29.6 C
Yogyakarta
16 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Saat Yang Tepat (Mungkin) Untuk Memperkuat Kesetiakawanan

Kesetiakawanan merupakan kata yang hampir sering keluar baik tertulis maupun lisan pada saat bulan Desember disetiap tahunnya, kata itu jadi tidak asing bagi orang khususnya yang berkecimpung di sosial. Apakah bagi yang di luar itu tidak asing dan penting? Mari kita cermati dulu pengertiannya.

Kesetiakawanan adalah perasaan seseorang yang bersumber dari rasa cinta kepada kehidupan bersama atau sesama teman sehingga diwujudkan dengan amal nyata berupa pengorbanan dan kesediaan menjaga, membela, membantu, maupun melindungi terhadap kehidupan bersama. Kesetiakawanan biasanya dikaitkan dengan kata sosial sehingga menjadai kesetiakawanan sosial. Kesetiakawanan sosial atau rasa solidaritas sosial adalah merupakan potensi spiritual, komitmen bersama sekaligus jati diri bangsa. Oleh karena itu kesetiakawanan sosial merupakan Nurani bangsa Indonesia yang teraplikasi dari sikap dan perilaku yang dilandasi oleh pengertian, kesadaran, keyakinan tanggung jawab dan partisipasi sosial sesuai dengan kemampuan dari masing-masing warga masyarakat dengan semangat kebersamaan, kerelaan untuk berkorban demi sesama, kegotongroyongan dalam kebersamaan dan kekeluargaan.

Kesetiakawanan sosial atau rasa solidaritas sosial adalah merupakan potensi spiritual, komitmen bersama sekaligus jati diri bangsa

Dari pengertian itu terlihat bahwa kesetiakawanan sosial terkandung juga kegotongroyongan. Kedua hal tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak lama, sejak jaman nenek moyang bangsa Indonesia, juga menjadi jiwa, semangat, prinsip kehidupan rakyat Indonesia. Namun apabila diamati secara cermat, perilaku tersebut sepertinya mulai ditinggalkan oleh beberapa masyarakat millenial, karena sudah mulai menunjukkan sifat keegoismenya, sifat ke-aku-annya, sifat keacuhannya, sifat kekurang pedulian bahkan sifat tidak peduli terutama pada lingkungannya.

Sejarah menjadi hal yang penting untuk tetap diingatkan, baik sejarah awal kita sendiri dari mulai ada didalam kandungan seorang ibu, dilahirkan, dibesarkan, dinikahkan, dan sebagainya maupun sejarah pada umumnya. Kondisi saat ini, perlulah kita sebagai orang dewasa bahkan tua untuk selalu mengenalkan dan menanamkan sifat-sifat kesetiakawanan dan gotongroyong pada anak-anak bahkan dimulai dari bayi, sehingga semakin tertanam sifat itu. Namun pengenalan dan penanaman sikap itu tidak mungkin  sendiri perlu dan harus adanya kerjasama dengan berbagai pihak. Terlebih saat ini, dimana bangsa Indonesia sedang menghadapi pandemi Covid-19 yang sampai berpengaruh ke segala sektor, bidang, yang juga berdampak adanya perekonomian yang semakin terpuruk, berkurangnya pendapatan, kehilangan pendapatan bahkan dengan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Saat ini dari data yang ada, secara nasional sudah berkisar 2,8 jutaan pekerja yang terkena PHK. Sedangkan Yogyakarta ada 1.488 orang ter-PHK, belum lagi yang masyarakat usaha kecil menengah pendapatan berkurang drastis. Contoh konkrit, pada masa sebelum adanya Covid-19, tempat-tempat foto copy sangatlah ramai sampai-sampai ngantri sehingga mencari tenaga tambahan, namun saat ini kita bisa melihat bagaimana penurunan drastis yang dialami si pemilik sehingga memulangkan pegawainya yang nota bene gajinya juga tidak begitu besar.

Pada awal terjadinya penyebaran/munculnya corona, bisa terlihat berbagai elemen, organisasi masyarakat umum, organisasi masyarakat berbasis agama, dsb menunjukkan kesetiakawanan sosial, kepedulian sosial dengan bergotong royong membagikan sembako, dana cash, dsb. Sampai-sampai ada satu keluarga mendapatkan  sembako dari beberapa kelompok. Bahkan pemerintahpun juga membagikan cq dinas terkait dengan berdasar data yang diminta dari tingkat RT juga lewat PKK walaupun kenyataannya setelah data masuk lewat kelurahan dan diteruskan ke dinas terkait, dari misal 60 orang yang diajukan (sesuaikan dengan indikator permintaan) yang mendapatkan mungkin hanya 1-3 orang. 

Hal ini banyak pihak yang merasa kecewa bahkan ada sekelompok yang mengatasnamakan lurah/kepala desa yang mengajukan protes kepada presiden karena ada yang tidak sesuai dengan data dari bawah. Kondisi keterpurukan ini sampai saat ini juga belum berakhir dan entah kapan berakhirnya, walaupun banyak pihak mencoba memprediksi akan berakhir bulan Juni bahkan ada yang bulan Juli, ada juga yang bulan Desember namun semua itu adalah hanya prediksi manusia.

Dengan melihat kondisi yang belum tentu ini perlulah kiranya terus menggiatkan rasa kesetiakawanan sosial, kepedulian sosial, kegotongroyongan dari masyarakat yang mampu, berlebih, golongan atas untuk terus peduli, memperhatikan masyarakat yang sangat berdampak dan membangkitkan semangat dengan berbagi apalagi bertepatan dengan bulan Ramadhan. Seperti bunyi hadist ini, Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah SAW, bersabda, “Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari kesusahan di dunia, pasti Allah akan membebaskannya dari kesusahan di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, pasti Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan di akhirat.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dan Imam Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat,

“Wahai Nabi, apa saja amal dalam Islam yang merupakan kebajikan?”

Nabi menjawab, “Kamu memberi makan, serta kamu menyampaikan salam kepada orang baik yang kamu kenal maupun yang tak kamu kenal,”.

Begitu juga ketika Abu Hurairah RA sedang bersama Nabi Muhammad, ia menanyakan amalan apa sajakah yang dapat menyebabkan seseorang dapat masuk surga. “Berilah makan kepada yang butuh, sampaikan salam, sambunglah persaudaraan, sembahyanglah pada malam hari ketika orang-orang masih tertidur. Maka kamu akan masuk surga dengan damai,”.

Seperti kita ketahui bahwa keutamaan sikap seorang muslim adalah ketika ia memiliki kepekaan dalam melakukan perbuatan baik bagi orang lain.

Kesempurnaan Islam adalah ketika perbuatan baik itu saling terjalin. Bukan dengan menggalakkan hal-hal yang sesaat seperti gagasan meniadakan yang tak sepaham, sekedar menerapkan syariat secara legal dan hitam putih dalam kehidupan, atau saling mencaci karena merasa paling mengerti dan memahami Islam. Justru, Islam yang terbaik adalah yang dibangun atas nilai-nilai kebaikan dan keberpihakan pada yang tak berdaya.

Untuk itu penulis mengajak, mari sama-sama bermuhasabah diri, merenungkan diri sambil bertanya pada diri sendiri khususnya saat ini, sudahkan kita berbuat lebih dari yang sudah kita lakukan saat awal munculnya Covid-19? Rencana apa yang akan kita lakukan untuk membantu orang-orang yang sangat membutuhan uluran kita?

Semoga tulisan ini dapat membantu mengingatkan kita semua sebagai seorang muslim.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA