Ditulis oleh 7:20 am KALAM

Seberapa Pentingkah Peran Ibu dalam Mendidik Anak (Tulisan 1)

Keberhasilan pendidikan anak sangat ditentukan oleh sentuhan tangan ibu.

Ibu merupakan madarasah pertama  (Al -Ummu madrasah Al-ula) dan Ibu adalah ustadzah pertama, guru pertama bagi anak-anaknya sebelum si kecil berguru kepada ustadz besar sekalipun. Maka kecerdasan, keuletan, dan perangai sang ibu adalah faktor dominan bagi masa depan anak, ibu memiliki peran begitu besar dalam menentukan masa depan si kecil.

Ibu, dengan kasih sayangnya yang tulus, merupakan tambatan hati bagi si kecil dalam menapaki masa depannya. Di sisinya lah si kecil mendapatkan kehangatan. Senyuman dan belaian tangan ibu akan mengobarkan semangatnya. Jari-jemari lembut yang senantiasa menengadah ke langit, teriring doa yang tulus dan deraian air mata bagi si buah hati, ada kunci kesuksesannya di hari esok.

Peranan Ibu dalam pendidikan anak memiliki pengaruh yang sangat penting terutama pada awal-awal masa balita. Keberhasilan pendidikan anak sangat ditentukan oleh sentuhan tangan ibu meskipun keikutsertaan ayah tidak dapat diabaikan begitu saja karena keluarga menjadi lingkungan sosial terpenting bagi perkembangan dan pembentukan pribadi anak serta menjadi wadah awal tempat bimbingan dan latihan anak dalam kehidupan mereka.

Pada dasarnya kebutuhan seseorang meliputi kebutuhan fisik, psikhis, sosial dan spiritual. Kebutuhan fisik mencakupi kebutuhan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan lainnya. Kebutuhan psikhis meliputi kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman, diterima, dan dihargai. Sementara itu kebutuhan sosial seperti bermain dengan teman akan diperoleh anak dari kelompok di luar lingkungan keluarganya.

Sejak anak lahir dari rahim seorang ibu, ibulah yang banyak mewarnai dan mempengaruhi perkembangan pribadi, perilaku, dan akhlak anak. Sejak saat itu, ia akan selalu melihat dan mengamati gerak-gerik atau tingkah laku ibunya. Berdasarkan tingkah laku ibunya itulah anak akan senantiasa meniru, kemudian menerapkan dalam kehidupannya.

Ada beberapa peran ibu yang harus dijalani oleh seorang ibu dalam keluarga, yaitu

  1. Ibu Ibaratnya Sebagai Manajer Yang Harus Bisa Mengatur Semua Urusan Rumah Tangga
  2. Ibu Ibaratnya Sebagai Guru Yang Harus Bisa Mendidik Anak-Anaknya Agar Bisa Cerdas Dan Berkepribadian Baik.
  3. Ibu Ibaratnya Sebagai Koki Yang Harus Bisa Kreatif Dalam Menyajikan Makanan Untuk Disantap Keluarga
  4. Ibu Ibaratnya Sebagai Perawat Yang Harus Bisa Merawat Anak-Anaknya Sejak Mereka Masih Bayi
  5. Ibu Ibaratnya Sebagai Akuntan Yang Harus Bisa Mengelola Keuangan Keluarga Agar Tidak Besar Pasak Daripada Tiang
  6. Ibu Ibaratnya Sebagai Dokter Yang Harus Bisa Menjaga Kesehatan Semua Anggota Keluarga

Betapa banyaknya peran ibu di dalam sebuah keluarga namun begitu masih ditemukan ibu-ibu  yang belum sepenuhnya mampu melaksanakan peran tersebut dengan baik,sehingga diperlukan pengertian dan kerjasama dengan suaminya. Agar supaya mampu memerankan peran tersebut , tips2 dibawah ini dapat membantu ibu-ibu  walaupun tidak semua bisa dilakukan.

Adapun Tips yang dapat dilakukan oleh ibu untuk dapat memerankan peran tersebut,

1. Hubungan
Bantu anak-anak membuat hubungan yang kuat dengan setidaknya satu orang dewasa yang peduli selain orangtua.

2. Pengendalian
Ada banyak keputusan penting yang dapat dibuat anak di setiap tahap perkembangannya. Dorong anak Anda untuk membuat keputusan dan mengalami konsekuensi tanpa gangguan Anda.

3.Harapan
Mengharapkan anak Anda untuk melakukan yang terbaik. Jangan biarkan anak lupa bahwa ada orang-orang yang sangat peduli tentang seberapa baik dia lakukan.

4.Identitas
Cari peluang bagi anak Anda untuk menunjukkan pada orang lain apa yang membuatnya unik.

5.Keselamatan & Support
Manfaatkan waktu makan malam untuk mendekatkan diri dengan anak Anda dan berbagi sesuatu yang penting tentang kehidupan Anda. Kemudian mintalah dia untuk berbagi sesuatu yang penting tentang dirinya dengan Anda.

6. Kontribusi
Bantu anak Anda menemukan cara untuk membuat kontribusi untuk komunitasnya.

7. Milik
Membantu anak untuk merasa dicintai dan dihargai untuk menjadi bagian dari keluarga Anda. Menjadi anggota aktif dari sebuah keluarga akan menumbuhkan rasa memiliki.

