Ditulis oleh 8:27 am COVID-19

Sabar Menghadapi Covid-19

Kita harus menerima musibah ini dengan sabar, tentu setelah berikhtiar, belajar banyak dari keadaan dan peristiwa yang terjadi.

Oleh: Heriyanti, S.Pd., M.M

Dunia ini memang menjadi medan ujian bagi setiap insan, tidak ada satupun manusia yang hidup terbebas dari masalah, ujian dan cobaan. Kesuksesan dan kegagalan dalam menjalani setiap ujian pada setiap orang, bahkan setiap bangsa, memiliki derajat yang berbeda-beda, itu semua ditentukan oleh kesiapan diri dalam menghadapinya.

Saat ini Allah SWT tengah menguji umatnya, seperti yang telah tersirat pada firman-Nya: “Sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Karena itu bergembiralah orang-orang yang bersabar” (terjemah Qur’an surat Al Baqarah ayat 155). Kata kuncinya adalah sabar. Kita semua harus menerima semua musibah ini dengan sabar, tentu saja setelah berikhtiar, belajar banyak dari keadaan, peristiwa yang terjadi.

Mendengar pertama kali tentang Covid-19 dari televisi ketika Wuhan terserang wabah Covid-19, kemudian diberlakukan lockdown karena banyaknya yang terjangkit wabah.

Berita yang semakin tegang, share video tentang wabah Virus corona sangat miris, caci maki terjadi sana-sini, pendapat ahli dan analisis pakar semakin liar, suasana semakin mencekam.

Adanya upaya pemerintah Indonesia untuk dapat memulangkan warga Indonesia (sebagian besar adalah mahasiswa) yang saat itu berada di China. Terbayang kota Wuhan, Beijing, yang tahun lalu aku berkunjung ke China, bagaimana sekarang nasibnya?

Beberapa hari kemudian ada pengumuman jika mahasiswa dan para pekerja WNI yang ada di Luar Negeri akan segera pulang! Sebelum akhir maret, terbayang dua putriku yang masih lanjut Studi S2 di Swedia dan putri yang nomer dua studi di Thailand, sebagai orang tua tentu merasa cemas, kemudian kami bertanya “Nak bisakah kalian pulang ke Yogyakarta?”  Kedua anakku menjawab melalu aplikasi Zoom, Video call, kita selalu ketemu di dunia maya “Maaf ibu, tugas kuliah walau Online, juga masih ada lab, jadi tidak bisa pulang, inshaAlloh bisa jaga diri” di sini aku mulai lagi harus sabar.

Mestinya Indonesia berjaga dan belajar dari China dan Negara lain yang terjangkit wabah lebih dulu. Akhirnya . . .

Seperti mimpi rasanya karena hanya dalam hitungan hari, waktu yang tidak terlalu lama, wabah itu menyebar ke penjuru dunia termasuk negeri tercinta Indonesia.

WHO menetapkan Covid-19 sebagai pandemi karena telah mewabah sebagian besar negara di dunia.

Dampak dari merebaknya Covid-19 sangat dirasakan bangsa Indonesia, melemahnya kondisi di berbagai sektor. Secara ekonomi, banyak perusahaan yang mem-PHK karyawannya karena tidak beroperasi lagi, sehingga banyak orang yang kehilangan mata pencaharian. Belum lagi pelaku bisnis, pedagang kecil dan industri tersier yang tidak dapat bertahan karena tidak ada pembeli.

Lebih menyedihkan di sektor kesehatan, tidak ada edukasi sebelumnya di masyarakat tentang wabah ini, mereka hanya membaca info melalui mass media yang kadang tercampur dengan berita HOAX. Sebagai warga masyarakat saya merasa terdampak dengan berita hoax bermula pada tanggal 14 Maret 2020 malam hari, penyakit Asmaku kambuh gejala sesek dan flu muncul, tak bisa di obati sendiri. Senin 16 Maret 2020 saya berobat di Klinik Pratama PMI, dokter memeriksa hanya sesek dan flu, suhu normal 36,5 C. Lalu, karena saya habis pulang dari luar Negeri pada bulan Februari walaupun hitungan sudah satu bulan, saya di sarankan istirahat karantina di rumah 14 hari. Menurut saya tidak ada yang salah orang sakit tentu harus istirahat toh dokter tidak mengatakan apapun tentang ODP, PDP ataupun suspect. Keesokan harinya tersebar berita Hoax saya di jemput/di bawa Ambulance ke RS Sarjito, tentu saja berita ini viral dan menjadi sangat menyakitkan, satu minggu orang yang mengenal saya dari Dinas Pendidikan, Yayasan Muhammadiya Kota Yogyakarta menelpon langsung bahkan ada yang meminta video call untuk memastikan saya SEHAT. Tentu tidak mudah menghadapi berita hoax, ghibah dari para tetangga, jika hilang  kesabaranku  rasanya meradang, beruntung saya berada pada keluarga yang beriman.

