22.7 C
Yogyakarta
10 September 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Rumah: Sekolah Pertama (Al-Madrasah Al-Ūlā)

“Suatu negara akan baik, kalau masyarakatnya baik, masyarakat akan baik kalau individu-individu baik. Tumbuhnya individu di keluarga, maka keluarga menjadi kunci lahirnya individu yang baik.”

An-Nisa ayat 9:

وليخش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم فليتقوا الله وليقولوا قولا سديدا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Ayat di atas mengandung pengertian yang berupa peringatan kepada orang tua khususnya terhadap masa depan anak-anak: jangan sampai menjadi anak dan keturunan yang lemah. Lemah bisa meliputi: badannya, pikirannya, semangatnya, ekonminya dan agamanya.

Kualitas harus menjadi proritas di samping kuantitas (jumlah). Umat Islam yang menjadi minoritas biasanya mengalami penindasan dan ketidakadilan: di Myanmar, Thailand, Philipina, China.

Terdapat hadis bahwa umat Islam akan mengalami nasib seperti buih di lautan yang meskipun besar  tetapi terombang ambing tanpa kekuatan dan pegangan, hanya menjadi mainan dan korban dari orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة الى قصعتها فقال     قا ئل من قلة نحن يومئذ ؟ . قال بل كثير و لكنكم غناء كغناء السيل و لينزغن الله من صدور عدوكم المهابة منكم و ليقذفن الله فى قلوبكم الوهن .  فقال قائل يا رسول الله و ما الوهن ؟ قال حب الدنيا وكراهية الموت (رواه أحمد وغيره)

Artinya : “nyaris tiba saatnya banyak umat yag memperebutkan kalian seperti orang-orang memperebutkan hidangannya. Ada orang bertanya: Apakah karena jumlah kami sedikit?, Nabi Menjawab: tidak, bahkan banyak, tetapi kamu seperti buih diair.Sungguh  Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada-dada musuh kalian dan menimpakan penyakit wahn kepada kalian. Orang tersebut bertanya:ya rasulallah, apa iti wahn.Nabi Menjawab : cinta dunia dan takut mati”.

Yang dimaksud cinta dunia adalah menggunakan segala cara untuk mendapatkan dunia, bahkan agamapun bisa dijual. Tidak peduli halal haram. Dunia menjadi tujuan hidup.

Kualitas sangat penting, bisa dilihat dalam beberapa hadis: Mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah; tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah (berinfak lebih didasarkan pada kesadaran bukan apakah kaya atau miskin).

Salah satu cara yang sangat mendasar untuk memberikan bekal kepada anak adalah memberikan:

  1. Pendidikan: mengajar, membimbing, mengawasi, memberikan hadiah dan hukuman, dan memberikan tauladan.
  2. Pelatihan untuk mengembangkan kemampuan: pertanian, peternakan, tehnik: pertukangan, bengkel, pedagangan dll.

Tujuan pendidikan bukan hanya supaya pintar (IP-TEK) tetapi juga berakhlak mulia (IM-TAQ). Untuk menjadikan anak pintar bisa lebih mudah dari pada menjadikan anak saleh. Pintar identik dengan akal dan pikiran sedangkan kesolahen: akal-pikiran (kognitif), hati-perasaan (afektif), dan tingkah laku-perbuatan (psikomotorik).

Persoalan kehidupan ke depan akan sangat berbeda dengan sekarang, kemajuan ilmu dan teknologi mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia: pada agama, hubungan social-pergaulan, budaya, berekonomi, gaya hidup dll.  Sebagai contoh:

  1. kemajuan Internet: informasi semakin cepat, perdagangan on-line, pengaruh budaya luar secara cepat baik yang positif maupun yang negatif dll.
  2. HP : segala aktifitas dipengaruhi HP; lebih individual dan  asyik dengan urusan sendiri : kurang perduli dengan lingkungan sekitar dan orang yang di sekitarnya, lupa waktu, game on-line , melemahkan semangat belajar

Karena itu mempersiapkan anak untuk masa depan tentunya akan lebih berat dari yang kita alami sekarang ini; persaingan dan kompetisi dalam ekonomi, pengaruh budaya yang materialistic yang melemahkan nilai nilai kegamaan (liberalisme-bebas, sekularisme- agama tidak mengatur urusan dunia, dll)

Kata Ali bin Abi Thalib: didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup tidak di zamanmu”.

Di dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, dikutip perkataan Ali Bin Abi Thalib:

الا لا تنال العلم الا بستة سأنبيك عن مجموعها ببيان :  ذكاء و حرص و اصطبار و بلغة و ارشاد أستاذ و طول زمن

Artinya: Ketahuilah, kamu tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam syarat, akan saya kabarkan kepadamu dengan penjelasan: kecerdasan, keinginan yang kuat, kesabaran, biaya, petunjuk guru dan waktu yang lama.”

  1. Kecerdasan: memiliki kemampuan memehami. Antara satu anak dengan yang lainnya berbeda, karena itu perlu cara/metode yang berbeda termasuk beratnya materi yang disampaikan.
  2. Keinginan yang kuat untuk belajar: dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan: teman bergaul dan sekolah.
  3. kesabaran: misalnya melakukan pendidikan dengan bertahap dan berulang-ulang.
  4. biaya: biaya buku, seragam, makan, dll. Kewajiban biaya pendidikan adalah kewajiban orang tua/wali, adanya lembaga yang membiayai hendaknya hanya sebagai bantuan dan bukan menjadi pokok, kecuali karena tidak mampu.
  5. petunjuk guru: guru adalah orang yang tentunya bukan hanya luas ilmu dan pemahamannya tetapi juga pengalaman dan pergaulannya. Belajar otodidak (belajar sendiri) bisa, tetapi dalam banyak hal harus mendapatkan bimbingan sehingga tidak keluar dari arah yang seharusnya.
  6. waktu yang lama: bukan instant (langsung jadi dengan cepat). Perintah mencari ilmu dari ayunan sampai liang lahat.

Selain usaha di atas, do’a sangatlah penting:

والذين يقولون ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (Al-Furqan: 74)

هنالك دعا زكريا ربه قال رب هب لي من لدنك ذرية طيبة إنك سميع الدعاء

Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa (Ali Imran: 38)

وقال إني ذاهب إلى ربي سيهدين. رب هب لي من الصالحين

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh (Ash-shaffaat: 99-100).

رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاء

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku (Ibrahim: 40).

و الله أعلم بالصواب

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA