Saatnya Warga Bergerak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Indonesia sadar masker, artinya setiap warga ambil bagian dalam upaya bersama menghentikan langkah Covid-19. Karena, dengan kesadaran itu, artinya kita sadar akan bahaya Covid-19.

Setiap kita, lakukan sesuatu, sekarang.

Korban Covid-19 telah jatuh. Dalam jumlah yang tidak sedikit. Apakah kita masih membutuhkan lebih banyak korban untuk menyadari bahwa bahaya nyata telah ada di sekeliling kita? Apakah kita membutuhkan kejadian yang luar biasa, agar tergerak untuk melakukan tindakan yang benar?

Tiga Langkah.

Kita boleh berharap pada para pembelajar sejarah untuk berbagi pengalaman menghadapi wabah pada periode yang lampau. Masa lalu adalah tempat belajar yang terbaik. Tentu kejadian tidak persis sama.

Apa yang sebaiknya dipelajari? Laz imnya kita belajar cara suksesnya. Tapi sebenarnya kita perlu kegagalannya. Jika kita tahu kegagalan, sama artinya kita tahu cara untuk mencapai kegagalan. Pengetahuan tersebut sangat berguna. Oleh sebab, dengan pengetahuan tersebut, peluang untuk gagal menjadi lebih kecil, kecuali memang kita memilih untuk gagal.

Berdasarkan banyak kegagalan, dapat dikatakan ada tiga penyebab umumnya, yakni: (1) tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu; (2) tidak bertindak, atau menolak bertindak; dan (3) tidak segera, atau menunda-nunda.

Atas dasar tiga hal tersebut, maka langkah yang layak dikembangkan adalah: Pertama, edukasi, ke dalam dan keluar. Mengedukasi diri sendiri dan orang sekitar. Kedua, lakukan sesuatu atas dasar pengetahuan yang benar, dan jika mungkin ajak yang lain. Ketiga, langsung dikerjakan, dan melawan segala jenis penundaan.

Kepedulian.

Ada pula penyakit yang tidak jelas darimana sumbernya, yakni: kebutuhan akan teladan. Dalam setiap kejadian, selalu saja ada yang mengatakan, bahwa masyarakat butuh teladan. Apakah mengatasi wabah perlu teladan?

Wabah tidak membutuhkan keteladanan. Karena setiap orang punya potensi tertular, tidak terkecuali. Dan, wabah bergerak sangat cepat. Makin lambat kita bergerak, makin banyak korban jatuh.

Oleh sebab itu, yang dibutuhkan adalah menengok pada para korban. Bela rasa dan peduli kita pada korban, adalah cara terbaik untuk belajar dan menyadarkan diri kita. Kepedulian dibutuhkan, karena dengan itu kita peduli pada diri kita, dan karena kita peduli pada diri kita, maka orang lain yang terkena dampaknya.

Dalam wabah peduli kepada diri sendiri, yakni menjaga diri agar tidak tertular, sama dengan menjaga orang lain dari penularan. Kepedulian yang mewabah, akan membawa kita pada kebiasaan baru. Artinya, jika kita pakai masker tidak ada yang mengejek, dan kalau kita tidak pakai masker akan ada yang mengingatkan, dan kita tidak marah karena diingatkan.

Indonesia Sadar Masker.

Kita mulai dari hal yang paling sederhana dan yang justru paling sulit, yakni pakai masker. Kita sebut sulit, karena nyatanya belum semua orang menyadari bahwa masker merupakan cara mudah untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Bahkan masker adalah cara paling sederhana dimana setiap orang bisa menjadi bagian dari usaha bersama menghentikan langkah Covid-19.

Pakai masker bisa karena dua sebab. Yang pertama, karena rasa takut sanksi atau tidak enak (sungkan). Atau pakai masker, karena sebab dari luar. Dan yang kedua, karena sadar, atau tidak ingin tertular dan tidak ingin menularkan. Paling baik adalah memakai masker karena sadar.

Kuncinya adalah sadar. Yakni sadar bahwa ini adalah masalah setiap orang dan sekaligus masalah bersama. Jika individu tidak sadar, maka lingkungan akan terkena dampaknya. Jika lingkungan tidak sadar, maka tentu lingkungan yang lebih besar akan terkena dampaknya.

Indonesia sadar masker, artinya setiap warga ambil bagian dalam upaya bersama menghentikan langkah Covid-19. Karena, dengan kesadaran itu, artinya kita sadar akan bahaya Covid-19. Dan dengan demikian, setiap kita akan menjalankan protokol kesehatan Covid-19 secara sukarela.

Pemetaan warga.

Jika kesadaran telah ada di tengah masyarakat dan hidup, maka akan mudah melakukan pemetaan. Kita perlu peta, siapa yang tertular dan pergerakan orang dengan Covid-19. Hal ini penting, karena pengetahuan tersebut akan membantu kita untuk mengisolasi orang dengan Covid-19, sehingga tidak menularkan pada yang lain, dan pada waktu yang sama menolongnya agar dapat mengatasi penyakit sampai sembuh.

Data orang dengan Covid-19 dengan begitu bukan info rahasia, sebaliknya merupakan informasi yang harus diketahui publik. Kesadaran dan kedewasaan publik, akan membuat informasi menjadi kekuatan utama mempercepat pengendalian. Namun tentu, informasi harus benar dan akurat.

Memang tidak mudah. Karena itu, edukasi, edukasi dan edukasi adalah kuncinya. Edukasi sekali lagi, bersifat ke dalam, yakni terus mengedukasi diri sendiri, agar makin mengerti tentang hal benar yang harus dilakukan, dan bersifat ke luar, yakni mengedukasi orang di sekeliling kita. Pengetahuan itulah yang dibutuhkan agar publik di tempat masing-masing mampu membuat peta Covid-19. Tapi sekali lagi, peta bukan untuk mendiskriminasi atau bertindak yang salah pada korban, tapi sebaliknya, penuh peduli, empati dan menolong.

Pemetaan warga yang dibarengi oleh meningkatnya kinerja pelayanan kesehatan, tentu akan menghasilkan karya yang sangat mulia, yakni keselamatan warga dan pulihnya keadaan, tentu pulih dengan kebiasaan baru. Setiap kita, lakukan sesuatu, sekarang. (red)

Redaksi

Redaksi

Terbaru

Ikuti