Ditulis oleh 8:35 am SAINS

Sains dan Kemerdekaan Bangsa

Pengalaman selama menghadapi Pandemi Global, telah memberikan pelajaran yang sangat berharga, terutama dalam kaitannya dengan tempat sains dalam mengatasi masalah-masalah yang dialami warga.

17 Agustus 2020, merupakan peringatan 75 tahun Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

P R O K L A M A S I

Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia,

Soekarno/Hatta.

Siapa warga bangsa yang tidak bergetar jiwa bangsa-nya, tatkala membaca dengan hati-hati, sembari membayangkan apa yang berlangsung pada tanggal tersebut, bahkan pada detik-detik pembacaan Proklamasi Kemerdekaan. Mungkin cara terbaik untuk dapat menemukan seluruh kekhidmatan peristiwa sejarah tersebut adalah datang ke sana, dan menjadi bagian dari peristiwa tersebut. Tentu tidak perlu mengambil posisi di barisan depan, cukup ada di baris paling belakang. Pada waktu itu, keseluruhan posisi adalah penting, karena Soekarno Hatta, Proklamator, membacakan teks yang merupakan suara bangsa Indonesia. Itulah suara jiwa bangsa.

Satu hari setelah itu, pada tanggal 18 Agustus 1945, dalam suasana dan formasi yang lain, yakni dalam sidang Dokuritsu Junbi Iinkai (Panitia Persiapan Kemerdekaan) atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), ditetapkan suatu dokumen, merupakan naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Adapun teks lengkap:

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bebas Dari.

Apakah inti sari pokok dari penjajahan? Sebagai bangsa, kita tidak perlu mencari penjelasan di luar teks yang ada. Kalimat pertama bangsa di alam kemerdekaan adalah sebuah postulat universal, hasil susunan bangsa Indonesia sendiri, yakni bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Jelaslah, bagi bangsa Indonesia, penjajahan adalah segala tindak-tanduk, perilaku atau seluruh perbuatan, yang melawan atau bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Penjajahan dapat dikatakan pula sebagai perbuatan menyerang kemanusiaan dan keadilan. Secara tekstual, dapat dikatakan bahwa selama masih ada serangan pada perikemanusiaan dan perikeadilan, maka selama itu pula penjajahan masih ada, apapun bentuknya.

Kemerdekaan dengan demikian merupakan keadaan bebas dari penjajahan. Kemerdekaan dikatakan sebagai hak segala bangsa. Sebagai sebuah bangsa, bangsa Indonesia punya hak yang melekat pada diri, suatu hak kodrati, yakni hak bebas dari segala bentuk tindakan yang menyerang kemanusiaan dan keadilan. Artinya, sebagai bangsa, bangsa Indonesia, punya hak yang tidak dapat dirampas oleh siapapun, suatu hak untuk dapat menggunakan seluruh potensi kebangsaan yang dimilikinya, untuk dapat tumbuh dan berkembang, sebagai bangsa merdeka.

Kalau pun ada yang bertanya, mengapa demikian? Amanat Presiden RI pada peringatan 17 Agustus 1959, memberikan pernyataan yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut, yakni:

Rakyat di mana-mana di bawah kolong langit ini, tidak mau ditindas oleh bangsa lain, tidak mau dieksploitir oleh golongan-golongan apapun, meskipun golongan itu adalah dari bangsanya sendiri.

Rakyat di mana-mana di bawah kolong langit ini menuntut kebebasan dari kemiskinan, dan kebebasan dari rasa-takut, baik yang karena ancaman di dalam negeri, maupun yang karena ancaman dari luar negeri.

Rakyat di mana-mana di bawah kolong langit ini menuntut kebebasan untuk menggerakkan secara konstruktif iapunya aktivitas-sosial, untuk mempertinggi kebahagiaan individu dan kebahagiaan masyarakat.

Kemerdekaan dengan demikian merupakan jalan keluar kodrati, agar sebagai bangsa, bangsa Indonesia dapat terbebas dari segala belenggu yang membuatnya tidak dapat berdiri tegak sebagai bangsa dengan kepribadian yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Bebas Untuk.

Apakah bebas dari adalah puncak pencapaian bangsa Indonesia? Tentu tidak. Apa arti bebas dari jika tidak dapat melakukan apa-apa. Apa arti bebas dari, jika tidak membuat bangsa memiliki kemampuan untuk menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya. Apa arti bebas dari, jika kehidupan rakyat tidak beranjak dari keadaan ketika ia ada di bawah kekuasaan kolonial? Apa artinya bebas dari jika dalam segala seginya rakyat masih diliputi rasa takut, kemiskinan, kebodohan dan semua ciri yang hendak dihapusnya, sebagai tanda bahwa dirinya telah merdeka?

Oleh sebab itulah kemerdekaan tidak berarti tunggal, melainkan bermakna ganda, yakni bebas dari dan bebas untuk. Artinya, sebagai bangsa dihadapan bangsa-bangsa lain di dunia, bangsa Indonesia harus memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang, sesuai dengan cita-cita luhurnya. Bangsa Indonesia secara kodrati, punya hak yang melekat pada dirinya, suatu kebisaan untuk melakukan sesuatu yang dianggapnya penting bagi dirinya. Tidak ada pihak yang boleh membatasi atau menghalang-halangi bangsa Indonesia untuk mencapai apa yang diinginkannya.

