Saat Belajar Sendiri Tidaklah Cukup

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Para peneliti menggunakan model canggih untuk mengukur perilaku relawan, dan mereka meluncurkan strategi komputasi terpisah untuk pembelajaran langsung dan pembelajaran sosial.

Bukan suatu rahasia bahwa orang mendasari tindakan berdasarkan pengaruh sosial. Sebagai contoh misalnya, ketika sedang memilih makan siang di dalam sebuah perusahaan baru. Ketika tidak yakin hidangan mana yang akan terasa enak, kita akan melihat apa pilihan orang lain untuk mendapatkan panduan memilih menu kita sendiri. Fenomena tersebut, yang disebut pengaruh sosial, didemonstrasikan secara eksperimental mulai tahun 1950-an oleh psikolog sosial Solomon Asch.

Dalam sebuah studi baru, para peneliti dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf (UKE) di Jerman menempatkan lima sukarelawan dalam sebuah eksperimen pengambilan keputusan berbasis komputer, dimana masing-masing dari mereka diperlihatkan dua simbol abstrak.  Tujuan dari eksperimen ini adalah untuk mengetahui simbol mana yang akan menghasilkan lebih banyak imbalan uang dalam jangka panjang.

Di setiap putaran baru dalam eksperimen ini, setiap orang pertama-tama membuat pilihan di antara dua simbol, dan kemudian mereka mengamati simbol mana yang telah dipilih oleh empat orang lainnya. Kemudian, setiap orang akan dapat memutuskan apakah tetap menggunakan pilihan awal mereka atau beralih ke simbol lain.  Pada akhirnya, hasil moneter, baik yang menang atau kalah, disampaikan kepada setiap orang menurut keputusan kedua mereka. Peneliti mengatakan bahwa dengan cara ini, mereka memungkinkan suatu interaksi waktu nyata di antara para sukarelawan, yang sangat meningkatkan validitas ekologis.

Faktanya, dalam eksperimen ini simbol yang menandakan lebih banyak hasil selalu berubah. Pada awal eksperimen, salah satu dari dua simbol mengembalikan hadiah uang dalam waktu 70%, dan setelah beberapa putaran, simbol tersebut memberikan imbalan hanya dalam 30% waktu.  Perubahan ini terjadi beberapa kali selama percobaan berlangsung.

Jan Gläscher, yang memimpin kelompok penelitian untuk penilaian serta pengambilan keputusan sosial di UKE mengatakan bahwa paradigma pembelajaran reversal ini akan menimbulkan ketidakpastian bagi para relawan sehingga mereka selalu perlu belajar dan belajar kembali untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Secara khusus ketika pengembalian baru saja terjadi, beberapa orang dalam kelompok mungkin mengambilnya lebih cepat dari yang lain, dan jika demikian, pihak lain dapat menggabungkan informasi sosial ini ke dalam proses pengambilan keputusan mereka sendiri.

Penelitian memperkirakan para relawan tersebut akan sering berpindah atau menukar pilihan ketika mereka dihadapkan pada pilihan yang berlawanan dari yang lain. Namun hal yang menarik adalah pilihan kedua mereka (setelah mempertimbangkan informasi sosial) mencerminkan struktur hasil yang lebih baik daripada pilihan pertama. Bagaimana menjelaskan temuan ini? 

Para peneliti menggunakan model canggih untuk mengukur perilaku relawan, dan mereka meluncurkan strategi komputasi terpisah untuk pembelajaran langsung dan pembelajaran sosial.  Peneliti mengatakan bahwa pada awal setiap putaran, para sukarelawan menggabungkan pengalaman belajar langsung mereka sendiri dan pengalaman belajar sosial untuk memandu pilihan mereka. Sedangkan dalam pembelajaran langsung mereka mengikuti algoritma pembelajaran sederhana yang diperkuat, dan pembelajaran sosial dibuat dengan melacak sejarah penghargaan orang lain.

Dalam setiap kelompok, para peneliti memindai salah satu otak relawan menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional, yang memungkinkan mereka untuk mengukur kapan dan di mana otak melakukan pembelajaran langsung dan pembelajaran sosial, dan untuk mengkarakterisasi apakah kedua jenis pembelajaran tersebut benar-benar terkait dengan tanda saraf yang berbeda. Pemindaian otak tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran langsung direpresentasikan di area yang disebut korteks prefrontal ventromedial. Sedangkan pembelajaran sosial diwakili di area yang disebut korteks cingulate anterior. 

Kedua area ini juga berinteraksi dengan area di tengah otak yang disebut striatum, dimana menurut Gläscher merupakan bagian yang menghitung kesalahan prediksi hasil dan kesalahan prediksi sosial, yang menghitung segala bentuk pembelajaran trial-and-error untuk menginformasikan suatu perilaku. Hal ini menunjukkan bahwa jaringan otak terintegrasi yang mendukung pengaruh sosial dalam pengambilan keputusan manusia.

Temuan ini menunjukkan bahwa dua jenis sinyal pembelajaran yang unik dihitung di wilayah yang berbeda tetapi berinteraksi di otak manusia, dan mewakili strategi komputasi terpisah untuk pengambilan keputusan dalam konteks sosial. Gläscher mengatakan bahwa pembelajaran langsung efisien dalam situasi yang stabil, dan ketika situasi berubah serta tidak pasti, pembelajaran sosial mungkin memainkan peran penting bersamaan dengan pembelajaran langsung untuk beradaptasi dengan situasi baru, seperti menentukan menu makan siang di perusahaan.

Peneliti mengatakan bahwa terdapat banyak penelitian tentang pembelajaran langsung tetapi relatif sedikit tentang pembelajaran sosial dan bagaimana interaksi diantara keduanya. Lalu, apa selanjutnya?  Gläscher mengatakan bahwa area penting untuk penelitian lebih lanjut akan mengganggu bagian dari jaringan yang diidentifikasi menggunakan teknik stimulasi otak non-invasif, dan untuk menentukan bagaimana perilaku dan strategi komputasi diubah dalam pengambilan keputusan sosial. Dirinya menambah mengingat pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung. Tidak mungkin individu dan pemerintah belajar dari kesalahan sendirian, dan sebaliknya, masyarakat global dan kolektif diperlukan untuk mengatasi semua tantangan ini. (Disadur dari situs sciencedaily)

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti