Renungan

Dalam sejarah dapat dicatat bahwa kaum realis-struktural-sosiologis yang dahulu memelopori cita-cita kemerdekaan kemudian menjadi kaum elite penguasa setelah Kemerdekaan. Rupanya, bersamaan dengan perubahan status itu perubahan pikiran juga terjadi. Mereka sekarang memiliki kedudukan yang mapan, dan seperti orang mapan lainnya mereka menjadi idealis dalam pendekatan masalah-masalah nasional. Integrasi nasional, yang sebelumnya memiliki konotasi anti-kolonial, antirasial, antifeodal, tidak lagi mendapat tempat dalam ruang pikiran mereka. Mereka menjadi idealis yang berpikir dari tempat mereka yang tinggi, mereka tidak lagi gelisah tentang struktur. Dari sinilah mulai segala aib nasional kita.

Kuntowijoyo, 1990

“Pengajaran nasional itulah pengajaran yang selaras dengan penghidupan bangsa (maatschappelijk) dan kehidupan bangsa (cultureel). Kalau pengajaran bagi anak-anak kita tidak berdasarkan kenasionalan, sudah tentu anak-anak kita tidak mengetahui keperluan kita, lahir maupun batin; lagi pula tidak mungkin anak-anak itu mempunyai rasa cinta bangsa dan makin lama makin terpisah dari bangsanya, sehingga kemudian barangkali menjadi lawan kita.”

Ki Hadjar Dewantara
(Sumber: Ki Hadjar Dewantara: Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, (1961), Penerbit Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST-Press) dan Majelis Luhur Tamansiswa.)

Sejarah tetap terbuka. Salah satu syarat terbukanya kembali sejarah ialah terbentuknya sistem politik yang demokratis.

Kuntowijoyo, 1990

Kita berpendapat bahwa seseorang berhak mengemukakan pendiriannya dengan tegas dan terang. Jang perlu didjaganja ialah supaja pendiriannja itu dikuatkannja dengan keterangan keterangan setjukup mungkin. Dan djangan ia sengadja menjembunjikan keterangan satupun, bila keterangan itu penting dan perlu turut dikemukakan untuk menjadi bahan pertimbangan bagi orang jang mempunjai persediaan turut mempertimbangkannya, sehingga pendiriannya itu, setiap waktu bisa diperiksa, dikoreksi oleh orang yang sanggup dan suka mengoreksinya.

M. Natsir

…, bahwa kemunduran dan kemajuan itu, tidak bergantung kepada ketimuran atau kebaratan, tidak bergantung pada putih, kuning atau hitamnya warna kulit, tetapi bergantung kepada ada tidaknya sifat-sifat atau bibit kesanggupan dalam satu umat, yang menjadikan mereka layak atau tidak menduduki tempat yang mulia di atas dunia ini.
Dan ada atau tidaknya sifat-sifat dan kesanggupan (kapasitet) ini bergantung kepada didikan ruhani dan jasmani, yang mereka terima untuk mencapai yang demikian.

(M. Natsir, Capita Selecta, p:78)

Kita hadapkan sedikit pandangan ini kepada pemuda-pemuda kita yang ingin berkhidmat kepada Tanah Air dan Bangsanya. Pendidikan! Inilah lapangan pekerjaan kita yang amat kekurangan tenaga di zaman sekarang dan di masa depan ini! Inilah lapangan pekerjaan yang amat hajat kepada bantuan. Berilah tenaga muda tuan-tuan untuk pendidikan rakyat, pokok dari semua kecerdasan dan kemajuan bangsa. Pekerjaannya susah dan sulit berkehendak kepada ketabahan hati. Kalau tidak tuan-tuan yang muda-muda yang mau bersukar, bersulit dan bertabah hati itu, siapatah lagi…?

(dari Panji Islam, Mei 1938 – Capita Selecta: 89)
(Visited 134 times, 1 visits today)
Last modified: 24 Februari 2020

Comments are closed.

Close