Sambutan Dewan Pembina Yayasan Dalam Seminar Nasional Kaderisasi Kepemimpinan Indonesia

Khamim ketua dewan pembina yayasan abdurrahman baswedan
Dari situ pula kita dapat memeriksa bagaimana kepemimpinan bekerja di lapangan ilmu pengetahuan, sedemikian sehingga ilmu menjadi alat warga, alat bangsa, dalam mengubah kehidupannya...

Yayasan Abdurrahman Baswedan bekerjasama dengan Universitas Ahmad Dahlan menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Kaderisasi Kepemimpinan Indonesia, di Ruang Amphitarium, Lantai 9, Kampus 4, Universitas Ahmad Dahlan, Sabtu, 28 September 2019. Hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DEA., DAA (Dekan Fakultas Peternakan UGM), Prof. Suyata, Ph.D (Guru Besar Universitas Ahmad Dahlan) dan Prof. Dr. Ni’matul Huda, SH., M.Hum (Guru Besar Universitas Islam Indonesia) serta Dr. Tutik Hartanti, S.Pd., M.Pd sebagai moderator. Berikut merupakan sambutan Dr. Khamim Zarkasih Putro, M.Si Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan dalam seminar tersebut:


Sambutan Ketua Dewan Pembina
Yayasan Abdurrahman Baswedan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena hanya dengan perkenannya kita dapat berkumpul di tempat ini, dalam keadaan sehat dan terus dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi perbaikan negeri. Hari-hari ini, sebagai bangsa kita dalam prihatin dan berduka. Semoga bangsa senantiasa dalam perlindungan Allah SWT, dan dimudahkan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.

Tema seminar hari ini, merupakan agenda bangsa yang sangat penting. Mengapa demikian? Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, dengan sangat jelas menyatakan:

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Sedari awal, sebelum kemerdekaan diucapkan dan menjadi garis pembatas antara tata kolonial dan tata nasional, para pendiri negara, dengan penuh kesadaran, suatu kehidupan baru, yang sepenuh-penuhnya berdasarkan atas prinsip kemanusiaan dan keadilan.

Apa artinya? Yakni bahwa bangsa Indonesia, ingin (berdasarkan keinginan luhur), suatu kehidupan baru, yang berbeda dengan kehidupan dalam penjajahan, suatu kehidupan merdeka dan karena itulah dibutuhkan kemampuan bangsa untuk mengatur diri, dengan penuh rasa tanggung jawab pada dirinya. Di sinilah sebenarnya dasar-dasar kepemimpinan diletakkan dan seharusnya melandaskan diri.

Dengan lensa tersebut, bagi kita, kepemimpinan bukanlah konsep kerdil, yang hanya diartikan di dalam kerangka politik praktis, melainkan suatu konsepsi yang luas dan dalam. Suatu konsepsi yang menjangkau seluruh sendi kehidupan bangsa. Suatu konsepsi tentang bagaimana bangsa mengurus dirinya dan bertanggung jawab atas masa depannya.

Dari situ pula kita dapat memeriksa bagaimana kepemimpinan bekerja di lapangan ilmu pengetahuan, sedemikian sehingga ilmu menjadi alat warga, alat bangsa, dalam mengubah kehidupannya, menjadi lebih nyaman dan mulia; bagaimana kepemimpinan bekerja di lapangan ekonomi, atau bisnis, untuk memastikan bahwa pencarian rejeki duniawi, tidak membenarkan tindakan yang justru merusak dan menimbulkan ketidakadilan; bagaimana kepemimpinan bekerja di kalangan masyarakat, komunitas atau bahkan unit terkecil, yakni keluarga; dan seterusnya.

Tentu ada banyak segi kehidupan yang dapat diperiksa, dan dipersoalkan apakah kepemimpinan sebagaimana yang dibayangkan ketika kemerdekaan hendak diumumkan kepada dunia, benar-benar hadir ataukah sebaliknya. Harapan kita adalah bahwa dengan pemeriksaan yang teliti dan jujur, akan dapat membawa kita ke dalam suatu kesadaran bersama tentang pentingnya bangsa segera merumuskan suatu konsepsi kepemimpinan Indonesia dan darisana dilahirkan konsepsi “pola dasar kaderisasi kepemimpinan Indonesia”.

Kepemimpinan Indonesia merupakan konsepsi yang hendak dimajukan dalam mimbar akademik ini, tentu dengan maksud untuk dapat dikaji secara ilmiah dan pada gilirannya dirumuskan gambar besarnya. Kalau kita menyebut Kepemimpinan Indonesia, maka hal tersebut dimaksudkan untuk mengundang pemikiran dan imajinasi tentang suatu model kepemimpinan yang bersifat atau berciri Indonesia. Secara cepat-cepat, terlintas suatu model dimana kepemimpinan mengekspresikan nilai-nilai yang termuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila.

Demikian. Kita berharap mimbar akademik ini, mampu sampai kepada harapan. Sudah tentu bukan suatu rumusan baku, melainkan bahan-bahan bermutu, yang nantinya akan dikaji kembali dalam forum akademik berikutnya, dengan arah didapatkannya, suatu konsepsi yang lebih komprehensif, yang menggambarkan Kepemimpinan Indonesia, dan dari sana dapat dijadikan bahan bagi dijalankannya program Sekolah Kepemimpinan Indonesia. Semoga Allah SWT meridhoi langkah ini. Aamiin YRA.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Dr. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close