Di abad informasi, atau di abad teknologi informasi dan komunikasi seperti sekarang ini, tantangan bagi terwujudnya kemerdekaan yang penuh (bebas dari dan bebas untuk) bisa datang dari dua arah, yakni luar dan dalam. Proklamasi 17 Agustus 1945, telah dengan nyata membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu (bebas dari). Selama 75 tahun ini, sebagai bangsa kita berupa untuk mengisi kemerdekaan, dan karena itulah dibutuhkan ruang kesempatan dan kebisaan untuk melakukan sesuatu. Ketika hendak membentuk negara, telah dengan jelas bahwa negara yang hendak dibentuk bangsa adalah negara dengan kebisaan tertentu, yakni: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Jika tantangan dari luar dapat dikatakan tidak ada, maka mungkin saatnya memeriksa dengan seksama, apakah ada tantangan dari dalam yang membuat bangsa tidak cukup kemampuan bebas untuk. Dalam kaitan itulah, kita memandang sains (dan teknologi). Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng, Wakil Presiden RI ke 7 dan Presiden RI ke 3, dalam sebuah pidato kebangsaan di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agustus 2017, mengatakan: “Ilmu pengetahuan menjadi modal penting untuk membuat suatu bangsa dan negara maju. Dengan ilmu, kualitas sumber daya manusia jadi terbarukan, lebih inovatif, dan produktif.” Artinya, sebagai bangsa, kita memiliki keharusan kodrati untuk mengambil apa yang dibutuhkan agar hak bebas untuk dapat diwujudkan sebagai tenaga sejarah guna mengubah tata hidup, sehingga sepenuhnya warga hidup dalam tata nasional, yang dalam keseluruhan merupakan bentuk nyata dari Pembukaan UUD 1945. Penguasaan sains dan seluruh “produk” sains, dapat menjadi semacam petunjuk, untuk melihat apakah kita sebagai sebuah bangsa telah beranjak kemampuannya, ataukah sebenarnya kita masih dalam ketergantungan, yang membuat langkah bangsa tidak pernah bisa tegak, terutama ketika harus membela kepentingan nasional dan kepentingan warga.

Berkhidmat Pada Sains.

Pengalaman selama menghadapi Pandemi Global, telah memberikan pelajaran yang sangat berharga, terutama dalam kaitannya dengan tempat sains dalam mengatasi masalah-masalah yang dialami warga. Pandemi memberi kesaksian tentang bagaimana masalah dihadapi, dengan dasar apa suatu keputusan diambil, dan bagaimana warga menyesuaikan diri dengan apa yang seharusnya dilakukan.

Apa yang nampak adalah suatu kesadaran bahwa masalah Pandemi Global, hanya dapat diatasi dengan mengandalkan pengetahuan dan informasi yang berasal dari sains (dalam hal ini dari epidemiologi dan virologi). Memang ada yang menentang atau tidak setuju, namun hal tersebut bukan merupakan arus utama. Apa yang nampak adalah suatu kepatuhan publik untuk menjalankan apa yang disebut sebagai protokol kesehatan Covid-19, yang didasarkan pada pengetahuan sains. Publik pada umumnya, menjalankan keharusan untuk menjaga jarak fisik, memakai masker di arena publik dan mencuci tangan dengan sabun. Walaupun di sana-sini ada kejadian kerumunan, sebagaimana yang tampak dari liputan media, tetapi secara keseluruhan kepatuhan tersebut berjalan secara baik.

Dalam konteks inilah kita memandang baik adanya sebuah seminar daring yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI), dengan tema Hari Kebangkitan Nasional: Berkhidmat pada Sains. Inisiatif para dokter, mengingatkan kita semua pada sejarah kebangkitan nasional yang erat kaitannya dengan dunia kedokteran. Para dokter di masa itu, bukan saja mampu mendiagnosa penyakit yang dialami pasien, tetapi juga mampu memeriksa penyakit yang dialami bangsa, sehingga bangsa hidup dalam kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.

Dengan mengambil momentum hari kebangkitan Nasional dan mengambil tema sains, para dokter seperti tengah mengajukan proposal kepada bangsa – mengapa kita tidak menempatkan sains sebagai garis depan pembangunan bangsa? Atau, sebagaimana dikatakan oleh mantan Direktur Eijkman, Sangkot Marzuki dalam pertemuan tersebut bahwa Indonesia perlu menjadikan ilmu pengetahuan atau sains sebagai panglima. Barangkali pertanyaan yang perlu diajukan bukan, apakah hal tersebut dimungkinkan, melainkan bagaimana memungkinkan hal tersebut?

Dalam kaitan itulah tidak berlebihan jika peringatan 75 Tahun Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 2020, dapat diusulkan untuk membawa tema Sains Dan Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Apa artinya? Tentu bukan sekedar menyematkan tema pada peringatan 17 Agustus, tetapi suatu harapan agar sains mendapatkan tempat di garis depan dalam pembangunan bangsa, sebagaimana yang tampak pada diskusi para dokter pada 20 Mei yang lalu. Dengan tema tersebut, masyarakat atau publik luas didorong untuk mengembangkan dialog, diskusi dan berbagai bentuk eksplorasi gagasan, ujung yang hendak dituju adalah: Pertama, digunakannya sains dalam seluruh aktivitas pembangunan. Kedua, dikembangkan suatu metode berpikir bangsa, yang didasarkan pada metode ilmu. Ketiga, diupayakan kemungkinannya untuk memasukkan sains ke dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Demikian.

(Visited 141 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 7 Juni 2020
Close