8. Budaya
Bantulah anak Anda mengetahui tentang akar budaya keluarganya. Bantu  anak Anda mengembangkan rasa bangga akan kampung halamannya.

9. Penerimaan
Dorong anak Anda untuk tidak terlalu keras pada dirinya sendiri ketika dia merasa gagal. Membantu anak Anda menemukan cara untuk meningkatkan diri. Ingatkan dia bahwa setiap orang adalah pribadi yang unik, dan itulah yang membuat teman-teman dan keluarga mencintainya.

10. Keadilan Sosial
Ajari anak Anda cara membela hak-haknya. Jika ada pertempuran, anak Anda bisa memperjuangkan dirinya sendiri. Latih ia tentang bagaimana cara berdebat dengan santun untuk memperjuangkan hak-haknya atau hak orang lain.

11.Reward ketekunan
Berilah pengakuan atas apa yang anak Anda lakukan, terlepas dari hasilnya.          Berikan pujian ketika mereka tidak menyerah menyelesaikan sesuatu yang berat.

12.Cari win-win solution
Ajari anak Anda untuk berbicara dan menemukan. Hal ini akan menjadi keterampilah hidup yang sangat berharga.

13. Selalu berlatih
Bantulah anak Anda untuk memahami bahwa tidak ada hal yang bisa dicapai dalam waktu semalam. Semangati anak Anda ketika mereka harus mengulang sesuatu yang membosankan.

14. Tawarkan dukungan
Dia membutuhkan bantuan Anda untuk melalui ketakutannya, atau akan mulai menyerap area lain dari hidupnya, dan Anda akan menemukan semangatnya terkadang menyusut dari mencoba hal-hal baru. Ketika itu terjadi, cobalah ubah peran dan biarkan dia menjadi guru sementara Anda siswanya

15. Jadilah contoh ketekunan
Tunjukkan kepada anak Anda bagaimana seseorang bisa menguasai sesuatu meski terkadang ia bergerak melalui kemunduran untuk melakukannya. Bicara tentang perasaan Anda saat Anda gagal melakukan hal yang membuat Anda berhasil saat ini.

16. Ajarkan anak Anda untuk mengambil istirahat
Ajari ia mengenali suasana hati dan kondisi fisik dan mentalnya. Hal ini berguna untuk menghindari frustasi di masa depan

Anak adalah amanah dan titipan dari Allah SWT yang harus kita jaga. Mendidiknya merupakan suatu kewajiban BUKAN pilihan. Rasulullah saw bersabda:

Didiklah anakmu dan baguskanlah akhlaqnya, dengan mengajarkan mereka olah jiwa, dan memperbaiki akhlaq.” (HR. ad-Dailami)

Rumah adalah sekolah pertama sebelum anak mengenyam pendidikan di luar rumah dimana anak belajar pada ayah dan ibunya. Tidak banyak yang beranggapan ketika anak sudah bersekolah maka sekolah yang bertanggung jawab atas pendidikannya. Padahal peran ibu tidak dapat tergantikan oleh siapapun. Ibu memiliki peran lebih dari sekolah yaitu membangun kecerdasan emosional anak bahkan membangun kecerdasan spiritual anak.

Untuk mendukung proses pembelajaran anak di rumah maka orang tua perlu menciptakan situasi rumah yang menyenangkan, suportif dan kondusif untuk belajar.  Sehingga anak merasakan rumah sebagai tempat yang nyaman, aman dan penuh kasih sayang bagi mereka, bukan sebagai tempat yang menyeramkan dan membosankan sehingga anak lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka diluar dan lebih merasa nyaman berada di sekitar lingkungan teman-temannya daripada orangtuanya sendiri.

Ibu merupakan seorang figur yang akan menjadi contoh bagi anak-anaknya. Perilaku orang tua, terutama ibu, akan ditiru yang kemudian akan menjadi panduan perilaku sang anak. Dengan kedekatan fisik dan emosionalnya dengan anak-anaknya yang sudah terjalin secara alamiah dari sejak mengandung, ibu akan menjadi faktor utama yang akan menentukan kepribadian dan karakter anaknya. Oleh sebab itu, hendaknya orang tua harus memberikan kasih sayang kepada anaknya dan menjadi contoh yang positif bagi anak-anaknya dengan menunjukkan akhlak yang mulia dan menjadi perisai bagi anaknya dari pengaruh lingkungan yang buruk.

Ibu merupakan seorang figur yang akan menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Bila anak kehilangan figur seorang ibu, maka ia akan mengalami deprivasi maternal (perampasan kasih sayang ibu). Hal ini akan menyebabkan terjadinya gangguan attachment disorder (gangguan kedisiplinan) atau Failure to Thrive (kegagalan pertumbuhan kejiwaan). Akibatnya, sang anak menjadi murung, tidak ceria, putus asa dan kehilangan motivasi hidup.

Kondisi deprivasi maternal beresiko mengalami gangguan perkembangan mental intelektual dan emosional. Terkadang ketika dewasa akan anak kelak akan memperlihatkan perilaku penyimpangan, anti sosial, bahkan kriminal.

(Visited 610 times, 8 visits today)
Tag: , Last modified: 9 Mei 2020
Close