Ditulis oleh 2:41 pm COVID-19

Rumah Kita

Rumah walaupun tempat tinggal, tetapi bisa jadi bukan merupakan tempat yang dirindukan. Mereka

Lagu God Bless, Rumah Kita, yang liriknya diciptakan oleh Ian Antono, meledak dipasaran dan menjadi album terlaris God Bless, konon sepanjang sejarah mereka berkarya. Lagu tersebut berada dalam album Semut Hitam, yang terbit pada 1988. Lagu lawas tersebut, pada waktu itu, seperti hendak mengingatkan bahwa bagaimana keadaannya, rumah kita adalah rumah kita, yang harus dijaga dan kita bangga dengannya. Tidak perlu bermaksud mencapai yang disana, karena semua ada di sini.

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa
Semuanya ada di sini
Rumah kita

Walaupun hanya berupa bilik bambu, yang tidak dilengkapi dengan hiasan dan lukisan dari pelukis ternama, beratapkan jerami dan masih beralaskan tanah, tetapi dikatakan: Namun semua ini punya kita//Memang semua ini milik kita.. sendiri… Gambar tersebut ditambahkan: Meskipun hanya berpagar alang-alang, yang tidak dihiasi dengan bunga nan indah seperti melati atau anyelir, dan hanya bunga Bakung, tetapi semua itu punya kita//Memang semua itu milik kita.

Lagu tersebut, mungkin merupakan bentuk reaksi terhadap kecenderungan yang berkembang kala itu, dimana warga berbondong-bondong mengadu nasib ke kota-kota besar. Pesan ini tampak dari perkataan: Haruskahkita beranjak ke kota//Yang penuh dengan tanya? Untuk apa pergi ke kota jika tidak kepastian dan malah yang ada adalah ketidakpastian. Lagu tersebut dapat dikatakan hendak menahan laju urbanisasi, dan sekaligus sebagai suatu upaya membangun kesadaran tentang apa yang dimiliki dan punya kebanggaan dengan apa yang dimilikinya.

Ambil contoh. Dahulu orang-orang di kampung-kampung, beranjak dari cara makan lama ke cara makan baru. Semula menggunakan tangan, kemudian menggunakan sendok/garpu dengan semua tata cara yang sudah diatur nilai kepatutannya. Dalam keterbatasan, yang tidak punya berusaha mengikuti metode tersebut. Dan memang pada sebagian merupakan upaya untuk membuat kebiasaan hidup yang lebih sehat, seperti mencuci tangan sebelum makan.

Setelah metode tersebut menjadi satu-satunya cara yang “benar”, muncul ragam metode, ada yang pakai alat lain bukan sendok dan garpu, dan ada pula yang kembali kepada cara lama, yakni makan dengan tangan dan memakai daun pisang sebagai alas makannya. Pun ketika rumah-rumah lama tinggalkan dan warga mengikuti rumah dari beton, karena yang tidak pakai beton tidak modern, tiba-tiba muncul nilai baru, dimana rumah dengan kayu dengan model kuno justru diminati. Namun persis pada waktu yang bersamaan, harga melonjak sehingga hanya sebagian yang mampu mengaksesnya.

Contoh tersebut hanyalah sekedar gambar kecil dari perubahan makna yang begitu dinamis dalam masyarakat. Apa yang dahulu dianggap penting, bisa jadi berubah di masa kini. Demikian sebaliknya, apa yang dahulu disepelekan, bisa jadi kini menjadi penting atau hilang sama sekali. Rumah kita, pada waktu itu, dapat dikatakan sebagai pandangan yang melihat bahwa rumah (dalam arti sempit maupun luas), merupakan tempat berlindung, yang perlu dijaga, dirawat dan dihargai, bagaimanapun keadaannya. Tidak boleh ada pandangan lain yang membuat rumah menjadi kehilangan makna.

Jika sudah kehilangan makna, rumah walaupun secara fisik eksis, namun bisa saja tidak tampak. Rumah walaupun tempat tinggal, tetapi bisa jadi bukan merupakan tempat yang dirindukan. Mereka yang ingin Mudik, dapat dikatakan mewakili rasa rindu pada kampung, namun pada saat yang sama dapat juga mencerminkan rasa sebaliknya terhadap kota: ingin ditinggalkan, namun disanalah rejeki dicari. Ada kerinduan pada kehidupan yang lebih baik, tetapi tidak mungkin diraih. Mudik, barangkali hanya momen sesaat namun dapat mewakili kerinduan yang amat dalam pada rumah yang nyaman dan aman.

Rasa rindu yang ingin mudik, pesan yang penuh makna dari lagu rumah kita, terasa mendapatkan tantangan hari-hari ini. Yakni pada kenyataan dimana ternyata tinggal di rumah bukan merupakan hal mudah. Kebosanan dan ragam situasi mental yang intinya mengalami kesulitan berdiam di rumah, merupakan cermin bahwa rumah kini terasa kurang ideal, sehingga belum mampu memberikan rasa nyaman dan dirindukan. Memang kalau ditinjau masa liburan, maka masa tersebut bukan waktu yang akan dihabiskan di rumah, tetapi waktu untuk bepergian. Itulah sebabnya mengapa setiap liburan kota tertentu dipadati wisatawan.

Hari-hari ini, mungkin dapat menjadi waktu yang baik untuk membuat refleksi, atas apa selama ini berlangsung. Lagu Rumah Kita kembali terdengar… //Segala nikmat dan anugerah yang kuasa// Semuanya ada di sini//Rumah kita.

(t.red)

(Visited 327 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 5 April 2020
Close