Ditulis oleh 3:25 pm KALAM

Sahabat Kecil

“Sahabat adalah ia yang mau membangunkanmu meskipun kau sedang bermimpi indah.”

Baru saja berakhir hujan di sore itu
Menyisakan keajaiban, kilauan indahnya pelangi
Tak pernah terlewatkan, dan tetap mengagumimu
Kesempatan seperti ini, tak akan bisa dibeli
Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya
Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan
Tak ‘kan menyerah untuk hadapi, hingga sedih tak mau datang lagi

Sore ini hujan yang cukup deras disertai angin mengguyur tanah kelahiranku, Kota Bersenyum, Kota Tembakau (Temanggung). Kotaku ini terkenal dengan tembakaunya, juga dikenal sebagai kota yang intensitas hujannya cukup tinggi. Bersama hujan aku duduk menghadap laptop ditemani lagu Sahabat Kecil yang dinyanyikan langsung oleh sang pencipta lagu, Ipang. Kali ini aku tidak sedang mengerjakan proyek penting maupun tugas sekolah sebagai guru dan tugas kuliah, melainkan  membuka kembali kenangan bersama malaikat kecilku.

Satu persatu kupandangi wajah manis yang hampir dua pekan tidak kutemui, bukan karena malas bertemu namun karena kondisi yang sedang tidak memungkinkan untuk bertemu. Kehadiran covid-19 membuaku harus berjauhan dengan para malaikat kecilku. Aku mengajar sebagai guru di RA Nurul Dzikri, sebuah taman bermain yang terletak di pinggiran kota Yogyakarta, tepatnya di kabupaten Sleman. Hari-hariku sebagai mahasiswa tingkat akhir, aku jalani juga dengan berikhtiar membantu mencerdaskan kehidupan bangsa, tentunya dengan mengajar di sekolah ini. Ah, terlalu berlebihan jika untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, aku hanya sedang belajar bersama malaikat kecilku di sekolah ini.

Kondisi saat ini sedang tidak memungkinkan untuk para guru mengajar di kelas dan bertatap muka secara langsung dengan peserta didik. Demi kebaikan bersama, mau-tidak mau sebagai guru aku mengikuti instruksi pemerintah untuk bekerja mengajar dari rumah. Aku yang hanya di rumah saja tetiba teringat akan keceriaan para malaikat kecilku, lagu Sahabat Kecil karya Ipang berhasil membuatku baper (bawa perasaan) dan menyudutkan rasa rinduku pada malaikat kecilku.

Malaikat kecilku, sering juga aku menganggap mereka sebagai sahabat kecilku, mengapa bukan guru kecil? Karena aku lebih suka bersahabat dengan mereka, bagiku sahabat adalah orang yang dapat memberi pelajaran yang tidak akan pernah kita dapatkan dari sekolah manapun. Bersahabat dengan para malaikat kecil adalah hal yang sangat menyenangkan sekaligus menyebalkan. Namun lebih banyak hal yang menyenangkan yang aku dapatkan dari mereka.

Awal mula mengajar di RA aku hanya membayangkan bahwa anak kecil itu menyebalkan, anak kecil itu susah diatur, anak kecil itu cengeng, ribet, jorok, pemarah, usil, jail, suka merepotkan dan stigma negatif lainnya yang muncul begitu saja setelah aku mengirimkan berkas lamaran sebagai guru. Hari pertama mengajar bagiku terasa aneh, aku harus belajar mengkondisikan anak-anak untuk berbaris di halaman sekolah sembari menyanyikan lagu anak-anak dan melakukan gerakan motorik kasar.

Cukup melelahkan memang, mengarahkan anak-anak untuk sekedar berbaris dan bernyanyi, pasalnya mereka bukan merupakan satu tubuh yang saling berkoordinasi melainkan berbagai individu yang memiliki karakter dan sikap yang berbeda, juga berbagai kebiasaan dan keunikan yang dimiliki masing-masing anak. Hari pertama boleh dibilang aku belum berhasil menjadi sahabat bagi mereka. Berganti hari aku mencoba masuk ke dunia mereka, sebenarnya apa yang mereka sukai, apa yang mereka harapkan dari sekolah dan apa yang mereka lakukan selama di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.  

