14.8 C
Yogyakarta
23 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Saatnya Kita Bersama Secara Drastis Meningkatkan Kemampuan Menghadapi Wabah

Oleh: Syamsudin, S.Pd., MA

Tanggal 16 April 2020, otoritas resmi mengumumkan jumlah orang yang positif Covid-19 sebanyak 5516 orang. Adapun jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 165.549, dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) berjumlah 11.165 orang. Jumlah yang sembuh, untuk pertama kalinya, dikabarkan melampaui jumlah yang meninggal dunia.

Kita tahu, bahwa meskipun pengumuman merupakan peristiwa rutin setiap hari, namun hal yang disampaikan bukan merupakan peristiwa akademik, atau sejenisnya. Apa yang disampaikan merupakan perkembangan perjuangan kemanusiaan. Angka yang disebutkan bukan angka matematika, tetapi angka perjuangan hidup.

Oleh sebab itu, sesungguhnya tidak ada angka yang berjumlah sedikit atau angka yang berjumlah banyak. Bahkan satu orang pun yang disebut merupakan masalah nasional, karena menyangkut keselamatan warga bangsa. Pembukaan UUD 1945, secara jelas memberikan garis: … melindungi segenap bangsa Indonesia …. Melindungi segenap bangsa, tanpa terkecuali.

Perkembangan Wabah.

Jika 2 Maret 2020, dapat dianggap sebagai permulaan kejadian, maka pada hari itu, dikatakan ada 2 orang yang dinyatakan positif, dan keduanya berada di Jakarta. Tentu karena tidak orang lain selain dua orang yang dinyatakan positif, maka dapat dikatakan bahwa dua orang itulah yang menjadi sumber dari seluruh kejadian sampai hari ini.

Ada kemungkinan bahwa dua orang tersebut merupakan pihak yang bukan pemula pembawa Covid-19. Tentu semua kemungkinan bisa saja terjadi. Namun, secara formal, data yang ada dan dapat dipertanggungjawabkan, adalah dua orang dinyatakan positif pada 2 Maret 2020.

Otoritas resmi sebenarnya telah menutup kemungkinan adanya sumber lain yang tidak terdeteksi, karena dalam pengumuman telah dinyatakan bahwa dua orang yang positif, sebelumnya bertemu dengan orang Jepang yang ke Indonesia. Persisnya dikatakan: “Orang Jepang ke Indonesia bertemu siapa, ditelusuri dan ketemu. Ternyata orang yang terkena virus corona berhubungan dengan dua orang, ibu 64 tahun dan putrinya 31 tahun.” (Lihat Kompas.com)

Keterangan resm tersebut menegaskan: (1) sumber Covid-19 dari luar. Wabah bukan dari dalam negeri, melainkan merupakan penyakit yang datang dari luar; dan (2) dua orang yang menjadi korban penularan kasus dari luar negeri, merupakan dua orang pertama yang terkena Covid-19.

Penetapan titik berangkat ini sangat penting, karena dengan itulah, kita dapat menentukan, dimana posisi saat ini. Dengan titik berangkat tersebut, dapat dibayangkan bagaimana kecepatan dan skala penyebaran wabah. Dalam tempo 45 hari, telah mencapai angka 5.516, dan telah ada di seluruh wilayah di Indonesia.

Kini, bukan saja penyakit yang hadir, tetapi “kecemasan”, “ketidakpastian” dan berbagai dampak lain yang ditimbulkannya. Barangkali semula diduga bahwa penyakit ini akan hanya menjadi kejadian kesehatan. Tetapi rupanya tidak. Covid-19, nyatanya tidak sekedar penyakit, tetapi menjadi masalah yang berdimensi luas, karena mengguncang hampir ke seluruh sendi kehidupan.

Dari Biasa-biasa Menjadi Luar Biasa.

Daya guncang Covid-19, seharusnya menggugah kesadaran bersama, bahwa masalah ini tidak bisa dihadapi dengan cara konvensional. Jika selama ini, perhatian publik lebih kepada: (1) menjaga jarak fisik; (2) menjaga kesehatan diri dan membiasakan pola hidup sehat; dan (3) bagaimana menjalani kebiasaan baru selama di rumah saja; maka kini harus diubah, atau ditingkatkan secara drastis.

Masalah ini membutuhkan perhatian super serius. Sekedar untuk memberi contoh kerumitan masalah: apabila ada warga yang bertanya, apakah upaya pengendalian penyebaran wabah telah berhasil? Pertanyaan sederhana tersebut, sangat sulit dijawab. Oleh karena, pola penyebaran wabah belum sepenuhnya diketahui.

Harus diakui bahwa usaha untuk melakukan pengendalian penyebaran telah berjalan. Dari waktu ke waktu terus meningkat, kapasitas dan skala pengurusan. Tentu hal ini merupakan capaian yang harus di apresiasi. Namun, karena persoalan jauh dari selesai, maka selalu ada kebutuhan meningkatkan usaha yang telah dilakukan.

Untuk itulah, diperlukan langkah baru. Yakni langkah meningkatkan apa yang sudah berjalan, dengan kesadaran penuh bahwa hanya dengan membuat langkah drastis, masalah akan dapat diselesaikan. Apa yang dimaksudkan dengan langkah drastis? Pertama, dari yang bersifat defensif menjadi ofensif. Kedua, dari terpusat menjadi tersebar, dengan pelibatan seluas mungkin elemen masyarakat.

Apa yang dimaksudkan dengan langkah drastis? Pertama, dari yang bersifat defensif menjadi ofensif. Kedua, dari terpusat menjadi tersebar, dengan pelibatan seluas mungkin elemen masyarakat.

Ambil contoh. Bagaimana cara akan dapat secara drastis memperlambat penyebaran wabah atau bahkan menghentikannya. Pertama, pertanyaan ini seharusnya sudah bukan lagi pertanyaan otoritas resmi. Tetapi sudah harus menjadi pertanyaan setiap warga. Ibarat pemilu, dimana setiap warga yang sudah dinyatakan berhak (berKTP), dapat mengikuti pemilu. Maka dalam kasus ini, pertanyaan di atas, harus menjadi pertanyaan setiap warga ber-KTP.

Kedua, langkah yang dilakukan tidak hanya bersifat vertikal, tetapi juga horisontal. Artinya, langkah mengatasi penyebaran wabah bersifat horizontal. Jika setiap warga dan setiap rumah tangga ikut berpikir dan bertindak, maka pasti langkah yang akan timbul merupakan langkah yang bersifat horisontal, atau menyebar.

Langkah ini tidak perlu dikontraskan dengan langkah yang bersifat vertikal. Harus dengan tegas dikatakan bahwa langkah yang dibuat merupakan upaya memperkuat langkah yang ada. Dengan demikian langkah menyebar merupakan bagian dari upaya menguatkan atau merupakan bagian dari langkah yang telah berjalan.

Dengan dua pendekatan tersebut, maka:

(1) setiap warga akan dengan terbuka menjadi bagian dari proses. Setiap orang yang pernah bersentuhan dengan mereka yang telah dinyatakan positif Covid-19. Atau setiap orang yang pernah datang dari daerah yang dinyatakan zona merah, akan secara terbuka menyatakan riwayat perjalanannya, sehingga memudahkan deteksi penyebaran.

(2) langkah pertama (1) tersebut, sesungguhnya harus dilambari dengan kesadaran penuh seluruh warga. Kesadaran yang didasarkan pada pengetahuan tentang wabah dan karakternya. Hal ini penting, agar jangan sampai, keterbukaan warga, menimbulkan masalah pada dirinya.

(3) seluruh elemen kesehatan dengan dukungan warga, harus memastikan bahwa mereka yang dinyatakan positif, terutama kelompok dengan resiko tinggi, akan ditangani secara baik. Hal ini berarti, penanganan korban, tidak bersifat eksklusif kesehatan (medis), tetapi juga mendapatkan backup sosial.