Membayangkan keluarga medis tentu memiliki nilai sabar yang sangat tinggi berita gugurnya beberapa tenaga medis berpulang ke rahmatulloh saat bertugas di garda depan, sangat menyedihkan karena kurangnya alat kesehatan dan banyaknya pasien yang sakit Suspect Corona sehingga banyak tenaga medis terinfeksi Virus.

Sebagai pelaku pendidik, fokus mengamati kebijakan yang di berlakukan di sektor pendidikan, pembelajaran  dilaksanakan dengan sistem dalam jaringan (daring). Hal ini sudah berjalan lebih dari satu bulan, anggap musibah ini suatu hikmah dan merupakan diklat teknologi dan bisa instropeksi bagi guru, bagi sekolah yang kurang kreatif dalan penggunaan teknologi apalagi bagi sekolah yang sama sekali belum pernah menggunakan Android tentu merasa gelagepan, beruntung di SMP Muh 3 Yogyakarta sudah tiga tahun berjalan pembelajaran dengan Android dengan aplikasi geschool, google form, email, Zoom, dll.

Mulai muncul beberapa kendala, cuitan dari orang tua, siswa dan guru, apalagi siswa dari golongan kurang mampu, sudah mulai merasa terbebani oleh pembelian kuota internet.

Sebagai Kepala sekolah harus memiliki strategi, dan sabar dalam  mengatur semua kegiatan dengan keterbatasan. Pembelajaran daring, ujian sekolah daring, PPDB juga online, Penilaian Akhir Tahun masih dengan daring, dan rapat-rapat terkadang juga via media online.

Kepala sekolah menyapa dilakukan melalui video youtube, rekam suara dan surat edaran, salam sapa dan kegiatan sekolah harus tersampaikan agar tetap ada kerjasama antar sekolah dan orang tua, dengan bijaksana sekolah mengingatkan kewajiban orang tua untuk menyelesaikan pembayaran uang sekolah karena gaji guru dan karyawan di sekolah swasta harus tersampaikan. Kondisi keuangan sekolahpun terdampak yang membayar baik melalui transfer setiap bulan baru 30% tentu menjadi kerja ekstra mengelola uang yang ada, sementara akan adakah THR dan Gaji 13 bagi guru swasta?

Budaya berbagi kepada yang membutuhkan, terutama untuk siswa, saudara-saudara kita yang terdampak wabah Covid-19, membantu pengadaan APD dan multi vitamin untuk tim medis, pembagian masker untuk masyarakat, tetap sekolah lakukan dengan mengumpulkan partisipasi dari para donatur atau perorangan guru yang mampu, guna membantu kelancaran upaya memutus penyebaran virus corona.

Konsep diri

Beberapa cara pandang untuk membangun ketenangan jiwa memiliki kesabaran dalam menghadapi setiap ujian:

  • Pahami setiap beban hidup telah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing
  • Fokus dan temukan hikmah dibalik ujian
  • Berprasangka baiklah kepada Allah SWT
  • Apapun ujian, itulah yang terbaik menurut Allah SWT
  • Terimalah setiap persoalan, cobaan, ujian dengan lapang dada dan sabar

Semoga segera berlalu agar kita dapat melaksanakan Ibadah Ramadhan 1441 H dengan aman.

Penulis adalah Kepala SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Jalan Kapten Piere Tendean No. 19 Yogyakarta


“Sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Karena itu bergembiralah orang-orang yang bersabar” (Surat Al Baqarah ayat 155)


(Visited 601 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 24 April 2020
Close