Penelusuran itu dimulai, aku mencoba mencari tahu tentang para malaikat kecilku, dimulai dari nama yang aku pelajari lewat buku absen siswa. Dari sini aku tertarik pada salah satu nama, Kanaya Nadhifa Salsabila, hmm nama yang indah, batinku. Nama yang begitu indah ketika aku membacanya, membuatku membayangkan akan kebaikan rupa dan akhlak dari sang pemilik nama. Aku sedikit iseng untuk mencari tahu arti nama itu. Kutemukan arti yang begitu luar biasa, Kanaya artinya jalan hidup yang tentram, merdeka, bahagia, sempurna. Nadhifa berarti bersih dan suci. Salsabila artinya mata air surga. Jika digabungkan maka bisa menjadi suatu harapan atau bagian doa dari orang tua agar anaknya menjadi orang yang dalam kehidupannya penuh ketentraman, kebahagiaan, kesempurnaan dan dalam kemerdekaan baik kehidupan dunia maupun akhirat.

“Kanaya” panggil salah seorang teman kecil. Dia menoleh lalu menghampiri sang teman yang memanggilnya. Oh, jadi  itu yang bernama Kanaya, sesuai dengan namanya, batinku. Cantik dan terlihat menentramkan. Kini saatnya aku mulai mengamati kebiasaan dan sikapnya,  pasti tidak akan jauh dari keindahan nama yang dimilikinya. Dia begitu ceria dan terlihat nyaman bersama teman-temannya. Mataku tak berhenti mengintai setiap gerak geriknya di sekolah, sampai akhirnya bel masuk kelas berbunyi. Dia memasuki kelas di sentra bahan alam. Ya tentu saja kelas yang aku pegang, RA kelompok B.

Kanaya selalu datang di awal waktu, bersama adiknya bernama Fatih yang juga bersekolah di RA Nurul Dzikri. Mereka terlihat sangat akur, Kanaya begitu menyayangi dan mengayomi adiknya. Tibalah waktu pembelajaran dimulai, seperti biasa kegiatan dimulai dengan kegiatan motorik kasar di halaman sekolah. Setelah selesai kegiatan motorik kasar, kami memasuki ruang kelas yang telah disetting dengan model sentra. Sebelum melakukan kegiatan bermain dan belajar, kami membiasakan untuk membaca doa dan hafalan surat pendek, doa dan hadist. Ini kesempatan keduaku untuk mengamati para malaikat kecilku, terutama sang pemilik nama Kanaya itu. MasyaAllah aku dibuat kagum dengan hafalan yang dimiliki seorang Kanaya, hafalan surat Al-Balad, surat yang cukup panjang untuk ukuran anak usia dini. Namun ia bisa menghafalnya dengan cepat, dan melekat. Wah hebat Kanaya, tentu saja aku memberi reward padanya berupa bintang yang dituliskan pada papan kecil.

Hari berganti, akupun semakin paham dengan masing-masing karakter malaikat kecilku. Semua memiliki keunikan masing-masing. Kanaya, tetap menjadi seorang yang cukup menonjol di berbagai bidang, dia menjadi anak yang cerdas dalam menghafal, juga cerdas dalam bersosial dan kreatif berkarya, serta memiliki sikap yang rajin dan tekun, selalu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Kini pembelajaran sedang dilakukan di rumah secara online, aku berfikir akan ada yang berbeda dari kebiasaan anak-anak di sekolah. Mereka yang belajar di rumah mungkin akan lebih nurut dengan orang tua atau bahkan malah sulit untuk berdamai dengan orang tua.

Selama belajar di rumah, Kanaya selalu mengirimkan tugas yang diberikan guru dengan sempurna, tuntas dan yang pasti dia masih tekun seperti ketika mengerjakan kegiatan di sekolah. Salut, kata yang tepat untuk memujinya. Ternyata dia tak hanya rajin dan tekun di sekolah saja, dia juga memiliki kebiasaan yang sama ketika di rumah. Kebanyakan anak-anak akan berbeda ketika berada di rumah dan di sekolah. Kanaya juga mandiri, mengerjakan tugas sendiri, hanya hal-hal tertentu saja yang perlu didampingi orang tuanya.

Terlihat dari video yang dikirimkan oleh ibundanya, Kanaya sedang menghafal Surah Al-Fajr,  dan dia begitu lancar melafalkannya, pun dengan hafalan doa dan hadist. Orang tuanya sangat mendukung kegiatan belajar Kanaya. Setiap tugas dari guru tak pernah ada yang terlewat. Kanaya sangat terlihat berbakat dan dapat menguasai lingkungan, di sekolah dia sering menjadi mentor untuk teman sebayanya, mendampingi temannya membaca dan menulis tanpa komando dari guru, ini salah satu hal yang aku suka darinya, bukan menggurui namun membelajarkan dengan lembut pada temannya.

Waktu terus bergulir kini aku mulai terbiasa dengan para malaikat kecil itu, bahkan mereka sering bercerita padaku, meminta bantuan untuk sekedar membukakan bungkus jajan, atau membacakan buku cerita untuk mereka, dan mereka mulai nyaman menjadi sahabatku, bercengkerama denganku, kadang menjahiliku. Suatu hari pernah ketika aku sedang duduk di halaman sekolah untuk mengawasi para malaikat kecil yang tengah bermain sewaktu istirahat, datanglah Kanaya dan beberapa teman perempuannya, seakan menghampiriku, namun ternyata mereka hanya berlalu, tak kusangka mereka tiba-tiba mengagetiku dari belakang dan langsung memelukku, ah betapa senangnya memiliki sahabat kecil seperti mereka, satu hal yang berkesan ketika mereka bilang “Bu Yumna gak cantik.” Sembari menjulurkan lidah mereka, namun setelahnya mereka bilang aku cantik dan seperti biasa langsung memelukku.

Seringkali tingkah mereka juga konyol, Kanaya membisikkan sesuatu pada temannya, dan Sarah yang berada di sebelahnya langsung menangis tanpa sebab, lalu melapor bahwa Kanaya membisikkan pada Sienna kalo Sienna tidak boleh bermain dengan Sarah. Hal yang sama pernah terjadi pada Thalita, yang tiba-tiba menangis karena ada yang berbisik-bisik. Mereka sangat lucu dan polos, kadang tak mengerti sebabnya apa tiba-tiba saja menangis dan tak lama langsung saling bersalaman, saling memaafkan kemudian bermain bersama lagi. Begitulah dunia anak-anak.

Ternyata mereka tidak seperti yang aku bayangkan dulu, mereka sahabat kecil yang penuh keceriaan, mereka membawa kebahagiaan hidup, semua beban tugas dan kewajiban seolah menjadi tak ada ketika berada di sekeliling mereka, mereka sahabat kecil yang menjadi sumber aku belajar, belajar bagaimana menjadi seorang yang sabar, belajar menjadi seorang yang pemaaf, dan belajar menjadi bijak ketika dalam kondisi tertentu. Kanaya, aku menilainya sebagai seorang sahabat kecil yang cukup bijak dan toleransi terhadap teman-teman dan juga pemaaf. Sebagai seorang anak, dia bisa menempatkan diri dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan.

Sahabat kecilku, aku belajar banyak darimu, kadang aku sendiri tidak begitu menghargai waktu, darimu aku belajar bagaimana harus tetap menyelesaikan tugas meski dibatasi waktu, aku belajar menjadi kakak sepertimu yang dapat merangkul teman-temanmu, belajar menjadi ibu yang membimbing anak-anak dengan kelembutan, belajar tentang kejujuran meski itu kadang pahit, di tengah pandemi semakin menambah rinduku pada sahabat kecilku, seperti lirik lagu Sahabat Kecil karya Ipang yang tengah menemani soreku.

Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan
Tak ‘kan menyerah untuk hadapi, hingga sedih tak mau datang lagi

Meski belajar dari rumah aku tetap bisa belajar darimu para sahabat kecilku, terkhusus Kanaya. Setiap detik aku berusaha untuk memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik, bagiku belajar tidak memandang usia, tidak memandang waktu, tidak memandang pada siapa kita harus menimba ilmu, menjadi pembelajar yang membelajarkan, menjadi sahabat kalian adalah keindahan tersendiri. Terimakasih untuk sahabat kecilku, kau telah membangunkanku dari mimpi yang begitu indah yang kadang melenakan, kini aku kembali terbangun, tentang waktu, aku harus sepertimu, berusaha memberikan yang terbaik untuk orang lain, berkarya sesuai kemampuan dan tekun menikmati setiap proses.

Sahabat adalah ia yang mau membangunkanmu meskipun kau sedang bermimpi indah.”

Begitulah sejatinya dirimu, meski tak secara langsung diajar olehmu, aku diam-diam mengambil hikmah dari pertemuan denganmu. Bangkit adalah kata yang sedang aku tekuni untuk kembali melanjutkan perjalananku. Selamat belajar dan membelajarkan wahai sahabat kecilku. Sekali lagi terimakasih, kau ibarat pelangi sehabis hujan, kau memberikan keindahan di setiap hari-hariku. Anak-anak bukanlah makhluk yang menyebalkan, ia adalah sahabat, guru dan teladan bagi kita yang mau mengerti. Sahabat kecil RA Nurul Dzikri.

(Visited 49 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 19 Mei 2020
Close