(4) tidak hanya layanan kesehatan yang mendapatkan backup publik, akan tetapi juga kebutuhan hidup bagi mereka yang terpaksa harus dikarantina. Dalam masalah ini, pokok soal bukan sekedar bahan kebutuhan sehari-hari, akan tetapi juga penerimaan publik. Tidak boleh ada stigma apapun pada korban.

(5) setiap komunitas, terutama yang paling bawah, yakni di tingkat RT/RW sudah harus punya peta sebaran di lingkungan, dan telah punya informasi yang dibutuhkan tentang kondisi komunitasnya. Dengan demikian, mobilitas warga benar-benar dapat dikendalikan. Yaitu pengendalian mobilitas warga oleh warga dan untuk kepentingan warga.

Ayo Membuat Langkah Bersama.

Apa yang sebaiknya segera dilakukan adalah melakukan pengerahan seluruh kekuatan warga, dimana setiap elemen dapat bertindak sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Pertama, bagi pemerintah. Harapan publik, agar apa yang kini telah dilakukan, hendaknya dapat ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya, terutama dalam: (1) memperkuat dan memperluas kapasitas layanan kesehatan; (2) menjaga pemenuhan kebutuhan pokok warga dan menjamin keamanan rantai pasokan pangan; (3) meningkatkan kapasitas daya dukung komunikasi. Karena dengan tetap di rumah, publik membutuhkan pola baru komunikasi. Di atas itu, amat dibutuhkan percepatan penyelenggaraan riset untuk segera menemukan vaksin yang dapat mengatasi Covid-19. Sangat disarankan menggalang kolaborasi dengan bangsa-bangsa lain.

Apa yang sebaiknya segera dilakukan adalah melakukan pengerahan seluruh kekuatan warga, dimana setiap elemen dapat bertindak sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Kedua, bagi individu dan masyarakat. Bagi individu sangat jelas apa yang harus dilakukan. Yakni: (1) tetap dirumah; (2) jaga jarak, seandainya ada di ruang publik; (3) rajin cuci tangan dengan sabun dan menjaga kebersihan lingkungan; dan (4) menjaga pola hidup sehat.

Bagi masyarakat, yang harus dilakukan, sebagian telah disebutkan di atas. Apa yang perlu ditambahkan adalah (1) menjadi bagian yang memperkuat keharusan individu; (2) menjaga ruang publik di lingkungan masing-masing, agar tidak menjadi media penyebaran wabah; (3) dengan kesadaran bersama ikut mengendalikan mobilitas individu. Namun hal ini memang harus dilakukan dengan sangat hati-hati, agar tidak menimbulkan masalah baru; (4) dengan kesadaran warga, masyarakat ikut mengontrol untuk memastikan bahwa layanan dan bantuan direncanakan dijalankan dengan baik dan tepat sasaran; (5) mengadakan pendidikan tentang wabah, tentu suatu pendidikan dari warga untuk warga; dan (6) masyarakat harus meningkatkan kemampuan untuk ikut memberikan perlindungan pada kelompok yang rentan, membantu pemerintah dan tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan ODP dan PDP, dan atau melacak klaster-klaster penyebaran.

Ketiga, sektor swasta atau dunia usaha. Tentu diharapkan dukungan untuk menjaga sejauh mungkin agar jangan ada PHK. Tentu sangat berat. Masalah ini memang harus menjadi concern bersama. Suatu dialog Nasional dibutuhkan. Agar dunia dapat memberikan sumbangan yang penting. Di luar itu, tentu saja bantuan untuk mendukung program pembatasan sosial, ikut menjaga keamanan pasokan pangan dan berbagai kebutuhan lainnya. Perusahaan yang bergerak di lapangan medis diharapkan menjadi kekuatan utama yang ikut mendukung penguatan kapasitas layanan kesehatan.

Penulis: Dosen Administrasi Negara, FISIPOL, UP45 dan Direktur Pelaksana Yayasan Abdurrahman Baswedan

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA