Revolusi Industri 4.0 dan Dunia Pendidikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pada titik inilah dunia pendidikan perlu membuat sikap yang lebih jelas. Yakni dunia pendidikan perlu memikirkan suatu strategi pendidikan tersendiri.

Revolusi Industri 4.0, seperti gelombang besar yang kehadirannya dikesankan sebagai sesuatu yang tidak bisa ditolak. Memang tidak ada diskusi apakah moda industri tersebut sesuai dengan keadaan bangsa, ataukah tidak. Tidak juga ada pertanyaan apakah jenis industri tersebut dibutuhkan oleh bangsa atau tidak. Pun tidak ada prolog apakah industri tersebut telah siap untuk diterima atau belum. Bentuk kesiapan apa yang harus diadakan oleh bangsa. Dan berbagai pertanyaan penting lainnya. Dan memang gelombang tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan kita.

Sebagian dari kita telah dengan seksama membicarakan dan secara seksama mempersiapkan diri, tidak kecuali dunia pendidikan. Apa sebenarnya moda industri tersebut? Secara mudah, sebagaimana yang telah menjadi pengetahuan publik, bahwa moda industri ini adalah suatu bentuk industri yang sepenuhnya mengandalkan otomasi dan pertukaran data teraktual (terkini), di dalam proses produksi.

Jika kita membayangkan suatu proses produksi, maka proses berjalan dalam bentuk yang mungkin belum terbayangkan sebelumnya. Wikipedia menggambarkan industri 4.0 menghasilkan “pabrik cerdas”. Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lebih jauh dikatakan bahwa dengan komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam suatu rantai nilai.

Terbayang suatu sistem yang mandiri dengan kecerdasan yang telah dimasukkan dalam sistem sehingga proses produksi mengontrol dirinya sendiri dalam cara kerja otomasi. Cara kerja ini tentu saja tidak membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah tertentu. Bahkan mungkin, dapat dikatakan bahwa pada akhirnya tenaga manusia tidak dibutuhkan karena semua pekerjaan akan diurus oleh mesin yang sepenuhnya terkendali atau bekerja dalam skema kecerdasan buatan.

Mereka yang punya pandangan lama, atau tidak tidak melakukan update terhadap kemajuan teknologi, tentu akan menganggap bahwa perkembangan yang demikian bukan hal yang baik, karena teknologi cenderung superior dan jika kita tidak siap, bukan tidak mungkin moda yang demikian justru mempersempit lapangan kerja. Sementara kita justru tengah membutuhkan lapangan yang luas. Malah sebagian dari kita membutuhkan lapangan kerja dalam skema padat karya. Bagaimana seharusnya perkembangan ini dihadapi?

Pertanyaan ini tentu bukan suatu pertanyaan yang bersifat mundur ke belakang, melainkan suatu pertanyaan yang bersifat melihat ke depan dengan suatu sikap optimis dan sekaligus kritis. Optimis karena dengan sumberdaya yang kita miliki, kita berpandangan bahwa setiap tantangan akan dapat dilewati dengan baik, jika kita mampu bersikap benar. Kritis dalam hal ini adalah sikap dimana kita tidak menerima begitu saja, dan senantiasa mengembangkan pandangan alternatif, terutama ketika masalah berkembang ke arah yang bertentangan dengan tujuan bangsa.

Dalam kerangka inilah dunia pendidikan seharusnya mengambil sikap, terutama dunia pendidikan tinggi. Hal yang sangat tidak diharapkan adalah jika dunia pendidikan tinggi tidak mampu menempatkan diri secara benar, sehingga perguruan tinggi tidak lagi menjadi kawah candradimuka bagi putera puteri bangsa, melainkan hanya bertindak layaknya pabrik yang melayani kebutuhan industri. Benar bahwa kita membutuhkan lapangan kerja. Benar bahwa para sarjana pada nantinya harus dapat berkiprah dalam menggerakkan ekonomi. Namun hal tersebut tidak boleh mengabaikan suatu kepentingan yang lebih tinggi, yakni pembangunan karakter bangsa.

Pada titik inilah dunia pendidikan perlu membuat sikap yang lebih jelas. Yakni dunia pendidikan perlu memikirkan suatu strategi pendidikan tersendiri. Suatu strategi yang didasarkan pada kajian menyeluruh, baik terkait perkembangan teknologi, industri dan perubahan sosial budaya. Hal ini penting agar perguruan tinggi mampu menangkap problem dasar bangsa, dan dengan demikian dapat meletakkan secara benar perkembangan teknologi yang ada dan khususnya perkembangan industri 4.0. Dengan itulah kurikulum dan seluruh sistem pembelajaran ditinjau ulang, dan diarahkan secara persis untuk menjadi bagian dari upaya bangsa meraih cita-citanya.

Syamsudin, S Pd., MA

Syamsudin, S Pd., MA

Ketua Pusat Studi Pendidikan IKA UNY. Dosen UP45 Yogyakarta.

Terbaru

Ikuti