Sejarah Kabupaten Banyumas

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pemandangan ibukota Banyumas memang indah. Tata kota Purwokerto dibuat sesuai dengan standard arsitektur Mataram. Empat hal pokok yang pasti diatur, yakni pendapa kabupaten, pasar, alun-alun dan Masjid Agung.

Pemandangan ibukota Banyumas memang indah. Tata kota Purwokerto dibuat sesuai dengan standard arsitektur Mataram. Empat hal pokok yang pasti diatur, yakni pendapa kabupaten, pasar, alun-alun dan Masjid Agung.

Pendapa Kabupaten Banyumas di Purwokerto berbentuk joglo limasan. Ruang tengah dilengkapi dengan bagian pringgitan. Bagian belakang terdapat gadri kembar. Rerumputan, tanaman hias dan pepohonan ditata rapi. Mirip dengan taman Maerakaca. Atas saran Kanjeng Ratu Wiratsari, pendapa Kabupaten Banyumas terbuka untuk umum. Para seniman berprestasi diberi kesempatan unjuk kebolehan di ruang pendapa. Tumenggung Martayuda II beruntung sekali saat menjadi bupati.

Pembangunan kompleks perkantoran Bupati Banyumas di Purwakerto melibatkan juru ukir dari Sukodono, Tahunan, Jepara. Mereka adalah juru ukir ternama yang pernah mengabdi kepada Kanjeng Ratu Kalinyamat.

Sedangkan pondasi bangunan dikerjakan oleh ahli semen gamping dari Tuban. Sementara untuk penerangan dikerjakan oleh personil dari Cepu. Semua ahli bangunan itu didatangkan oleh Kanjeng Ratu Wiratsari atas biaya sendiri. Maklum beliau memiliki sumber finansial yang berlimpah ruah. Usaha bisnis Ratu Wiratsari sedang lancar-lancarnya. Jarak antar pusat daerah dibuat 30 km dari wilayah Cilacap, Kebumen, Banjarnegara dan Bumiayu. Tata kota yang ideal.

Alun-alun digunakan sebagai ruang publik. Siang malam orang berkunjung. Pedagang mainan, minuman dan makanan selalu beruntung. Tapi semua berjalan tertib, karena warga terlatih untuk taat aturan. Alun-alun benar-benar tempat yang regeng dan nggayeng.

Sebelahnya dibangun Masjid Agung lengkap dengan bedug Isworogomo yang legendaris. Bedug Isworogomo ini hadiah dari Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak Bintara.

Pasar sebagai pusat ekonomi masyarakat ditata dengan jadwal yang ketat. Pasar induk dijadwal pada Rabu Pon. Setiap lima hari sekali pasar itu beroperasi. Tujuannya untuk pemerataan penghasilan. Jarak antar pasar rata-rata 5 km. Ada pasar Wage, pasar Kliwon, pasar Legi, pasar Paing. Penjadwalan ini menjadi tradisi unik di Tanah Jawa.

Untuk menghidupkan roda ekonomi, Kanjeng Ratu Wiratsari membina kelompok pengrajin batik dari Gumelem Susukan Banjarnegara. Letaknya di lereng gunung Giri Larangan. Kerajinan batik Gumelem memperlancar arus perdagangan di Kabupaten Banyumas. Hadirnya pasar, sawah, kerajinan, perkebunan dan perdagangan ini mengantarkan Banyumas sebagai kabupaten yang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Janturan tentang situasi yang ideal ini bisa menjadi kegiatan pada masa sekarang.

E. Seni Edi Peni Budaya Adi Luhung Gagrag Banyumasan

Seni edi peni berhubungan dengan aspek keindahan atau estetika. Budaya adi luhung berhubungan dengan nilai filosofis atau keluhuran Kanjeng Ratu Wiratsari, permaisuri Sinuwun Amangkurat Agung betul-betul memberi keseimbangan dalam unsur cerita – rasa – karsa – karya.

Kreativitas Kanjeng Ratu Wiratsari mendapat dukungan penuh dari kerajaan Mataram.

