Sejarah Kabupaten Banyumas

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pemandangan ibukota Banyumas memang indah. Tata kota Purwokerto dibuat sesuai dengan standard arsitektur Mataram. Empat hal pokok yang pasti diatur, yakni pendapa kabupaten, pasar, alun-alun dan Masjid Agung.

C. Kanjeng Ratu Wiratsari Mengantar Kejayaan Kabupaten Banyumas

Prestasi Kabupaten Banyumas semakin cemerlang. Di mana mana nama Banyumas selalu jadi buah bibir. Publik dibuat terkagum-kagum pada hasil pembangunan segala bidang. Popularitas Banyumas sungguh moncer. Kemajuan kabupaten Banyumas tak lepas dari peran Kanjeng Ratu Wiratsari. Sinuwun Sri Susuhunan Amangkurat Agung, raja kraton Mataram keempat yang memerintah tahun 1645 – 1677.

Siapa Kanjeng Ratu Wiratsari yang menjadi garwa prameswari Sinuwun Amangkurat Agung? Beliau adalah cicit Joko Tingkir. Ayahnya seorang Bupati Pengging, Pangeran Radin. Orang lebih mengenal dengan nama Pangeran Kajor. Beliau tuan tanah. Tanah Kajoran berada di mana-mana. Singkat kata Ratu Wiratsari keturunan orang kaya. Apalagi semasa hidupnya di Banyumanik Semarang, Kanjeng Ratu Wiratsari punya bisnis, gamping, kayu jati, mebel, minyak tanah, perahu, pelayaran dan pelabuhan. Pada jamannya beliau pengusaha besar.

Tumenggung Yudanegara IV adalah Bupati Banyumas. Dia keturunan Ki Ageng Wonosobo. Masih kemenakan Kanjeng Ratu Wiratsari. Lagi pula pada masa kecilnya Tumenggung Yudanegara diasuh oleh permaisuri Sinuwun Amangkurat Agung. Beliau seperti anak sendiri. Atas perintah Ratu Wiratsari, Bupati Banyumas membangun pesanggrahan Puja Retna di Batu Raden, kaki gunung Slamet. Vila mewah ini kerap digunakan oleh pejabat Mataram. Bahkan Sri Susuhunan Amangkurat Agung pernah menginap di pesanggrahan Puja Retna.

Rintisan peristirahatan di vila Puja Retna ini menjadi cikal bakal terbentuknya kawasan wisata Batu Raden. Lambat laun wisata Batu Raden terkenal sebagai tempat wisata pegunungan yang indah permai. Kanan kiri pesanggrahan Puja Retna ditanami teh, kopi, cengkeh, manggis, pepaya dan pisang. Taman wisata Batu Raden menjadi tempat menerima tamu saat berkunjung ke kabupaten Banyumas.

Selalu ibu negara Kraton Mataram, Kanjeng Ratu Wiratsari memajukan perdagangan. Dibangun pasar di Ajibarang, Wangon dan Bumiayu. Pasar ini dibangun pada tahun 1659.

Ratu Wiratsari mendirikan kantor di desa Lesmana Ajibarang Banyumas. Kantor darma wanita cabang Mataram ini multiguna. Pendapa dibangun dengan ruangan yang luas. Pelataran dibuat asri indah. Orang pun kerap bermain sekedar melepas lelah. Pendapa ini dilengkapi gamelan pelog slendro. Muda mudi berlatih seni, karawitan, pedalangan dan tari. Tiap malem Kamis Pahing bertepatan dengan wiyosan Kanjeng Ratu Wiratsari, para siswa seni ini diberi kesempatan untuk pentas. Suguhan mbanyu mili. Tentu semua merasa senang.

Bidang pertanian tidak lepas dari perhatian kanjeng Ratu Wiratsari. Pengairan diurus sebaik-baiknya. Kali Serayu diatur alirannya. Kanjeng Raden Tumenggung Tirtanagara adalah menteri pengairan Kraton Mataram. Selama tiga tahun ditugaskan untuk menata daerah aliran sungai Serayu. Bendungan banyak dibangun sebagai sarana irigasi pertanian yang meliputi daerah Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Pada tahun 1657 Sinuwun Amangkurat Agung meresmikan tata pengairan di Banyumas.

Gagasan untuk kesejahteraan terus digalakkan. Setiap bendungan ada budi daya perikanan. Tawes, kakap, nila, mujahir, lele, udang dipelihara dengan metode perikanan yang maju. Kanjeng Ratu Wiratsari memberi bantuan nyata. Tenaga ahli didatangkan dari negeri Tamasek Singapura. Hasilnya meningkat, kemakmuran berlipat ganda. Bahkan hasil perikanan Serayu Banyumas diekspor ke Timur Tengah, Asia Selatan dan Asia Timur.

Adhuh segere banyune ing sendhang ilang kesele wis mari le mriyang banyune bening nyegerake ati kudu sing eling mring tindak kang suci.

Tembang Serayu khas Banyumasan tersebut populer di tengah masyarakat. Sebagai tanda ungkapan bersyukur.

Bagi masyarakat kabupaten Banyumas Sri Susuhunan Amangkurat Agung dan Kanjeng Ratu Wiratsari adalah pahlawan besar. Beliau berdua mewariskan jasa yang patut dikenang sepanjang masa. Pada tanggal 10 Juli 1677 Sri Susuhunan Amangkurat Agung wafat di Lesmana Ajibarang Banyumas. Jenazahnya dimakamkan di daerah Pakuncen Tegal Arum Adiwerna Tegal.

D. Keagungan Purwokerto Sebagai Ibukota Kabupaten Banyumas

Kompleks perkantoran kabupaten Banyumas berada di kota Purwokerto. Nama Purwakerto diabadikan oleh Kanjeng Ratu Wiratsari pada tahun 1659. Kesadaran historis perlu dikembangkan Daerah Banyukerto tetap dilestarikan dalam bentuk pemekaran morfologis. Kata majemuka Banyukerto lebih diperluas makna semantis, yaitu Banyumas dan Purwokerto. Banyumas berarti air emas. Lambang kejayaan, keemasan, kemakmuran. Purwokerto berarti asal mula berkarya, bekerja, berproduksi. Lambang kerja keras, perjuangan dan usaha mandiri. Kewibawaan, kawidadan, kamulyan lan karaharjan menyertai masyarakat kabupaten Banyumas yang beribukota di Purwokerto.

Pembangunan pendapa kabupaten Banyumas disertai dengan ritual dengan sesaji yang khusus. Soko guru atau tiang utama pendapa Kabupaten Banyumas terbuat dari kayu jati pilihan. Sengaja diambilkan kayu jati dari alas Donoloyo Wonogiri. Alas Donoloyo terkenal sebagai tempat wingit gawat kaliwat-liwat. Penebangan kayu jati Donoloyo melalui prosesi ritual dan sesaji yang lengkap. Ratu Wiratsari mengerti betul adat istiadat yang diajarkan oleh leluhur.

Rombongan penebang kayu ini disertai pula sesepuh yang memimpin tata cara wilujengan. Lantas diadakan pentas tayuban lengkap dengan seniman wiyaga dan waranggana. Wilujengan dan tayuban merupakan syarat wajib dalam prosesi penebangan kayu jati Donoloyo. Pendapa Kabupaten Banyumas tampak menyinarkan aura kewibawaan.

Dr. Purwadi SS, M.Hum

Dr. Purwadi SS, M.Hum

Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA

Terbaru

Ikuti