Respon Berbeda Nyamuk Siang dan Malam Terhadap Warna Cahaya dan Waktu

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Spesies nyamuk yang menggigit pada malam hari dan yang pada siang hari tertarik secara perilaku serta menghindar dari warna cahaya yang berbeda pada waktu yang berbeda.

Tidaklah jarang kita mengeluhkan gigitan nyamuk. Serangga yang satu ini terkenal oleh karena kebutuhan mereka untuk menghidap darah, dan mereka melakukannya baik siang maupun malam hari, seakan tidak pernah lelah untuk mencari mangsa baru. Tidak hanya itu, nyamuk juga merupakan salah satu pusat penyakit yang sangat berdampak bagi manusia dan hewan di seluruh dunia.

Kini, dalam sebuah studi baru, para peneliti menemukan bahwa spesies nyamuk yang menggigit pada malam hari dan yang pada siang hari tertarik secara perilaku serta menghindar dari warna cahaya yang berbeda pada waktu yang berbeda. Temuan berikut ini memiliki implikasi penting, yakni untuk menggunakan cahaya sebagai cara untuk mengendalikan mereka.

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Irvine, California, mempelajari spesies nyamuk yang menggigit pada siang hari (nyamuk Aedes aegypti, alias nyamuk Demam Kuning) dan yang menggigit di malam hari (Anopheles coluzzi, anggota keluarga Anopheles gambiae, anggota utama vektor untuk malaria). Mereka menemukan respons berbeda terhadap sinar ultraviolet dan warna cahaya lain di antara kedua spesies. Para peneliti juga menemukan preferensi cahaya tergantung pada jenis dan jenis nyamuk, waktu, dan warna cahaya.

Todd C. Holmes, PhD, seorang profesor di Departemen Fisiologi dan Biofisika di Fakultas Kedokteran UCI mengatakan bahwa secara konvensional adalah bahwa semua serangga tertarik pada sinar ultraviolet, oleh karena itu penggunaan meluas dari perangkap serangga dengan sinar ultraviolet untuk pengendalian jumlah serangga.

Peneliti menemukan bahwa nyamuk yang menggigit siang hari tertarik pada berbagai spektrum cahaya pada siang hari. Sedangkan nyamuk yang menggigit malam hari sangat fotofobik terhadap cahaya dengan panjang gelombang pendek di siang hari. Hasil mereka menunjukkan bahwa waktu dan spektrum cahaya sangat penting untuk pengendalian cahaya bagi nyamuk berbahaya dengan spesies-spesifik.

Nyamuk menimbulkan ancaman luas bagi manusia dan hewan lain sebagai vektor penyakit. Diperkirakan secara historis bahwa penyakit yang disebarkan oleh nyamuk telah berkontribusi pada kematian setengah dari semua manusia yang pernah hidup. Penelitian baru ini menunjukkan bahwa nyamuk yang menggigit siang hari, terutama betina yang membutuhkan makanan darah untuk telur yang dibuahi, tertarik pada cahaya di siang hari tanpa memandang spektrum.

Sebaliknya, nyamuk yang menggigit malam hari secara khusus menghindari sinar ultraviolet (UV) dan cahaya biru di siang hari. Penelitian sebelumnya di laboratorium Holmes menggunakan lalat buah (yang berhubungan dengan nyamuk) telah menentukan sensor cahaya dan mekanisme molekuler sirkadian untuk perilaku tertarik / menghindar dengan mediasi cahaya. Saat ini, kontrol serangga berbasis cahaya tidak mempertimbangkan profil perilaku siang versus malam yang berubah dengan siklus harian terang dan gelap.

Dengan mendapatkan pemahaman tentang bagaimana serangga merespons cahaya panjang gelombang pendek dengan cara spesifik spesies, kita dapat mengembangkan alternatif baru yang ramah lingkungan untuk mengendalikan serangga berbahaya secara lebih efektif dan mengurangi kebutuhan akan pestisida beracun yang merusak lingkungan. (Disadur dari situs sciencedaily)

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora