dinilai semakin tajam dan mendalam.  Pribadi profetik itu telah menjadi daya survival Mas Kunto dalam menjalani cobaan fisiknya. Menurut pandangan orang lain, termasuk saya, cobaan fisik tersebut adalah seorang penderitanan. Tetapi Mas Kunto menganggap itu adalah hadiali, maka ia memanfaatkan hadiah itu sebaik-baiknya.  Dan jadilah karya-karyanya yang selalu monumental.  Semoga Allah SWT memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya di alam sana, Amin…

Yogyakarta, 6 Januari 2006

*Susilaningsih merupakan Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga yang juga Isteri Prof. Dr. Kuntowijoyo
**Tulisan ini disusun pada 6 Januari 2006. Bahan diskusi buku Persekongkolan Ahli Makrifat yang diselenggarakan Yayasan Abdurrahman Baswedan pada Jum’at, 8 November 2019 di Sekretariat Yayasan.

(Visited 119 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 Februari 2020
Close