Seperangkat gamelan pelog slendro dibawa dari Bekonang Sukoharjo. Sinuwun Amangkurat Agung menamakan Gamelan Kyai Harjomanis. Artinya gamelan yang memberi suasana sejahtera bahagia buat seluruh warga Banyumas. Pertama kali gamelan ditabuh dengan gendhing Ganda Mastuti laras pelog pathet nem. Tujuannya agar sekalian pembesar dan penduduk mendapatkan keselamatan lahir batin.

Gendhing Ganda Mastuti yang ditabuh dengan mat-matan mengalun pelan. Iringannya meliputi gender, rebab, gambang, suling, kendhang bem, kendhang ketipung, kethuk, kenong, kempul. Suara gamelan pelan, tetapi nyaring melantunkan puja-puji.

Tumenggung Martayuda II selaku Bupati Banyumas seolah-olah mendapat energi positif. Memang gendhing Ganda Mastuti memuat renungan. Cakupan atau syair diambil dari tembang kinanthi pethikan serat Nitisruti karya Pangeran Karanggayam.

Pagelaran ini pernah dilakukan dengan megah. Pada malam pahargyan yang digelar pada tanggal 5 September 1663, juga dipentaskan budaya Tirta Kencana. Tirta berarti banyu kencana berarti emas. Bedaya Tirta Kencana karya Sinuwun Amangkurat Agung ini dipersembahkan buat kawula dasih kabupaten Banyumas. Sebegitu dalam rasa cinta Sinuwun Amangkurat Agung pada masyarakat Banyumas. Sudah selayaknya gamelan Kyai Harjomanis dan Bedaya Tirta Kencana dilestarikan sebagai pusaka kabupaten.

Malam berikutnya digelar wayang purwa dengan lakon Begawan Ciptowening. Lakon ini bercerita tentang perjuangan hidup yang mengutamakan konsep pemikiran dan kebersihan hati. Teladannya adalah Raden Arjuna, sang satria agung, lelananging jagad. Arjuna berhasil memberantas satru murka berkat kepandaian dan kerelaan. Dalam pentas ini Sinuwun Amangkurat Agung secara simbolik memberi pelajaran tentang budi pekerti luhur. Sura dira Jayaningrat lebur dening pangastuti.

Pada awal pagelaran wayang purwa, Sinuwun Amangkurat Agung paring dhawuh kepada wiyaga dan waranggana. Masyarakat Banyumas punya keahlian nderes kelapa untuk dijadikan gula. Oleh karena itu adanya istilah gula klapa berasal dari Banyumas. Gula berwarna merah, kelapa berwarna putih. Bendera gula klapa merujuk pada warna merah putih.

Adegan kedhatonan diisi dengan lagu-lagu sigrak gumyak. Sudah barang tentu lagunya berkaitan dengan sistem produksi kabupaten Banyumas dan sekitarnya. Berkumandanglah gendhing ricik-ricik Banyumas, Puji, Srepeg Banyumas, Gunung Slamet dan Gula Klapa. Masing-masing gendhing ini mempunyai nilai etis filosofis yang tinggi. Syairnya memuat tuntunan tontonan dan tatanan.

Jasa besar Sri Susuhunan Amangkurat Agung dan garwa prameswari Kanjeng Ratu Wiratsari harus dilestarikan. Keduanya merupakan priyayi luhur yang mewariskan keutamaan, kemuliaan dan keteladanan. Sri Susuhunan Amangkurat Agung adalah raja Mataram yang menjunjung tinggi prinsip ambeg adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Sedang Kanjeng Ratu Wiratsari merupakan mustikane putri tetunggule widadari. Sedang Raden Tumenggung Martayuda II adalah Bupati sembada wirotama. Masyarakat Banyumas labuh labet Sinuwun Amangkurat Agung dan Kanjeng Ratu Wiratsari dengan tinta emas.

Kabupaten Banyumas punya sejarah yang panjang. Kekayaan alam yang siap diolah bisa membuat kemakmuran. Budaya adi luhung menyebabkan masyarakat hidup guyub rukun. Seni edi peni memperlancar jiwa segar. Sejarah budaya, seni dan lingkungan di kabupaten Banyumas siap menyongsong masa depan yang lebih cemerlang.

(17 Mei 2020)

Dr. Purwadi SS, M.Hum

Dr. Purwadi SS, M.Hum

Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA

Terbaru

Ikuti